blank
Penandatanganan MOU antara Unisnu yang diwakili Wakil Rektor I Unisnu Dr Miftah Arifin dengan Dr. (H.C.) Al Busyra Basnur . Foto: Hadepe

JEPARA (SUARABARU.ID) – Bupati Jepara Witiarso Utomo memberikan apresiasi terhadap Unisnu International Forum,Pethahelic Collaboration For Sustainable Tourism, Creative Art and Industrial Innovation  yang berlangsung di Pendapa R. A. Kartini Jepara,  Senin 30 Maret 2026. Ia menilai forum tersebut  sangat tepat dan kontekstual.

Hal tersebut diungkapkan saat  membuka acara  Unisnu International Forum dalam sambutan tertulisnya yang disampaikan oleh Kabag Pemerintahan Setda Jepara Nuryono. Hadir juga dalam pembukaan Rektor Unisnu Jepara, Ketua Kadin Jepara Andang Wahyu Triyanto, Kepala Dinas Periwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara, tamu undangan, dosen dan mahasiswa Unisnu Jepara.

Sedangkan narasumber adalah Dr. (H.C.) Al Busyra Basnur sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Ethiopia, Djibouti, dan Uni Afrika (2019–2025), Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia–Tiongkok, serta Founder Basnur Academy; dan Dr. Wati Istanti, M.Pd sebagai Ketua APPBIPA Jawa Tengah, Direktur Menara Bahasa, dan Dosen UNNES

blank
Penandatanganan MOU Unisnu dengan mitra. Foto: Hadepe

Menurut Bupati Jepara, pentahelix bukan hanya konsep, tetapi kebutuhan nyata, bagaimana akademisi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan media bersatu dalam satu orkestrasi pembangunan. “Jika kita jabarkan, tema ini menegaskan tiga hal utama, yaitu: pariwisata berkelanjutan, yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menjaga lingkungan dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat; seni dan ekonomi kreatif, sebagai identitas dan kekuatan budaya Jepara; serta inovasi industri, yang menjadi kunci daya saing di tengah disrupsi teknologi global,” urainya.

Ia menilai forum tersebut  sangat tepat dan kontekstual. Pentahelix bukan hanya konsep, tetapi kebutuhan nyata, bagaimana akademisi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan media bersatu dalam satu orkestrasi pembangunan. “Jika kita jabarkan, tema ini menegaskan tiga hal utama, yaitu:  Pariwisata berkelanjutan, yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menjaga lingkungan dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat; Seni dan ekonomi kreatif, sebagai identitas dan kekuatan budaya Jepara; serta  Inovasi industri, yang menjadi kunci daya saing di tengah disrupsi teknologi global.

Forum ini juga dinilai  Bupati Jepara sangat strategis untuk mendukung beberapa prioritas daerah, di antaranya: penguatan konektivitas wilayah melalui infrastruktur yang menunjang pertumbuhan ekonomi; pengembangan ekosistem pendidikan dan inovasi, termasuk riset terapan dan inkubasi bisnis; digitalisasi layanan publik dan ekonomi berbasis teknologi; serta serta  penguatan sektor unggulan seperti pariwisata, UMKM, dan industri kreatif.

blank
Foto bersama Nuryono cdengannarasumber dan Wakil Rektor Unisnu Jepara. Foto: Hadepe

“Kita telah memiliki berbagai program unggulan, seperti desa wisata aktif, UMKM naik kelas, festival ukir, revitalisasi kawasan ekonomi kreatif, hingga desa digital, serta terus memperjuangkan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO,” ujarnya

Ia juga menjelaskan, saat ini Jepara tengah berusaha  mengembangkan Karimunjawa sebagai pilar strategis pariwisata sekaligus pusat industri perikanan dan kelautan, melalui penguatan SDM, tata kelola destinasi, dan perbaikan infrastruktur.

Sementara itu Kepala Internasional Service Aprilia Riyana Putri M.Pd mengungkapkan,  Jepara merupakan daerah yang kaya akan identitas dan potensi. Dikenal secara global melalui seni ukirnya yang luar biasa, Jepara tidak hanya merepresentasikan keterampilan, tetapi juga mencerminkan warisan budaya, kreativitas, dan ketangguhan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

 

Selain itu ia menjelaskan, keindahan alam pesisir Jepara, seperti Karimunjawa, menawarkan peluang besar bagi pengembangan pariwisata berkelanjutan, sementara sektor industri kita terus berkembang dalam merespons tantangan dan peluang global.

 

“Konsep Pentahelix Collaboration memberikan pendekatan yang komprehensif dalam pembangunan berkelanjutan. Setiap pemangku kepentingan memiliki peran penting, yaitu: Pemerintah sebagai regulator dan fasilitator,  Akademisi sebagai pusat pengetahuan dan inovasi,  Industri sebagai penggerak transformasi ekonomi,  Masyarakat sebagai penjaga budaya dan kearifan lokal, serta  media sebagai jembatan menuju keterlibatan yang lebih luas dan visibilitas global.

 

Ia meneskan, UNISNU Jepara berkomitmen untuk menjadi katalis dalam ekosistem ini, yang menghubungkan ide dengan aksi, riset dengan implementasi, serta pendidikan dengan dampak nyata bagi masyarakat dan mahasiswa.

 

“Harapan kami  pariwisata di Jepara  berkembang  secara berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian alam dan memberdayakan masyarakat lokal, seni kreatif berkembang tanpa kehilangan akar budaya,  serta industri berinovasi secara bertanggung jawab demi pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” ungkapnya

Karena itu melalui forum tersebut ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kemitraan lintas sektor,  berbagi wawasan dan ide-ide inovatif, serta  menginisiasi program kolaboratif yang menghasilkan dampak nyata dan berkelanjutan.

Hadepe