Kata Ora itu artinya tidak, sebuah ungkapan penolakan, negasi, bahkan bisa juga berupa penyangkalan, denial; kosok balen, berlawanan. Namun, ora juga dapat bermakna sebuah keharusan, dapat juga bernada saran atau pun kritik. Berbagai arti itu sangat bergantung kepada kata yang menyertai ora.
Saya haqul yakin, pasti Anda merasa asing mendengar kata gantal ini, belum lagi gantalan. Di zaman nenek-nenek kita dulu masih nginang, yakni mengunyah sirih, injet, dan susuran tembakau; kata gantal ini sangat dikenal.
Waktu itu di pasar mana pun pasti ditemui orang berjualan daun sirih mengingat demand-nya tinggi. Dua tiga lembar daun sirih dilinting, yakni digulung dan diikat, dan di dalamnya sudah termasuk ada sedikit kapur putih (disebut injet).
Baca juga Ora Direken
Begitu dibeli, seseorang tinggal ngremus saja gulungan daun sirih itu. Itulah yang disebut satu gantal, sak gantal. Dalam hitungan detik saja, daun sirih itu lalu sudah dikunyah-kunyah simbah, dan berikutnya pasti simbah segera mengoles-oleskan tembakau di mulutnya. Olesan itu sisan menyikat gigi, serta merta simbah akan meludah (maaf, biasanya di sembarang tempat). Air ludah seperti itulah disebut dubang (idu abang- ludah merah), berwarna merah pekat.
Gantalan
Begitu cepatnya proses nginang, mengunyah sak gantal daun sirih, secepat laki-laki menyalakan rokok lalu pas….pus….pas ….pus; nikmattttttt. Betapa mudah dan cepatnya menikmati kenikmatan nginang atau pun merokok. Dan proses yang begitu cepat-nikmat itu disebut sebagai kata kerja gantalan. Lengkapnya, ora gantalan suwe, cepet banget.
Gantalan bermakna nembe wae, antarane wektu; baru saja terjadi. “Kowe minger mau, ora gantalan suwe Paklikmu orang mahkamah di Jakarta datang”. Begitu kamu pamitan tadi, paklikmu orang mahkamah di Jakarta, datang ke sini. Gantalan berarti cepat, seolah-olah secepat membalikkan telapak tangan. Tadi pembicaraan mulus-mulus saja misalnya, ehhhhhh lha kok menit-menit terakhir ada putusan bikin horeg misalnya.
Untuk menyangatkan betapa cepatnya suatu proses atau peristiwa, idiomnya ora gantalan suwe. Bisa juga ora gantalan menit, atau ora gantalan taun kabeh berubah. Itu sekedar contoh untuk menegaskan bahwa tembug ora dalam idiom ora gantalan suwe berarti menyangatkan. Ora di sini tidak berarti bukan atau tidak.
Mengapa tergesa-gesa?
Ora gantalan dapat bermakna juga serba tergesa, termasuk dalam hal berkeputusan atau pengambilan kebijakan. Pagi sampai siang tidak ada awan tidak ada mendung; ehhhh lha kok malam hari bupati menyelenggarakan sertijab sejumlah kepada dinas, misalnya. Dalam nuansa semacam itu, idiom ora gantalan bisa juga dipakai.
Tentu pertanyaannya, mengapa hal setergesa seperti itu terjadi? Alasanya pasti bermacam-macam; ada yang terkait atau menyangkut kerahasiaan jabatan; ada juga karena dianggap sebagai waktu sangat tepat mumpung malem Jumat Kliwon, misalnya. Di antara banyak alasan, satu hal yang pasti melatarbelakanginya ialah memanfaatkan momentum “terbaik.” Ingin segera ada perubahan (besar), seraya bergumam: “Kalau bukan sekarang, kapan lagi; kalau bukan saya, siapa lagi .”
Percakapan jenaka antara Sam dan Bili ini menarik untuk Anda tertawakan atau bahkan renungkan. Sam dan Bili bertetangga, dan tempat tinggal mereka di pinggir jalan raya. Sam memiliki beberapa anjing, dan setiap kali ada truk lewat, anjing-anjing itu mengejar sekencang-kencangnya truk itu, sambal menggonggong. Bili heran, dan suatu sore bertanya kepada Sam: “Apakah kamu yakin anjing-anjing itu berhasil mengejar truk itu?” Sam menjawab: “Saya tidak pernah cemas tentang hal itu, Bili.”
Baca juga Ora Genah
Sam lalu melanjutkan: “Justru yang paling membuat saya cemas, ialah apa yang akan dilakukan oleh anjing-anjing itu bila mereka berhasil “menangkap” truk-truk itu.”
Ajaran moralnya: Ada saja orang yang selalu mengejar sesuatu secara penuh ketergesaan hal-hal yang mungkin tidak akan mereka gunakan, sekali pun mereka itu berhasil mengejarnya.
JC Tukiman Tarunasayoga, pengajar Pengembangan Masyarakat pada Pascasarjana UNS (Surakarta) dan SEU (Semarang)













