Oleh: Doktor dr H Agus Ujianto MSi Med SpB FISQUA
Eksordium: Kosmos, Tubuh, dan Titik Ba
DI bawah mikroskop peradaban modern, manusia kerap memandang dirinya sekadar sebagai tumpukan materi -untaian asam nukleat, reseptor karbohidrat, dan cetak biru genomik- yang mekanistik.
Padahal dalam tradisi sufistik, tubuh manusia adalah mikrokosmos (alam al-shaghir), sebuah pantulan dari jagat raya yang agung (alam al-kabir). Setiap sel yang berdenyut, setiap enzim yang mengkatalisis kehidupan, adalah perwujudan dari kalimat Ilahi yang dituliskan pada lembaran eksistensi biologis.
Sebagai seorang penjelajah anatomi yang sehari-hari memegang skalpel di meja operasi, saya menyaksikan betapa tipisnya batas antara yang fisik dan yang metafisik. Bedah kedokteran modern mengajarkan kita tentang presisi organ.
Namun melalui koridor Studi Islam Kedokteran, kita dibimbing lebih dalam, bahwa apa yang melintasi bibir manusia, apa yang di-ingesti ke dalam tabung pencernaan, tidak sekadar menjelma menjadi ATP (energi) atau gugus fungsional protein, melainkan menjadi penentu suci atau keruhnya tirai (hijab), yang membatasi ruh dengan Sang Khalik.
Di sinilah kita harus membaca ulang meta-narasi keharaman babi (Sus scrofa). Ia bukan sekadar larangan dogmatis teologis yang kaku (ta’abbudi murni), melainkan sebuah manifestasi Maqasid Syariah berskala makro, yang menjaga kesucian cetak biru penciptaan manusia (fitrah), dari kerusakan molekuler dan degradasi spiritual.
Epistemologi Rijs: Ketika Wahyu Menyapa Struktur Seluler
Dalam teks transendental Alquran, Allah SWT tidak hanya melarang daging babi, tetapi memberikan atribusi ontologis yang sangat spesifik, melalui istilah Rijs:
“…Kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi -karena sesungguhnya semua itu adalah kotor (rijs)-…” (QS. Al-An’am [6]: 145)
Secara eksistensial-sufistik, rijs adalah kegelapan maknawi, sebuah entitas yang memicu distorsi frekuensi ruhani. Namun, keajaiban sains biomedis (textbook science) perlahan membuka tabir empiris dari kata rijs ini, pada level biomolekuler.
Babi dan manusia secara ilusi optik genetika, tampak memiliki homologi genom yang tinggi (berkisar 80-85%). Kedekatan ini membuat sebagian ilmuwan terjebak untuk menyamakannya, bahkan menjadikannya model utama transplantasi antar-spesies (xenotransplantasi).
Namun, skalpel biomolekuler mendeteksi adanya batasan batiniah-imunologis yang absolut. Sel babi mengekspresikan Alpha-Gal (Galactose-alpha-1,3-galactose), sebuah epitop karbohidrat yang disintesis oleh gen GGTA1.
Secara teologis, Allah telah menonaktifkan gen ini pada manusia. Ketika makromolekul asing babi ini dipaksakan masuk ke dalam tubuh manusia, terjadilah perang kosmis di tingkat sel: antibodi sirkulasi anti-Alpha-Gal manusia, memicu penolakan hiperakut (hyperacute rejection).
Lebih jauh, babi menyimpan Porcine Endogenous Retroviruses (Pervs), virus purba yang terintegrasi langsung di dalam DNA selulernya. Mengonsumsi atau memasukkan material babi ke dalam tubuh manusia, sama saja dengan mengundang bom waktu genetika, yang mampu melompat antar-spesies, memicu mutasi onkogenik, dan merusak kesucian tatanan DNA manusia yang telah ditiupkan ruh Ilahi di dalamnya.
Resolusi Studi Islam Kedokteran: Melengkapi Narasi Ilmuwan Dunia Lewat Konsep Kanibalisme
Di sinilah Studi Islam Kedokteran mengambil peran krusial, sebagai pisau analisis transendental-empiris. Narasi para ilmuwan terdahulu di dunia barat maupun timur, sering kali berhenti pada kesimpulan evolusioner atau sebatas paparan bahaya medis-patologis (seperti cacing pita atau transfer virus).
Mereka gagal menjawab pertanyaan filosofis-teologis terbesar: Mengapa Allah menciptakan babi dan beberapa binatang haram, dengan kode genetis yang justru sangat mirip dengan manusia?
Sebagai sintesis dari kepakaran Studi Islam Kedokteran, saya menawarkan sebuah jawaban orisinal untuk melengkapi potongan teka-teki (missing link) tersebut: Kemiripan genetis hewan haram dengan manusia diletakkan oleh Sang Pencipta, sebagai pagar peringatan metafisik atas konsep Kanibalisme, baik secara seluler maupun spiritual.
Secara teologis-filosofis, larangan memakan sesama manusia (kanibalisme) adalah fitrah kemanusiaan yang paling mendasar. Mengonsumsi makhluk hidup yang memiliki kedekatan matriks genetik setara manusia (85% homologi), secara esensial memicu fenomena “semi-kanibalisme” di tingkat sel.
