blank
Ilustrasi ora ilok, saat berkuasa menjadi pejabat menyimpang uang triliunan. Foto: Reka SB.ID

blankMASIH berkait dengan kata “ora”. Kali ini ora ilok. Harap jangan salah baca. Ilok dengan elok berbeda makna, tetapi juga berbeda cara membacanya. Ilok menggunakan fonem vokal i, sedang elok menggunakan fonem e. Yang akan dibahas saat ini adalah ora ilok, bukan ora elok.

Seberapa penting ora ilok dibahas? Ohhhh sangat-sangat, apalagi mengingat akhir-akhir ini adaaaaaaaa saja kejadian atau orang yang bertindak ora ilok, sampai-sampai menjadi sangat-sangat  ora elok.  Mau contohnya? Setelah membaca uraian ini sampai akhir, silahkan Anda membat daftar contoh berbagai Tindakan atau kejadian sing ora ilok.

Ilok

Ada tiga makna ilok. Jika seorang nenek berkata kepada anak cucunya: mBok ilok-ilok mrene, mbahe ditiliki, itu artinya nenek meminta agar anak cucunya kadang-kadang menengoknya. Ilok, apalagi diulang menjadi ilok-ilok, artinya kadang-kadang, bahasa Jawane kala-kala. Jika nenek tadi sampai terucap: “Lha, bocah kuwi ora ilok kok; itu berarti salah satu anaknya hampir tidak pernah datang menjenguk. Ora taune.

Baca juga Ora Gantalan

Makna kedua ilok ialah patut, pantes, becik. Maka, jika seseorang atau sesuatu disebut ora ilok, wahhhhhh gawat nih. Mengapa? Orang itu, atau barang atau kejadiannya ditengarai tidak pantas, tidak layak, tidak baik. Arti lebih tegasnya jelek. Nah………ada kan orang bahkan pejabat yang tindakannya memenuhi kriteria disebut tidak layak, tidak pantas, tidak baik: Jelek?

Diam-diam Anda mengatakan: Banyakkkkkk. Mosok, dumeh pas kuwasa, ada saja orang yang menumpuk uang tunai sampai triliunan? Sekarang ini, numpuk nominal uang dalam jumlah jutaan, ahhh…… kecillllllllllllll, sepele. Bagaimana jika menumpuknya dalam satuan miliar? Yahhhhhh …. itu menengah saja, karena sudah ada sejumlah bukti yang ditumpuk dan bikin semlengeren, jumlahnya bertrilyun-trilyun. Ora ilok kan?

Ora ilok dalam makna kedua ini, di samping menunjukkan betapa tidak pantasnya, juga menunjukkan betapa telah terjadi pelanggaran atas entah peraturan, entah pula undang-udang, atau bahkan konstitusi negara.

Makna ketiga ilok ialah lumrah. Karena itu ora ilok berarti ora lumrah, tidak sewajarnya dilakukan oleh seseorang (pejabat??)  atau terjadi. Contoh menumpuk uang tunai tadi, jelas ora lumrah, dan tidak wajarnya itu sudah sangat mungkin ditengarai sebagai pelanggaran. Jika ditemui ada seorang pegawai, apa pun pangkat atau jabatannya, dan diketahui memiliki rumah telu magrong-magrong susun pitu, memiliki sejumlah rumah mewah: Ahhh jelas ora lumrah itu.

Pintu masuk pemberantasan korupsi sangat “mudah” lewat hal-hal yang ora ilok  seperti ini. Cetha wela-wela, jelas kelihatan.

Baca juga Ora Direken

Dalam sebuah kumpulan tulisan tentang kiasan, seorang India menjelaskan arti hati nurani dengan kiasan tiga ujung segitiga  paku. “Benda segitiga paku ini ada di dalam dadaku.

Ia tetap diam tidak bergerak manakala saya berbuat baik, jujur, sopan, adil. Tetapi jika aku berbiat sebailknya, segitiga paku itu akan bergerak menggelinding. Dan itu sakit sekali.” Untuk beberapa saat ia terdiam, baru kemudian melanjutkan ceriteranya: “Tetapi, ternyata. Bila saya bertindak jahat, korupsi, terus-menerus tidak pantas, tidak wajar, lama kelamaan sudut-sudut paku itu menumpul dan dadaku tidak terasa sakit lagi meski sudut-sudut paku itu berputar-putar.”

Terus menerus ora ilok dilakukan,  menjadikan siapa pun akan kehilangan hati nuraninya.  Apa jadinya hidup tanpa hati nurani?

JC Tukiman Tarunasayoga, pengajar Pengembangan Masyarakat pada Program Pascasarjana UNS (Surakarta) dan SEU (Semarang)