blank
Sekda Jawa Tengah, Sumarno, saat menjelaskan tentang fokus Pembangunan Jawa Tengah 2027 mendatang. Foto: Tya Widya.

GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai mematangkan arah kebijakan pembangunan untuk tahun 2027.

Melalui forum Rembuk Pembangunan Jawa Tengah 2026 yang digelar di Pendapa Kabupaten Grobogan Pemprov Jawa Tengah fokus menyamakan persepsi dengan pemerintah kabupaten/kota setempat.

Hal-hal yang dipersamakan persespsi khususnya dalam mengusung tema pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah.

BACA JUGA : Rembuk Pembangunan Jateng Kedungsapur 2026: Bupati Grobogan Minta Bantuan Provinsi Tangani Banjir Parah dan Kerusakan Jalan

Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan bahwa kegiatan yang berlangsung hari ini bukanlah Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), melainkan forum Rembuk Pembangunan.

“Musrenbang sebenarnya sudah selesai dilaksanakan sebelumnya, dan seluruh usulan dari Kabupaten/Kota telah masuk melalui aplikasi. Acara hari ini tujuannya adalah menyamakan persepsi dengan Kabupaten/Kota mengenai apa saja yang akan kita lakukan pada tahun 2027 mendatang,” ujar Sumarno saat diwawancarai usai acara.

Soroti Kerusakan Lingkungan, Gandeng Tokoh Agama

Sumarno menjelaskan bahwa tema pembangunan tahun 2027 akan berfokus pada Pariwisata dan Ekonomi Syariah, tanpa mengabaikan indikator kinerja utama lainnya.

Lantarsn mengusung konsep pariwisata berkelanjutan, isu ini menjadi sangat bersinggungan dengan kondisi lingkungan hidup.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah mengatasi kerusakan lingkungan yang kian nyata.

BACA JUGA : Pesan Sekda Sumarno di Rembug Pembangunan Jawa Tengah 2026: Jaga Iklim Investasi dan Atasi Kerusakan Lingkungan dengan Pendekatan Agama

Untuk mengatasi hal tersebut, Sekda Jateng mengusulkan sebuah pendekatan inovatif, yakni mengetuk kepedulian masyarakat melalui pendekatan keagamaan.

“Penanganan kerusakan lingkungan itu butuh kepedulian. Selama ini, banyak orang merusak lingkungan karena belum merasakan dampak fisiknya secara langsung. Oleh karena itu, mari kita buka pendekatan dari sisi agama. Merusak lingkungan atau membuang sampah sembarangan itu pada dasarnya mendatangkan dosa, karena menyakiti dan merugikan orang lain yang dampaknya terasa hingga akhirat,” jelas Sumarno.

Guna memasifkan gerakan ini, Sumarno meminta komitmen dari pemerintah kabupaten/kota untuk melibatkan para ulama dan tokoh agama setempat.

Ia berharap pesan-pesan moral terkait menjaga alam dapat disisipkan dalam berbagai forum keagamaan, seperti khotbah Jumat maupun pengajian.

Kolaborasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Di sisi ekonomi, Sumarno memberikan apresiasi kepada sejumlah daerah yang menunjukkan akselerasi pertumbuhan ekonomi yang luar biasa, seperti Kabupaten Kendal dengan Kawasan Industri Kendal (KIK) serta Kabupaten Demak.

Ia mengingatkan bahwa kemajuan Jawa Tengah secara keseluruhan sangat bergantung pada performa masing-masing daerah di bawahnya.

“Pertumbuhan ekonomi provinsi merupakan agregat dari pencapaian Kabupaten/Kota. Oleh karena itu, kolaborasi dan akselerasi di tingkat Kabupaten/Kota menjadi sangat krusial bagi kemajuan Jateng ke depan,” pungkasnya.

TYA WIDYA