
Kata Ora itu artinya tidak, sebuah ungkapan penolakan, negasi, bahkan bisa juga berupa penyangkalan, denial; kosok balen, berlawanan. Namun, ora juga dapat bermakna sebuah keharusan, dapat juga bernada saran atau pun kritik. Berbagai arti itu sangat bergantung kepada kata yang menyertai ora. Saat ini kita bicara soal kata “Ora Kainan”.
Kakung: “Bud, wong nyambutgawe ngabdi negara kuwi, kudu sing ngati-ati, ya!!” (Hati-hati ya Bud bekerja mengabdi negara)
Budya: “Inggih, Kung, pangestunipun kemawon.” (siap Eyang Kakung, mohon doa restunya selalu)
Kakung: “Pangkatmu kan sudah tinggi. Risikomu ya semakin tinggi. Aja ora kainan maneh, ya. Ketrucut sakecapan, rungkad uwitmu.” (Hati-hati, salah ucap satu patah kata saja, ambruk pohon kehidupanmu).
Baca juga Ora Ilok
Budya: “Inggih, leres Kung. Kathah kedadosan makaten” (Betul Eyang, ada banyak contoh tentang hal itu.)
Budya, teman-temannya sering memanggil Budi-a, memang saat ini sudah berpangkat. Bagi yang suka iri, silahkan beriri-iri meski tidak akan berdampak apa pun bagi dirimu.
Bagi yang melu mulya karena jabatan Budi-a naik terus jabatannya, ingat saja betapa Anda pun tidak boleh keseleo lidah. Maka gakusah komentari apa pun, yang penting kerja rajin, ada teman korupsi, usahakan kamu tidak ikut.
Kainan
Percakapan Budya dan kakeknya itu terjadi di sela-sela mudik Lebaran kemarin. Kakek menekankan kata-kata “aku wis ora kainan lho ya, nuturi kowe.”
Maksud kakek jelas, mengingatkan, menasihati; apalagi cucu Budya ini kebanggaan keluarga besar. “Rungkad siji, liyane bisa melu kerungkadan,” pohon besar tumbang, tidak mustahil menumbangkan pohon-pohon lainnya.
Kata kainan, berakar pada kata ina; yang artinya (a) nista, asor, hina, rendah; (b) cacad tubuh; serta (c) kurang ngati-ati, teledor, kurang berhati-hati. Arti terakhir inilah yang sangat berkaitan dengan kainan.
Jika seseorang, sebutlah Budya tadi disebut pejabat kang kainan; itu artinya dia menjadi pejabat yang kurang ngati-ati panjagane. Maksudnya, Budi-a kurang berhati-hati, teledor; kurang menjaga diri mungkin terhadap anak buah.
Padahal namanya anak buah itu bermacam-macam; Ada yang tulus bekerja, rajin, jujur; tetapi ada juga yang obah wae wis mikir bisa korupsi ora, iki. Baru mulai merangcang kerja saja, ia sudah mikir di mana celah-celah untuk dapat korupsi.
Baca juga Ora Gantalan
Karena kurang berhati-hati, kainan, maka bila ada kesalahan, penyelewengan anak buah dan lain-lain; orang itu disebut kainan, yakni salah(mu) dhewe. Jadi, wong kainan iku, adalah gambaran orang yang teledor, tidak berhati-hati dan itu terjadi karena kesalahannya sendiri.
Ora kainan
Karena itulah, yangkung tadi mengingatkan Budya sangat-sangat jelas, bahkan menggunakan contoh pohon besar juga. Jadilah orang yang bersikap ora kainan, yaitu berhati-hati dan upayakan jangan membuat kesalahan untuk meruntuhkan dirinya sendiri. Gudhigen utawa gatelen terus akan Anda alami manakala tingkahlakumu kang kainan. Sudah pensiun pun, Glodhogi, mengelupas kulitnya.
Tingkah laku ora kainan, penuh kehati-hatian, sebagaimana diajarkan yangkung kepada Budya, bila diurai lebih rinci dapat mengajarkan beberapa hal ini.
Pertama, bersikap ora kainan itu penting mengingat jabatan itu bagaikan telor di ujung tanduk. Selalu mingklik-mingklik, tidak aman, mudah pula tumbang.
Kedua, jabatan itu mandat rakyat, karena itu substansinya ialah untuk mengabdi kepada rakyat, bukan mengabdi pihak lain mana pun, apalagi mengabdi uang.
Ketiga, jabatan banyak diincar orang, bahkan teman. Atas nama mengingini jabatan, tidak mustahil para serigala mengubah dirinya berbulu domba, bermanis-manis nan lembut-jinak.
Keempat, ora kainan menghindarkan diri Anda dari stress yang biasanya membawa serta gatelen, glodhogi, atau bahkan gudhigen. Ihhhhhhh………njijiki kan?
JC Tukiman Tarunasayoga, Dosen pascasarjana dalam mata kuliah Pengembangan Masyarakat (UNS, Surakarta), dan Filsafat Ilmu (SCU, Semarang)













