blank
Pimpinan Bulog Kanwil Jawa Tengah, Sri Muniati, bersama perangkat TNI, Polri, PPL, hingga surveyor bertandang ke Kelompok Tani (Poktan) Jaya Mulya dalam rangka Monitoring Penugasan Penyerapan GKP Tahun 2026 di Desa Kebolampang, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, Minggu 25 Januari 2026. foto : ist./bulog

PATI (SUARABARU.ID) – Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Jawa Tengah menyatakan komitmen penuh untuk menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional melalui penguatan penyerapan hasil panen petani lokal dan distribusi pangan strategis sepanjang tahun 2026.

Langkah ini diambil guna memastikan ketersediaan pasokan, menjaga stabilitas harga di tingkat produsen, serta menjamin keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat.

Pemimpin Wilayah (Pimwil) Bulog Jateng, Sri Muniati, mengungkapkan bahwa pemerintah memberikan mandat besar kepada Bulog di tahun ini. Secara nasional, target penyerapan gabah/beras dipatok sebesar 4 juta ton setara beras.

“Khusus untuk Kanwil Jawa Tengah yang membawahi 25 kabupaten/kota, kami ditargetkan melakukan pengadaan Dalam Negeri (DN) PSO sebanyak 374.658 ton setara beras. Angka ini mengalami kenaikan signifikan sebesar 32% atau bertambah 90.956 ton dibandingkan target tahun 2025,” ujar Sri Muniati saat kegiatan Monitoring Serapan GKP 2026 di Desa Kebolampang, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, Minggu 25 Januari 2026.

Selain beras, Bulog Jateng juga mendapat mandat penyerapan jagung sebesar 70.000 ton, sebagai bagian dari target nasional sebesar 1 juta ton. Untuk pasar komersial, Bulog pun telah menyiapkan stok beras kualitas premium maupun medium guna memenuhi kebutuhan masyarakat luas.

Tak hanya itu saja, Bulog Jateng juga memiliki strategi untuk menghadapi puncak panen dan tantangan cuaca dimana dalam menghadapi puncak panen yang diprediksi terjadi pada Maret 2026, Bulog Jateng telah menyiapkan strategi komprehensif, terutama dalam mengantisipasi anomali cuaca.

Berdasarkan data BMKG, curah hujan pada akhir Januari hingga awal Februari di Jawa Tengah diprediksi kategori menengah hingga tinggi (101–500 mm), bahkan di wilayah tertentu seperti Pemalang, Tegal, Kendal, Kudus, dan Pati, curah hujan diprediksi sangat tinggi (di atas 500 mm).

“Kami memastikan kesiapan di empat lini utama, yaitu infrastruktur pergudangan yang prima, sarana pengolahan mechanical dryer untuk mengantisipasi kendala pengeringan akibat hujan, optimalisasi Rice Milling Unit (RMU), serta sinergi kemitraan,” jelas Sri Muniati.

Adapun untuk capaian awal tahun dan kekuatan infrastruktur, meski baru memasuki awal musim tanam, Bulog Jateng telah bergerak cepat sejak 12 Januari 2026 dimana per tanggal 24 Januari 2026, realisasi penyerapan Gabah Kering Panen (GKP) telah mencapai 4.090 ton dan beras 1.147 ton dengan total setara beras 3.225 ton.

Selain itu, untuk mengoptimalkan serapan di bulan-bulan mendatang, Bulog Jateng didukung oleh kekuatan infrastruktur yang masif, antara lain 148 Mitra Pengolahan dengan kapasitas pengeringan 6.126 ton/hari, 148 Mitra RMU dengan kapasitas giling 3.463 ton/hari, dan 109 Unit Gudang (Induk, Swasta, dan Jasa Pergudangan) dengan total kapasitas simpan 465.457 ton.

Dirinya menambahkan, keberhasilan target tahun ini tidak lepas dari kolaborasi kuat dengan berbagai pihak. Bulog Jateng menjalin komunikasi intensif dengan jajaran TNI melalui Babinsa untuk pendampingan serapan gabah/beras, serta Polri melalui Bhabinkamtibmas untuk serapan jagung. Sinergi juga dilakukan bersama PPL, mitra pengadaan, surveyor, hingga jasa transportasi.

“Kami optimis dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah, TNI/Polri, serta sektor swasta, target penyerapan tahun ini dapat tercapai demi menjaga kedaulatan pangan di Jawa Tengah,” pungkas Sri Muniati.

Hery Priyono