KOTA MUNGKID
(SUARABARU.ID) –
Ratusan umat Buddha dari sejumlah negara melakukan doa bersama bagi keselamatan dunia. Dilakukan di Taman Aksobya, tepatnya di depan Candi Borobudur, hari ini Kamis (28 Mei 2026).
Acara bernama: Nyingma Monlam Chenmo itu dipimpin
Dungzin Garab Rinpoche, asal Bhutan. Dimulai sekitar pukul 08.34.
Ketua Panitia, Lama Rama Santoso Lim, menjelaskan, kegiatan itu dilaksankan oleh
Majelis Muni atau Majelis Agama Buddha Tantrayana Indonesia. Setiap tahun setelah masa Covid-19 melakukan doa aspirasi agung untuk perdamaian dunia dan NKRI. Ini merupakan tahun keempat.
Maksud dan tujuannya adalah ingin mendoakan dunia, agar selalu damai dan sejahtera. “Termasuk semua masyarakat dan rakyat NKRI,” jelasnya.
Kecuali doa aspirasi agung, juga dilakukan harapan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Adapun rangkaian acaranya, hari pertama dimulai dengan upacara
Nyingma Monlam. Hari kedua adalah Krodikali Feast of Ring atau ritual pemberkatan agung dan persembahan suci dalam tradisi Buddhisme Vajrayana.
Pada tanggal 29 Mei 2026 malam hari dengan Larung Pelita Purnama Sidi di Sungai Progo.
Kemudian 30 Mei pagi akan melakukan Merti Karuna Bumi.
“Itu semua sudah ada dalam adat istiadat Jawa, kami kombinasikan dengan ajaran agama Buddha. Kami berkolaborasi untuk melakukan upacara-upacara tersebut,” jelasnya.
Selanjutnya, kata dia, pada tanggal 30 Mei malam dilakukan Borobudur Peace on Prosperity. Kemudian tanggal 31 Mei akan bergabung dengan Walubi melakukan upacara Waisak Nasional 2026.
Dia menandaskan, dalam peringatan Waisak tahun ini mengajak semua umat Buddha, untuk selalu peduli kepada dunia. “Tapi lebih penting peduli kepada lingkungan kita terlebih dahulu.
Lingkungan terkecil, mulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat kita terlebih dahulu. Setelah mendoakan untuk lingkungan, juga membuat doa ekspresi yang besar untuk perdamaian yang lebih besar, yaitu untuk dunia,” tandasnya.

Ketika ditanya tentang berapa negara yang terlibat dalam kegiatan tersebut, menurut dia, sebenarnya panitia sudah menyediakan tempat untuk 500 sampai 700 orang peserta dari berbagai negara. Tapi karena terkendala terjadinya perang antara Amerika, Israel, dan Iran, akhirnya ada beberapa puluh orang yang membatalkan hadir.
“Padahal mereka sudah mendaftar dan sudah konfirmasi akan hadir, tetapi penerbangan yang tidak memungkinkan,” tuturnya.
Umat Buddha yang hadir hari ini berasal dari Singapura, Malaysia, Vietnam, Hong Kong, Taiwan
Jepang dan China. Juga umat Buddhis dari Eropa, yaitu dari Portugal, Perancis, dan Bulgaria. Selain itu ada yang dari benua Australia dan beberapa orang perwakilan dari Amerika.
“Tahun ini berkurang sekitar 400-an sekian. Sebenarnya kami menyediakan tempat 500 sampai 700. Tapi berhubung ada kendala perang, akhirnya banyak yang batal,” jelasnya.
Begitu juga dari domestik Indonesia. Sebetulnya pihaknya mengundang umat dari Medan, Pekanbaru, Jambi. Termasuk dari Bali, Jawa, dan dari Sulawesi. Ada beberapa yang membatalkan karena kendala penerbangan mereka.
Dijelaskan juga, kegiatan hari ini akan ditutup dengan
keliling candi. Itu juga untuk mendoakan perdamaian dunia.
Termasuk mendoakan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan.
“Penyelenggara kegiatan ini dari
Sangha Tantrayana Vajrayana. Panitia mengundang sangha-sangha dari majelis-majelis lain,” kata Lama Rama Santoso Lim.
Pemimpin doa hari ini,
Dungzin Garab Rinpoche, asal Bhutan, dalam acara tersebut sempat menguraikan
arti dan makna Nyingma Monlam. Disebutkan, itu merupakan kultur tradisi Dharma dari Tibet. Merupakan salah satu aliran besar dari Tibet.
Nying artinya yang lebih tua, Ma artinya penganutnya. Jadi setelah adanya ajaran Buddha masuk ke Tibet, setelah itu ada aliran lainnya. Monlam merupakan aspirasi atau tradisi paling tua di Tibet. “Monlam adalah aspirasi yang agung,” jelasnya.
Eko Priyono













