blank
Septiana Wibowo saat menyerahkan buku karyanya yang berjudul Bukan Kartini kepada Ibu Ella Witiarso Utomo. Foto: Hadepe

Oleh : Eky Putri Febriyani

Dunia literasi dan jurnalistik di Jepara memiliki sosok penggerak tangguh yang konsisten berkarya. Septiana Wibowo, seorang penulis, jurnalis, sekaligus pengajar yang tidak lelah mendedikasikan dirinya untuk mendampingi para pengrajin ukir dan menanamkan benih literasi pada generasi muda.

Baginya, menulis bukan sekedar merangkai kata, melainkan instrument perubahan dan rekam jejak sejarah yang abadi. Alumni SMPN 1 Jepara dan SMAN 1 Pecangaan Jepara menunjukkan kecintaannya pada dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar di SD Panggang 9 Jepara. Berawal dari rutinitas mengikuti lomba sinopsis, cerita pendek (cerpen), hingga cerita cekak (cerkak), aktivitas ini perlahan menjadi jalan hidupnya.

blank
Septiana Wibowo saat serahkan buku karyanya kepada Ibu Dandim 0719 Jepara, Ny Enock dan Ibu Wakil Bupati Ny. Inez Ibnu Hajar, Foto: Hadepe

“Menulis adalah kegemaran yang terbiasa saya lakukan sejak di bangku sekolah. Bagi saya sekarang, menulis adalah obat awet muda,” ungkap Septi saat diwawancara di sela-sela kesibukannya.

Menurut perempuan yang pernah menimba ilmu di Fakultas Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muria Kudus ini, kepekaan jurnalistiknya semakin terasah ketika terjun sebagai wartawan di SuaraBaru.id.

Dengan bekal pengalamannya di dunia pers yang berawal dari bergabung di UKM Pena Kampus Universitas Muria Kudus, Septi meyakini bahwa tulisan yang berkualitas harus oservatif, bersandar pada data nyata (5W1H), dan disajikan dengan gaya bahasa yang memikat pembaca.

blank
Septiana Wibowo saat Kelas Bahasa bersama Para Paguyuban Ukir dan Pengukir Jepara di Galeri Wood Carving Jepara.Foto: Hadepe.

Tantangan jurnalistik di Jepara pun tak main-main. Mengutip diskusi bersama Romo Hadi Priyanto dan Sulismanto, Septi memandang isu-isu di Jepara selalu menarik untuk diangkat, terutama karena kekayaan sumber daya alam, budaya  dan objek wisata berskala internasional, seperti Karimunjawa yang telah diakui sebagai cagar biosfer dunia oleh UNESCO.

Sebagai editor beberapa buku terbitan IniIbuBudi Publishing, keseriusannya dalam dunia literasi juga dibuktikan lewat produktivitasnya membuahkan karya.

Perempuan kelahiran Pati 36 tahun lalu ini telah menulis buku kumpulan esai bertajuk “Bukan Kartini” yang diterbitkan oleh Iniibubudi (2025), turut menyumbang naskah dalam Antologi “Puisi Pesisir” (2022), serta menjadi salah satu dari 10 penulis Naskah Lakon Jawa Tengah dengan judul “Jalan Lain” (2026).

Ia juga turut memberikan kontrubsi tulisan dalam buku Mozaik Gagasan Kartini untuk Bangsanya yang ditulis bersama  61 orang pegiat literasi Jepara. Kontributor di Buletin Gandrung Sastra, serta Puisi Menolak Korupsi (PMK). Tulisannya berupa cerpen maupun esai juga telah terbit di beberapa media massa maupun online.

blank
Septiana bersama mahasiswa UMK PBSI saat membuat podcast buku Bukan Kartini. Dok Pribadi

Dedikasi Septiana tidak berhenti di atas kertas. Di luar aktivitas menulisnya, mahasiswi yang kini tengah menempuh Pendidikan di Fakultas Sastra Inggris dan Terjemahan Universitas Terbuka ini juga dikenal sebagai relawan bahasa di Yayasan Pelestari Ukir Jepara.

