JEPARA (SUARABARU.ID) — Budaya literasi di kalangan pendidik menjadi salah satu perhatian dalam Temu Pendidik Nusantara (TPN) XIII yang berlangsung di SMA Negeri 1 Jepara, Sabtu (4/7/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Wakil Dekan Fakultas Komunikasi dan Desain sekaligus anggota Dewan Pendidikan Jawa Tengah, Khoirul Muslimin, mengajak para guru mulai berkarya melalui tulisan.
Membawakan materi bertajuk “Menulis Pemula, Berkarya Hebat: Panduan Praktis Membangun Karya Tulis dari Nol”, Muslimin menegaskan bahwa kemampuan menulis bukanlah bakat yang dimiliki segelintir orang, melainkan keterampilan yang dapat dipelajari melalui latihan yang konsisten.
“Menulis pemula, berkarya hebat, merupakan panduan praktis membangun karya tulis dari nol. Kuncinya bukan menunggu mahir, tetapi berani memulai dan konsisten berlatih,” ujarnya.
Ia mengingatkan pentingnya mendokumentasikan ilmu melalui tulisan. Menurutnya, pengetahuan yang ditulis akan memiliki manfaat yang lebih panjang dibandingkan hanya disimpan dalam ingatan.
“Ikatlah pengetahuan dengan menulisnya, karena pengetahuan yang ditulis akan tersimpan di atas keterbatasan daya ingat manusia,” katanya.
Dalam paparannya, Khoirul menjelaskan anatomi sebuah buku berdasarkan konsep UNESCO, mulai dari sampul, bagian awal (front matter), isi (text matter), hingga bagian akhir (end matter).
Ia juga memperkenalkan metode ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi) sebagai cara belajar menulis bagi pemula dengan tetap mengedepankan etika pencantuman sumber referensi.
Selain itu, peserta dikenalkan pada metode PREC (Point, Reason, Example, Conclusion) dan SEES (Statement, Explanatory, Example, Summary) sebagai kerangka menyusun tulisan secara runtut dan sistematis.
Menurut Khoirul Muslimin, menulis tidak harus diawali dengan gagasan besar. Pengalaman mengajar, hasil pengamatan di sekolah, maupun aktivitas sehari-hari dapat menjadi bahan artikel, opini, cerpen, bahkan buku.
“Jangan takut tulisan tidak sempurna. Tulisan yang selesai lebih baik daripada ide yang hanya disimpan,“ tuturnya.
Ia juga membagikan struktur penulisan artikel opini yang terdiri atas judul (headline), identitas penulis (byline), teras tulisan (lead), penghubung (neck), isi (body), dan penutup (leg). Struktur tersebut dinilai dapat membantu penulis menyampaikan gagasan secara runtut dan mudah dipahami pembaca.
Menurutnya, guru hendaknya menulis bukan sekadar memenuhi tuntutan administrasi atau kenaikan jabatan, tetapi sebagai bentuk berbagi ilmu kepada masyarakat. Melalui sesi tersebut, para peserta memperoleh motivasi sekaligus bekal teknis untuk mulai menghasilkan karya tulis dan memperkuat budaya literasi di lingkungan pendidikan.
Septiana W













