blank
Ilustrasi. Reka: SB.ID

blankOleh JC Tukiman Tarunasayoga

ASLINYA, kata  butarepan khusus dipergunakan untuk melukiskan komunikasi  suami istri  yang  sedang  kurang  baik-baik adanya.  Mengapa disebut kurang baik? Karena sedang  ada rasa saling  curiga di antara keduanya.

Namun, di zaman sekarang, butarepan rasanya juga cocok untuk  melukiskan politik komunikasi  antarpejabat.  Maksudnya seperti apa? Tidak berlebihan jika dilukiskan betapa para pejabat itu juga sedang dalam “ikatan pernikahan” dengan negerinya. Bersedia menjadi pejabat, bukan saja mereka itu mengawalinya dengan sumpah atau janji; tetapi juga memang seharusnya lalu mengikat diri dengan “pasangannya.” Siapa pasanngannya? Ya negeri tercinta ini.

Apa yang tergambarkan dengan “kasus bandara di  Morowali” kiranya menjelaskan secara sangat jelas betapa, konon kementerian A  sedang curiga atau sekurang-kurangnya mencurigai kementerian B,  padahal  hubungan antarkementerian itu bagaikan (seharusnya) hubungan antara suami istri dalam hal  saling bahu-membahu mencintai negeri ini. Si A berkomentar “bagaimana mungkin ada negara di dalam negara;” namun sertamerta si B (ada juga C atau D??)  berkata yang sebaliknya. “Ada izin, kok.”

Kondisi  sedang butarepan seperti itu membuka peluang lain, lalu ada yang  berkata: “Oh iya,  tidak ada pemasukan berarti  dari  adanya bandara itu, kecil sekali kontribusinya ke negeri.” Lalu mremen-mremen, sampai-sampai ada yang berkata:  “Jangan-jangan bandara  itu milik  bapak  X?”

Butarepan

Kurang lebih sepertiitulah celoteh wong-wong butarepan itu, mirip-mirip atau sama persis pasangan Totok dan Titik manakala sedang dijangkiti  butarepan. Wong butarepan iku, Totok tansah duwe  pandakwa yen bojone, Titik, dhemen karo wong liya. Intinya, Totok mendakwa Titik istrinya saat ini sedang jatuh cintrong dengan seseorang.

Apa saja yang dilakukan Titik, dicurigai, bahkan didakwa pasti akan ketemu dengan dhemenane. Titik ber make-up  biasa-biasa saja dituduh: Menor temen, mau ke mana nih? Atau Titik kelihatan sedang asyik nutul-nutul HP sudah dibengoki:  “kapan siap makannya nih????”

Ada dua unsur dalam butarepan itu, yakni unsur mendakwa atau sekurangnya mencurigai, dan unsur kedua seolah memastikan ada pihak lain yang terlibat di dalamnya. Atas dua unsur itu, hubungan internal  antara Totok dan Titik pasti tidak baik-baik saja. Analoginya, sangatlah mungkin  terkait dengan “kasus bandara  Morowali itu.

Bagaimana membuktikan? 

Dalam hal butarepannya Totok kepada Titik, bagaimana mudah dan segera membuktikan kebenarannya? Pun bagaimana menyelesaikannya? Karena ranahnya rumahtangga Totok-Titik, sudah barang tentu biarlah mereka berdua menyelesaikannya. Apakah pihak ketiga yang dicurigai akan dilibatkan, terserah Totok-Titik.

Dalam hal bandara Morowali, siapa harus menyelesaikannya? Secara internal antarkementerian, rasanya malah akan berlarut karena wong butarepan itu kan masing-masing merasa dalam posisi “benar.” Oleh karena itu, menurut pendapat saya, perlu pihak ketiga untuk segera turun tangan menyelesaikan. Siapa pihak ketiga itu?  Presidenkah? Atau DPR kah?

Kepada antarkementerian yang sedang butarepan, nikmati kisah dari antah-berantah  berikut: Seorang pengembara tidak pernah lelah mengembara ke berbagai belahan dunia. Dan dalam pengembaraan itu, ia banyak kali bertemu dengan apa saja, termasuk bertemu dengan wabah penyakit.

Di suatu kota besar, ia bertemu dengan wabah dan sempat berdiskusi. “Kamu mau mewabah di kota ini, berapa orang targetmu? Wabah itu terkekeh, menjawab: “Tidak muluk-muluk. Cukup lima ribu orang saja menjadi korban, saya sudah  puas.”

Pengembara itu lalu melanjutkan pengembaraannya ke kota besar lain, begitu seterusnya. Dan di sebuah kota besar lainnya, pengembara itu bertemu dengan wabah itu. Langsung pengembara itu protes: “Kamu bohong. Targetmu hanya lima ribu, tetapi dalam kenyataannya, lebih dari dua puluh ribu orang menjadi korban. Tidak adil itu!!”  Wabah terdiam sejenak, baru menjawab: “Teman, jangan marah dulu. Target saya memang hanya lima ribu orang. Ketahuilah, korban lain yang limabelas ribu itu bukan karena aku, melainkan karena ketakutan mereka sendiri  menjadikan dirinya korban.”

Hendaklah antarkementerian yang sedang butarepan berkenan belajar dari cerita itu: Janganlah rasa takut yang saling berkembang di antara Anda, tetapi hadapi dan selesaikan permasalahan (wabah??) dengan tidak takut. Lagi pula semangat Anda harus menyala: Siapa lagi yang menakutkan. Tidak ada yang menakutkan, asal dirimu tidak takut.

JC Tukiman Tarunasayoga, pendidik, pemerhati masalah kebudayaan dan sosial