Setiap hari Minggu, ia meluangkan waktu untuk mengajar percakapan (conversation) bahasa Inggris kepada para pengrajin ukir di Jepara. Tujuannya sangat strategis, tidak lain yaitu untuk membekali para pengukir agar mampu berkomunikasi secara mandiri ketika ada turis asing yang berkunjung ke galeri mereka.

Harapannya, penguasaan bahasa ini dapat memangkas birokrasi perantara, sehingga para pengrajin bisa langsung mengekspor karya mereka ke pasar internasional.

“Saya juga sering mengajak bapak ibu pengrajin untuk memulai menuangkan gagasan mereka lewat caption ataupun video. Ini adalah Langkah awal untuk berani menemukan ide dan melakukan personal branding, terutama karena banyak ibu-ibu pengrajin yang sekarang sudah melek digital dan menjadi creator di Facebook Pro,” tutur perempuan yang pernah aktif di Teater Tigakoma ini.

blank
Septiana Wibowo saat diskusi pendidikan bersama Teaterawan Asa Jatmiko, Guru Penggeran Upik Setyawan dan Budayawan Ramantyan Sarjono. Foto: Dok. Pribadi.

Kecintaannya pada dunia Pendidikan juga disalurkan melalui perannya sebagai Pelatih Jurnalistik di SMAN 1 Pecangaan Jepara dan mengajar menulis cerpen di SDN Panggang 01 Jepara. Selain itu, Septiana juga membuka kelas privat menulis dan aktif mengajar Materi Bahasa Inggris di Bimbel Afabetha.

Baginya, memenangkan sebuah perlombaan bukanlah tujuan utama saat mengajar. Capaian terbesarnya adalah ketika anak-anak didiknya tidak berhenti menulis setelah lomba usai dan selalu berani belajar hal baru.

“Literasi adalah bekal masa depan yang sangat krusial. Kemampuan ini akan sangat mendukung kelangsungan hidup Generasi Z saat mereka dewasa nanti,” tegasnya.

Perjalanan panjang Septiana tentu tak lepas dari dukungan lingkungan sekitarnya. Septiana mengaku kiprahnya banyak dipengaruhi dan dimotivasi oleh keluarga serta tokoh-tokoh guru inspiratif seperti pembina menulisnya saat SD Darsam, Guru Bahasa Inggrisnya Sulistyono Sofyan, dan Romo Hadi Priyanto serta teman-teman menulis yang luar biasa memberikan ruang diskusi dan ilmu.

Terinspirasi oleh semangat emansipasi Kartini, Septiana memegang teguh prinsip bahwa gagasan, yang diwujudkan dalam bentuk tulisan, adalah senjata yang paling tajam.

“Di Jepara, semakin banyak penulis yang lahir, maka akan semakin banyak gagasan hebat yang bermunculan. Tentu saja, itu semua harus berakhir pada perubahan yang nyata,” katanya.

Kini Septiana tengah merajut sebuah mimpi besar. Bersama Yayasan Pelestari Ukir Jepara, Septiana berencana menghidupkan sebuah “Perpustakaan Ukir” di Wood Carving Gallery Jepara.

Langkah ini diyakini menjadi solusi konkret bagi para akademisi maupun praktisi untuk mendalami sejarah, sekaligus melestarikan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI pada tahun 2015 (dengan Nomor Registrasi 201500234 pada domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional).

Dengan semangat belajar sepanjang hidupnya, Septiana Wibowo terus membuktikan bahwa meski profesi pengukir kayu dan merangkai kata tampak berbeda, keduanya mampu bersinergi apik dalam menuliskan  kehidupan demi menjaga warisan budaya Jepara agar tak lekang oleh zaman.

Penulis adalah Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam yang sedang mengikuti Program Magang di SUARABARU.ID