blank
Pembukaan Pelajar Mengukir yang diikuti siswa SMP Negeri di Jepara. Foti: Septiana

JEPARA (SUABARU.ID) – Setelah melakukan pelatihan mengukir yang diikuti     359 peserta sejak bulan Desember 2025- Februari 2026, kini Yayasan Pelestari Ukir Jepara kembali membuka Kelas Pelajar Mengukir untuk siswa SMP Negeri di  Kabupaten Jepara, Rabu 1 April 2026. Kegiatan yang berlangsung di Galeri Jepara Wood Carving Pantai Kartini Jepara ini diikuti oleh 19 siswa putra dan putri.

Peserta berasal dari SMPN 1 Donorojo, SMPN 1 Kedung, SMPN 3 Kedung, SMPN Pakis Aji 2  dan SMPN 6 Jepara. Sementara  5 SMP Negeri lain  yang diundang mengikuti pelatihan tidak memberikan respon.

blank
Sutrisno saat memberikan pengetahuan dasar tentang mengukir. Foto: Septiana W

Pelatihan ini dibimbing oleh 4 instruktur, yaitu Sutrisna S,Pd. Wakil Ketua Yayasan Pelestari Ukir Jepara yang juga pensiunan guru ukir SMPN 6 Jepara, Rumini, Muskamah dan Sudarminto.

Rumini adalah juara lomba ukir perempuan tahun 2025, penerima penghargaan pelestari ukir dari Bupati Jepara  tahun 2025 dan penerima anugerah Kartini Award untuk kategori Perempuan Pelestari Ukir Tahun 2025. Ia juga Ketua Paguyuban Pengukir Perempuan R.A. Kartini Jepara.  Sedangkan Muskamah adalah juara 3 Lomba Ukir Kategori Perempuan Tingkat Kabupaten Jepara Tahun 2022.

blank
Rumini saat membimbing peserta pelatihan Pelajar Mengukir. Foto: Septiana W

Saat membuka pelatihan Ketua Umum Yayasan Pelestari Ukir Jepara Hadi Priyanto memberikan apresiasi kepada sekolah yang telah mengirimkan siswanya untuk mengikuti pelatihan. “Ini menunjukkan komitmen sekolah terhadap program pelestarian seni ukir yang menjadi salah satu program unggulan Bapak Bupati Jepara,” ujar Hadi Priyanto

blank
Sudarminto dari Paguyuban Pengukir Sungging Prabangkara tengah membimbing peserta. Foto: Septiana W

Pelestarian seni ukir menurut Hadi perlu dilakukan, sebab seni ukir adalah salah satu kekuatan budaya Jepara yang telah menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang saat ini mulai ditinggalkan oleh anak-anak muda. “Sementara sekolah yang seharusnya menjadi ekosistem pelestarian budaya, termasuk ukir  menghadapi persoalan struktural mulai terbatasnya guru yang memiliki kompetensi, kurikulum yang semakin sempit  hingga sarana dan prasarana,” ujar Hadi Priyanto

blank
Muskamah, juara 3 Lomba Ukir Perempuan tahun 2022 sedang membimbing peserta. Foto: Septiana W

Karena itu Pelatihan Pelajar Mengukir ini adalah salah satu alternatif untuk menumbuhkan minat siswa terhadap seni ukir sebelum sekolah mampu untuk menjadi ekosistem pelestarian budaya ukir.

Ia juga menjelaskan, Pelajar Mengukir yang dilaksanakan secara mandirii oleh Yayasan pelestari Ukir ini memang berbayar. “Untuk  biayanya  kelas Pelajar Mengukir ini Rp. 60.000,-/ peserta. Mereka mendapatkan fasilitas berupa bahan kayu untuk  pelatihan, snack, makan, dan piagam. Disamping itu pahat dan palu juga kita siapkan,” pungkasnya.

Septiana W