blank
Ilustrasi. Reka: wied SB.ID

blank

BERAWAL menjalani tradisi olah batin (tapa), secara tidak langsung, seseorang mempersiapkan badan rohaninya untuk “kejatuhan” nur atau cahaya langit. Proses ini berlangsung alami, diminta atau tidak, jiwa yang dibersihkan maka Tuhanlah yang mengatur dimana dia harus hidup dan potensi apa yang akan diterimanya.

Yang pasti, orang yang menjalani olah batin, tentu jauh dari keinginan awal untuk nantinya menjadi paranormal. Contoh tradisi tirakat itu, jika dilihat dari fenomena yang sekarang terjadi, adalah munculnya profesi yang identik dengan dunia supranatural, misalnya layanan jasa paranormal.

Mereka ibarat “tidak sengaja” telah mengasah pisau yang dia sendiri tidak tahu pasti, akan digunakan untuk apa pisau itu. Tirakat ibarat menabung (energi) yang awalnya tidak jelas akan dimanfaatkan untuk kepentingan apa. Proses alamiah ini berbeda dengan mereka yang mengolah batin untuk kepentingan yang sudah diprogam.

Khusus pengasihan, karisma, para pinisepuh Jawa memiliki dua pendapat. Sebagian tidak merestui anaknya mempelajari ilmu itu sebelum dewasa. Sebaliknya, ada yang memilih berpikir positif karena pengasihan itu ilmu yang sesuai tradisi orang Timur yang tidak menyukai konflik terbuka.

Dan pelet dapat dimanfaatkan untuk menang tanpa ngasorake, yaitu menang dengan tanpa menghinakan pihak lain. Karena sifatnya yang meluluhkan hati itu, pelet dapat menjadi sarana menyelesaikan masalah dengan cara yang manusiawi.

Mendengar istilah pelet, asumsi publik akan melayang pada wilayah kegelapan, tentang “memengaruhi” orang lain yang berdampak pada perilaku yang menjadi “tidak wajar”. Antara santet dan pelet bisa dikatakan kakak-beradik. Walau sebagian orang berpendapat, pelet itu sihir kecil (ringan).

Sedangkan sihir besar itu aktivitas magis untuk mencelakai, secara fisik atau mental. Pada umumnya, pelet hanya memengaruhi mental. Tapi, benarkah pelet itu (mutlak) sihir? Nanti dulu. Pelet bersumber dari kekuatan energi yang bisa menjadi kekuatan yang positif atau negatif, tergantung siapa yang menggunakannya.

Posisi pelet seperti itu obat bius. Di tangan orang yang berkompeten memegangnya, dokter, misalnya dalam ukuran yang tepat, menjadi sarana yang membantu sesama dari sisi kemanusiaan. Namun jika bius itu dipegang orang yang tidak berkompeten,  dalam ukuran yang berlebihan, obat itu menjadi alat yang merusak.

Ketika naskah ini dalam persiapan penulisan, salah satu sahabat saya yang guru di sebuah SMK menceritakan, di lembaga pendidikan tempat dia mengajar, pernah dilakukan razia ponsel terhadap siswa di sekolah itu. Dalam operasi itu, tidak ditemukan hal-hal yang tidak baik dalam ponsel siswa.

Namun yang ditemukan itu sejenis jimat dari dalam tas dan dompet beberapa siswa. Bentuknya beragam, ada yang rajah atau tulisan Arab, pusaka kecil, batu akik, dan gulungan rambut panjang (wanita) dan sebagainya.

Saat operasi itu, hal yang lebih mengejutkan itu ditemukan jimat yang diduga sebagai sarana pelet. Benda itu berbentuk boneka wanita yang ditempeli bunga yang diikat kain putih. Hal yang lebih mengejutkan, sebagian dari jimat itu ditemukan dalam tas siswa dari jurusan mesin.

Hal itu menunjukkan, seseorang dengan basic teknologi ternyata tidak menghilangkan sifat asalnya sebagai bangsa timur. Selain jimat milik anak-anak SMK itu, ada kisah lebih tragis yang dialami salah satu politikus dari salah satu partai besar pada masa awal reformasi.

Politikus itu punya gelar berderet dan dikenal sebagai tokoh pendidikan di salah satu provinsi. Namun, saat bertemu dan berkonsultasi dengan saya, terkait jimat yang  dibawanya, yang terjadi justru gelak tawa. Ternyata, dia menyimpan jimat yang disimpan dalam bolpoin dan selalu dibawa ke mana dia pergi.

Benda itu pula yang diyakini ikut terlibat dalam memudahkan urusan politiknya. Setelah saya teliti, jimat itu bagian dari bunga rumput yang banyak tumbuh di pinggir jalan. Sifat alami dari bunga rumput kering itu bisa bergerak ketika kena air.

Politikus yang juga intelektual itu menganggapnya rumput kering itu sebagai kejaiban. Rumput kering itu oleh sebagian orang sering, diekploitasi sebagai “buluh perindu” yang memiliki kekuatan pelet. Dan ketika saya belum paham “rumput bergoyang” itu, saya sempat menjualkan milik teman kepada teman di negeri seberang.

Kebodohan Berjamaah

Ini suatu kebodohan berjamaah, karena yang menjual, perantara, dan pembelinya sama-sama tidak tahu. Saat itu, saya hanya terpana bawaan alami rumput kering yang dapat bergerak ketika terkena air, sekaligus  terpengaruh  “nama besar” buluh perindu yang sering ekspos media yang senang berita keajaiban.

Seiring perkembangan zaman, urusan pelet (ternyata) mulai melebar ke wilayah  politik. Karena itu, tulisan yang mengupas tuntas tentang  pelet.  Terkait halal-haram jika diperdebatkan untuk “rebutan benar” tentu tidak ada selesainya. Karena yang berkaitan pelet itu dipahami secara text book, apalagi buku yang membahas  metafisika pada umumnya referensinya dari buku yang dijual di kios pedagang kaki lima, tentang mantra dan tirakat.

Teknik penyajian pun sering kali vulgar hingga pembaca tidak mendapatkan informasi secara utuh tentang seputar dunia pelet. Sehingga perlu ada buku yang  menyuguhkan informasi pelet secara utuh. Mulai dari sejarah, cara menangkal yang negatif, mendeteksi gejalanya, dsb.

Yaitu membangkitkan karisma yang positif, mengenal benda yang memiliki energi,  dan sarananya dari sisi agama, budaya dan psikologis yang dilengkapi pemotretan dengan foto aura, uji coba dengan tenaga dalam (prana) dan “mata ketiga” yang melibatkan praktisi reiki dan yoga.

Secara umum, pelet dipahami sebagai cara supranatural yang dilakukan melalui laku batin (tirakat) atau memanfaatkan benda-benda yang memiliki kekuatan magis. Bangsa kita mungkin tidak asing lagi dengan istilah pelet. Dan tentunya, setiap daerah mengenal istilah pelet dengan nama berbeda.

Di Jawa ilmu pelet disebut pengasihan atau ilmu asihan, di Sumatra atau di tanah Melayu, ilmu ini disebut pekasih. Tanah Minang, disebut pitunang, di tanah Batak orang menyebutnya dorma. Di Kalimantan Barat, masyarakat mengenalnya kundang, di Kalimantan Timur disebut pitunduk. Bersambung