blank

 Oleh : Averroes Schuyler Xavier Mohammad Cordovi

Pada rentang tanggal 3–5 Februari 2026, Ma’had Aly Amtsilati Jepara menjadi ruang akademik yang hidup dan sarat makna. Di lembaga pendidikan tinggi keislaman ini, para mahasantri diuji dalam sebuah forum ilmiah tingkat lanjut yang dikenal sebagai al-Muqobalah al-‘Ilmiyyah Asy-Syamilah, sebuah mekanisme evaluasi akademik komprehensif atas kerja tahqiq (verifikasi ilmiah) manuskrip klasik. Manuskrip yang diuji kali ini bukan karya sembarangan, melainkan teks-teks ilmiah peninggalan K.H. Ahmad Fauzan Jepara, seorang ulama, pejuang kemerdekaan, sekaligus tokoh yang dikenal produktif menulis pada masanya.

Kegiatan ini bukan semata ujian akademik, melainkan ikhtiar serius menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam Nusantara. Dalam konteks ini, tahqiq tidak dipahami sekadar sebagai kerja filologis teknis, tetapi sebagai tanggung jawab epistemologis, memastikan teks-teks warisan ulama dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, otentik, dan relevan untuk dibaca lintas generasi.

blank
Beberapa manuskrip karya K.H. Ahmad Fauzan yang di tahqiq.

K.H. Ahmad Fauzan Jepara: Ulama, Umara’, dan Intelektual Produktif

K.H. Ahmad Fauzan merupakan salah satu figur penting dalam sejarah Jepara dan Indonesia. Beliau dikenal sebagai ulama yang memiliki kedalaman ilmu agama, sekaligus tokoh pergerakan yang terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Dalam perjalanan hidupnya, beliau memadukan peran ulama dan umara’, menjadi jembatan antara otoritas moral keagamaan dan kepemimpinan sosial-politik.

Salah satu yang menonjol dari sosok K.H. Ahmad Fauzan adalah produktivitas intelektualnya. Di tengah keterbatasan zaman (rendahnya tingkat literasi masyarakat, minimnya sarana prasarana, hingga sulitnya akses terhadap kertas dan alat tulis) beliau justru melahirkan banyak karya tulis. Semangat menulis ini menunjukkan bahwa tradisi keilmuan tidak selalu lahir dari kelimpahan fasilitas, melainkan dari kedalaman visi dan komitmen terhadap ilmu sebagai amal jariyah.

Lebih dari sepuluh manuskrip karya beliau menjadi objek tahqiq dalam muqobalah kali ini. Di antaranya adalah al-Mir’ah al-Insaniyyah, Tanwir al-Anam, Latha’if al-Minan, Jawahir al-Furqan, Hidayah al-Anam, al-Lu’lu’ wa al-Marjan, Kifayah al-‘Athsyan, Nadzm al-Ummah, Alfiyah al-Ghazali, dan beberapa karya lainnya. Ragam tema dalam kitab-kitab tersebut, mulai dari akidah, akhlak, fiqh, tasawuf, hingga nasihat sosial menunjukkan keluasan wawasan dan kepedulian beliau terhadap problem umat di masanya.

Jepara dan Kontribusi Intelektual Nusantara

Peneguhan terhadap karya K.H. Ahmad Fauzan juga memperkuat narasi bahwa Jepara memiliki kontribusi signifikan dalam sejarah intelektual Nusantara. Selama ini Jepara lebih dikenal melalui figur R.A. Kartini dengan surat-surat emansipatorisnya yang menggema hingga Eropa, atau R.M.P. Sosrokartono, sang poliglot jenius dengan kemampuan diplomasi lintas bangsa dan bahasa. Dunia kedokteran Indonesia mengenal Dr. Cipto Mangunkusumo sebagai pelopor medis modern dan pejuang kebangsaan.