Ketika tubuh mengonsumsi protein dari hewan yang kemiripan molekulernya sangat dekat, sistem metabolisme dan imun manusia mengalami disorientasi proteomik. Tubuh mengalami kesulitan mengenali batas antara self (diri sendiri) dan non-self (bukan diri sendiri).
Dalam ranah sufistik dan kedokteran integratif, ingesti hewan dengan kode genetik “semi-manusia” ini, mengonstruksi perilaku ghasab seluler. Secara spiritual, mengonsumsi babi atau binatang haram bertaring, yang secara genetik beririsan dekat dengan reseptor manusia, memiliki resonansi energi yang sama merusaknya dengan kanibalisme spiritual.
Ia merusak orkestrasi kesucian tatanan sel, karena tubuh dipaksa merombak makromolekul yang “terlalu mirip” dengan dirinya sendiri, memicu kekacauan frekuensi ruhani, serta mematikan kepekaan kalbu.
Kemiripan genetis babi bukanlah indikasi bahwa ia suci untuk didekati, melainkan penanda batas absolut dari Allah, agar manusia tidak menjerumuskan dirinya dalam jebakan kanibalisme biologis-spiritual.
Epigenetik Sufi: Jembatan Hifzhun Nafs dan Hifzhul ‘Aql
Bagaimana mungkin makanan fisik memengaruhi kedalaman spiritual dan akal manusia? Jawabannya ada pada jembatan ilmu modern, Epigenetik.
Sains kedokteran mutakhir membuktikan bahwa, urutan DNA kita tidak bersifat statis dalam berekspresi. Lingkungan, tingkat stres hewan saat disembelih, serta molekul mikroRNA (miRNA) dari apa yang kita makan, bertindak sebagai pena yang memberikan catatan kaki, membungkam, atau mengaktifkan gen tertentu tanpa mengubah urutan dasarnya (gene silencing atau activation).
Ketika manusia mengonsumsi babi -hewan yang secara alamiah memiliki profil hormonal yang penuh kecemasan, tidak memiliki rasa cemburu/proteksi (ghirah) terhadap pasangannya, serta menjadi reservoar berbagai patogen laten- terjadi transfer sinyal biomolekuler.
Hormon kortisol yang tinggi dan fragmen miRNA, spesifik dari jaringan non-halal tersebut masuk ke sirkulasi darah manusia, menembus sawar darah otak, dan memodulasi metilasi DNA pada jaringan saraf pusat kita.
Dalam perspektif Maqasid Syariah, fenomena epigenetik dan dampak semi-kanibalisme ini merusak dua pilar eksistensial:
1. Hifzhun Nafs (Perlindungan Jiwa/Fisik): Melalui peradangan kronis tingkat rendah (chronic low-grade inflammation) akibat glikan asing (seperti Neu5Gc) dan beban kerja seluler yang berat, akibat mengurai protein “semi-kanibal”, tubuh manusia mengalami percepatan degenerasi seluler dan penyakit vaskular.
2. Hifzhul ‘Aql (Perlindungan Akal dan Kesadaran): Modulasi genetik dari nutrisi yang buruk (rijs) secara perlahan mengeruhkan kejernihan berpikir, mengikis kepekaan nurani, dan menurunkan frekuensi spiritual manusia. Seseorang yang sel-sel otaknya terus-menerus dibombardir oleh sinyal biomolekuler yang korup, akan kesulitan mencapai maqam Qalbun Salim (hati yang selamat/bersih).
Konklusi Transendental: Menuju Era Biosekuriti Digital Syariah
Studi Islam Kedokteran tidak pernah menolak sains, ia justru melampauinya. Ketika kita membedah keharaman babi dengan pisau analisis yang komprehensif, kita tidak sedang mencari-cari alasan medis, agar Islam tampak logis.
Sebaliknya, kita sedang menyaksikan bagaimana sains bertekuk lutut di hadapan presisi hukum Ilahi. Kemiripan genetik adalah teka-teki biologi yang kuncinya dipegang oleh wahyu, sebuah peringatan agar manusia terhindar dari noda kanibalisme seluler.
Ke depan, di era Kedokteran Digital Integratif (Predigti), tugas kita adalah membangun sistem biosekuriti berbasis digital, kecerdasan buatan (AI), dan big data genomik untuk memantau, mendeteksi, dan memastikan rantai pasok obat-obatan, herbal, dan pangan umat manusia, benar-benar bersih dari kontaminasi materi babi.
Larangan halal-haram adalah batas-batas sakral (hududullah), yang dipasang untuk melindungi harmoni kosmis di dalam tubuh kita. Dengan menjaga kesucian apa yang masuk ke dalam diri pada tingkat molekuler, kita sedang memastikan bahwa mikrokosmos ini tetap menjadi tempat yang layak bagi bersemayamnya cahaya Ma’rifatullah.
Semoga tubuh yang kita bedah, kita obati, dan kita beri makan secara halal ini, kelak kembali menghadap Sang Pencipta dalam keadaan suci, utuh, dan diridhai.
Wallahu a’lam bish-shawab.
— Penulis Ketua Umum PP IKA Unissula / Direktur RSI Sultan Agung Semarang —













