JEPARA (SUARA BARU.ID) – Di tengah derasnya arus globalisasi, masih ada anak muda yang memilih berdiri di garis depan untuk menjaga bahasa, sastra, dan budaya daerah. Sosok itu adalah Amaliyatul Hidayah Rofiq,S.S., perempuan asal Jepara yang berhasil membuktikan bahwa kecintaan terhadap literasi dan budaya dapat mengantarkan seseorang meraih prestasi hingga tingkat internasional.
Perjalanan putri kedua pasangan Aunur Rofiq, S.Pd.I,M.Pd dan Indria Mustika S.Pd, M.Pd ini bukan sekadar kisah tentang penghargaan akademik. Lebih dari itu, ia merupakan gambaran bagaimana seorang pemudi dari daerah mampu membawa identitas budaya lokal ke panggung dunia melalui pendidikan, organisasi, dan pengabdian masyarakat.

Saat ini, Amaliyatul tengah menempuh pendidikan Magister Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Semarang setelah sebelumnya lulus sebagai Wisudawan Terbaik dan Cumlaude dari Program Studi Sastra Inggris Universitas Stikubank (UNISBANK) Semarang dengan IPK 3,82. Kini di sela-sela mengikuti program S-2, ia juga tercatat aktif sebagai guru MTs, Sadamiyyah Guyangan, Jepara.
Kecintaan alumni SDN 2 Mulyoharjo, MTs Negeri Bawu dan MAN 1 Jepara terhadap bahasa dan budaya telah tumbuh sejak usia muda. Ia aktif dalam berbagai kegiatan literasi, seni tari, pelestarian budaya, hingga organisasi kepemudaan. Sejak tahun 2016, Lia juga aktif sebagai aktivis di Yayasan Kartini Indonesia di mana Ibundanya, Indria Mustika menjabat sekretaris umum Karena itu ia sangat mengagumi spirit dan gagasan Kartini yang jauh melampaui jamannya.

Berbagai pengalaman tersebut membentuk karakter kepemimpinan yang kuat dan kemampuan komunikasi yang membawanya dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis, termasuk sebagai Presiden Mahasiswa UNISBANK periode 2024 dan sekaligus menempatkannya sebagai perempuan pertama yang mampu meraih kepercayaan prestisius tersebut.
Prestasi Amaliyatul semakin bersinar ketika mengikuti Program International Summer Semester di Rajamangala University of Technology Krungthep (RMUTK), Thailand, pada November hingga Desember 2024. Dalam program tersebut, ia berhasil meraih sejumlah penghargaan bergengsi, mulai dari Juara 1 Traditional Thematic Costume Competition, Best Student International College, hingga Juara 1 pada berbagai kompetisi akademik dan kewirausahaan.

Menurut Amaliyatul, keberhasilannya di luar negeri bukan hanya tentang kemenangan pribadi, melainkan kesempatan memperkenalkan budaya Indonesia, khususnya Jepara, kepada masyarakat internasional.
“Budaya adalah identitas. Ketika kita berada di luar negeri, kita membawa nama daerah dan bangsa. Karena itu, budaya harus terus dijaga dan diperkenalkan,” ujarnya.

Tidak hanya aktif di dunia akademik, Amaliyatul juga terlibat dalam berbagai organisasi dan kegiatan sosial. Ia tercatat sebagai Sekretaris Ikatan Duta Bahasa Jawa Tengah, Pengurus Keluarga Mahasiswa Jepara Semarang, serta anggota sejumlah komunitas pelestari budaya dan literasi.
Komitmennya terhadap pengembangan generasi muda diwujudkan melalui berbagai kegiatan pelatihan jurnalistik, seminar literasi, motivasi pelajar, hingga revitalisasi bahasa daerah. Sepanatu jang tahun 2024 hingga 2025, ia menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan sekolah, perguruan tinggi, maupun instansi pemerintah di Jawa Tengah.

Baginya, literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga membangun karakter serta cara berpikir kritis masyarakat.
“Literasi adalah jalan untuk membuka wawasan. Semakin banyak generasi muda yang mencintai membaca dan menulis, semakin besar peluang bangsa ini berkembang,” katanya. Literasi bukan sekedar membaca dan menulis, tetapi salah satu jalan membangun kecakapan hidup, tambahnya

Selain aktif mengajar Bahasa Inggris sejak 2021, Amaliyatul juga mengembangkan usaha mandiri di bidang pendidikan dan kreatif. Pengalaman tersebut membuatnya memahami pentingnya kemandirian, inovasi, dan keberanian mengambil peluang di usia muda.
Kemampuannya berkomunikasi dalam berbagai bahasa, seperti Indonesia, Jawa, Inggris, Arab, Korea, Mandarin, dan Thai, menjadi modal penting dalam memperluas jejaring serta memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia internasional.

Di tengah berbagai pencapaian yang telah diraih, Amaliyatul masih menyimpan satu mimpi besar: menjadi profesor di bidang bahasa. Mimpi tersebut menjadi alasan mengapa ia terus belajar, mengajar, dan berbagi pengalaman kepada masyarakat.
Kisah Amaliyatul Hidayah Rofiq menunjukkan bahwa prestasi tidak lahir secara instan. Melalui ketekunan belajar, keberanian berorganisasi, serta kepedulian terhadap budaya dan literasi, seorang pemudi dari Jepara mampu menorehkan jejak inspiratif hingga tingkat internasional.
Ika Putri Aprilia, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam Unisnu Jepara yang Sedang Mengikuti Program Magang di SUARABARU.ID.













