SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Proses pembuatannnya tanpa dipanggang (garang), juga tidak menyertakan asam atau asem (Tamarindus indica). Tapi kuliner berbahan ayam yang dimasak dengan bungkus daun pisang ini, populer dinamakan Garang Asem dan diyakini dapat menjadi sarana penyembuh sakit Cangkrangan.
Sebagai makanan khas Jawa, keberadaan Garang Asem dituliskan dalam referensi buku kuno Serat Centhini. Makanan tradisional Jawa Tengah ini, tercatat dalam naskah klasik tersebut, sebagai salah satu hidangan istimewa yang disajikan dalam perjamuan.
Di dalam Serat Centhini, khususnya pada Pupuh Dhandanggula, Jilid III, Garang Asem disebut bersama hidangan tradisional lainnya seperti Bongko dan Pelas. Hal ini membuktikan bahwa kuliner bercita rasa asam, pedas dan gurih ini, telah menjadi bagian dari kekayaan budaya dan tradisi boga masyarakat Jawa sejak berabad-abad lalu.
Penulisan Serat Centhini diprakarsai oleh KGPAA Amangkunagara (kemudian hari bertahta sebagai Sunan Pakubuwana V). Penyusunan mahakarya ini, dikerjakan oleh tiga pujangga keraton Surakarta, yaitu Ki Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Tumenggung Sastranegara (RNg. Yasadipura II) dan Ki Ngabehi Sastradipura.
Gagasan penulisan kitab ensiklopedia kebudayaan Jawa ini, dimulai pada Tahun 1814 dan selesai pada Tahun 1823. Serat Centhini juga disebut Suluk Tambanglaras atau Suluk Tambangraras-Amongraga dan menjadi contoh karya sastra Kesusastraan Jawa Baru, yang menghimpun segala macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa. Tujuannya, supaya tidak punah dan tetap terlestarikan sepanjang waktu.
Serat Centhini menjadi refleksi dalam melihat kebudayaan masyarakat Jawa dari isi tekstualitasnya, yang disampaikan dalam bentuk tembang atau suluk. Penulisannya dikelompokkan menurut jenis lagunya.
Serat Centhini digubah atas kehendak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom di Surakarta, putra Sunan Paku Buwana (PB) IV, yang kemudian bertakhta sebagai Sunan PB V.
Sangkala Serat Centhini berbunyi paksa suci sabda ji yang berarti Tahun 1742 (Jawa) atau Tahun 1814 Masehi.
Penyembuh
Garang Asem adalah makanan tradisional khas yang berasal dari Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Tapi, kini Garang Asem populer di Kabupaten Kudus dan juga di berbagai Kota/Kabupaten di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Seperti di Solo, Sragen, Wonogiri, Semarang, Magelang, Demak, Kudus, Pati dan Pekalongan serta sejumlah Kabupaten di DIY.
Generasi sepuh (tua), menjadikan Garang Asem tidak sekadar lauk pauk pelengkap untuk makan nasi. Tapi diyakini dapat menjadi obat penyembuh sakit Cangkrangan. Yakni penyakit cacar air (varicella) yang memunculkan infeksi menular akibat virus Varicella-zoster.
Kemunculan penyakit Cangkrangan, ditandai dengan ruam kemerahan berisi cairan yang terasa gatal di sekujur tubuh, demam dan lemas. Virus ini, menyebar dengan sangat mudah melalui udara (bersin/batuk) atau kontak langsung dengan cairan lepuhan.
Para sepuh dari generasi tua, menyatakan, penyakit tersebut dapat disembuhkan dengan mengonsumsi Garang Asem. Kuliner ini, berbahan baku ayam, yang diberikan aneka rempah-rempah sebagai bumbunya. Sebelum dibungkus daun pisang, lebih dulu disertakan santan kelapa sebagai kuahnya. Disertakan pula daun salam, lengkuas (laos), irisan buah tomat (Solanum lycopersicum atau Lycopersicon esculentum) dan belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L).
Bila suka pedas, sertakan lombok atau cabai rawit. Garang Asem, enak untuk lauk makan nasi, apalagi ditambah dengan taburan bawang merah goreng. Tapi Garang Asem sebagai penyembuh penyakit Cangkrangan, kiranya itu masih perlu dilakukan penelitian secara ilmiah. Bisa jadi, ini berkaitan dengan kandungan gizi Garang Asem, yang mampu memperbaiki imunitas, stamina dan ketahanan tubuh penderita, untuk melawan virus Varicella-zoster.(













