SEMARANG (SUARABARU.ID) – Kanker masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia. Yang memprihatinkan, banyak pasien baru datang ke rumah sakit ketika kondisi sudah memasuki stadium lanjut. Padahal, tubuh sebenarnya sering memberi tanda sejak awal, hanya saja kerap dianggap keluhan biasa.
Data Global Cancer Observatory (Globocan) menunjukkan jumlah kasus kanker di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Pada perempuan, kanker payudara masih menjadi jenis kanker terbanyak, disusul kanker serviks.
Kementerian Kesehatan RI mencatat sebagian besar pasien kanker di Indonesia datang untuk berobat saat stadium lanjut, sehingga peluang kesembuhan menjadi lebih kecil dan biaya pengobatan jauh lebih besar.
Fenomena itu dibahas dalam Live Instagram “Ngobrol Asyik tentang Sinyal Kanker Sejak Dini” di akun Instagram Unlimited Talks pada Senin 25 Mei 2026.
Hadir dua narasumber yakni Dr. dr. Eko Adhi Pangarsa, SpPD-KHOM, FINASIM, dokter spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi onkologi medik sekaligus Ketua Yayasan Kanker Indonesia Jawa Tengah yang praktik di RS Kariadi dan RS Elizabeth Semarang, serta Dr. Irwin Lamtota, MKed(OG), SpOG, dokter spesialis kandungan yang praktik di KRMT Wongsonegoro, RSUD Sultan Fatah Demak dan Charlie Hospital Demak.
Dokter Eko mengatakan, salah satu masalah terbesar dalam penanganan kanker adalah masyarakat sering tidak menyadari gejala awal.
“Kadang kanker datang melalui hal-hal sederhana yang dianggap sepele. Misalnya ada benjolan kecil, berat badan turun tanpa sebab, nafsu makan menurun, menstruasi berubah, atau kencing berdarah. Karena dianggap biasa, akhirnya pemeriksaan sering terlambat,” ujar dokter Eko.
Menurut data Kementerian Kesehatan, angka kematian akibat kanker di Indonesia masih tinggi karena banyak kasus ditemukan dalam kondisi stadium lanjut. Padahal pada banyak jenis kanker, peluang kesembuhan jauh lebih besar jika ditemukan lebih awal.
Dokter Eko menyebut, masyarakat Indonesia masih memiliki ketakutan besar untuk memeriksakan diri karena khawatir mengetahui hasil diagnosis.
“Banyak orang merasa selama masih bisa bekerja dan beraktivitas berarti masih sehat. Mereka takut kalau diperiksa nanti ketahuan sakit dan harus menjalani operasi, kemoterapi, atau pengobatan panjang,” katanya.
Padahal, tidak semua keluhan berarti kanker. Namun ketika tubuh menunjukkan perubahan yang tidak biasa, pemeriksaan medis tetap penting dilakukan.
Ia mencontohkan kanker kandung kemih yang terkadang hanya ditandai dengan keluhan kencing berdarah. Gejala itu sering dianggap infeksi saluran kemih atau batu biasa sehingga pasien terlambat mendapatkan pemeriksaan lanjutan.
“Yang penting jangan takut periksa dulu. Belum tentu kanker, tapi kalau memang ada masalah bisa ditemukan lebih awal,” tambah dokter Eko.