K.H. Ahmad Fauzan melengkapi mosaik tersebut dari jalur keilmuan Islam. Beliau menjadi bukti bahwa Jepara bukan hanya melahirkan pemikir humanis dan ilmuwan modern, tetapi juga ulama produktif yang mengakar pada tradisi Islam klasik sekaligus responsif terhadap realitas sosial dan kebangsaan.

blank
Penguji internal dan eksternal

Amtsilati: Penjaga Tradisi Kitab dan Pusat Gramatika Bahasa Arab

Tidak dapat dilepaskan bahwa pelaksanaan al-Muqobalah al-‘Ilmiyyah Asy-Syamilah di Ma’had Aly Amtsilati berdiri di atas fondasi tradisi pesantren Amtsilati itu sendiri. Pondok Pesantren Amtsilati Bangsri Jepara selama ini dikenal luas sebagai salah satu pesantren yang secara konsisten menjaga tradisi pengkajian kitab kuning dengan penekanan kuat pada penguasaan gramatika bahasa Arab (nahwu dan sharaf) sebagai kunci utama pemahaman teks klasik.

Metode Amtsilati yang masyhur bukan sekadar sistem pembelajaran cepat membaca kitab, melainkan sebuah manhaj pedagogis yang menempatkan struktur bahasa Arab sebagai instrumen epistemologis. Di lingkungan pesantren ini, bahasa Arab tidak diperlakukan sebagai hafalan kaidah semata, tetapi sebagai alat berpikir (thinking tool) dalam membaca, menalar, dan mengkritisi teks. Oleh karena itu, lahir generasi santri yang tidak hanya mampu membaca kitab gundul, tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan pemaknaan teks secara ilmiah.

Tradisi gramatikal inilah yang menjadi modal penting dalam kerja tahqiq manuskrip. Ketelitian dalam membedakan struktur i’rab, variasi redaksi, serta kemungkinan kesalahan naskah tidak mungkin dilakukan tanpa penguasaan mendalam atas bahasa Arab klasik. Dalam konteks ini, Amtsilati bukan hanya pesantren penghafal kaidah, melainkan pusat reproduksi ulama yang memiliki linguistic sensitivity tinggi terhadap teks warisan.

Ponpes Amtsilati Bangsri Jepara dan Ekosistem Keilmuan Berjenjang

Ma’had Aly Amtsilati tidak hadir sebagai institusi yang terpisah dari Pondok Pesantren Amtsilati Bangsri Jepara, melainkan sebagai puncak dari ekosistem keilmuan yang berjenjang. Dari pendidikan dasar kitab di pesantren, penguatan metodologi di marhalah lanjutan, hingga tahap akademik tinggi di Ma’had Aly, seluruh sistem ini dirancang untuk melahirkan kader ulama-peneliti (scholar-‘alim) yang mampu berkontribusi pada khazanah keilmuan Islam.

Peran Pondok Pesantren Amtsilati Bangsri Jepara menjadi sangat strategis karena ia berfungsi sebagai laboratorium tradisi. Di sinilah nilai-nilai adab keilmuan, disiplin sanad, dan kesetiaan pada turats dipupuk sejak dini. Santri dibiasakan dengan kultur talaqqi, musyawarah kitab, serta penghormatan terhadap otoritas ilmiah ulama, sehingga ketika memasuki forum akademik seperti muqobalah, mereka tidak tercerabut dari etos pesantren.

Dengan demikian, al-Muqobalah al-‘Ilmiyyah Asy-Syamilah bukanlah anomali modern, melainkan kelanjutan logis dari tradisi pesantren Amtsilati yang memadukan kedalaman ilmu, ketelitian metodologis, dan kesungguhan spiritual.

Amtsilati dan Regenerasi Ulama Penjaga Turats

Dalam lanskap pendidikan Islam kontemporer yang sering terjebak pada dikotomi antara tradisi dan modernitas, Amtsilati menawarkan model integratif. Penguasaan kitab klasik tidak diposisikan sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai prasyarat intelektual untuk menghadapi problem keumatan mutakhir. Di sinilah relevansi besar Amtsilati sebagai pusat penjagaan turats sekaligus inkubator keilmuan masa depan.

Pelaksanaan tahqiq atas karya-karya K.H. Ahmad Fauzan Jepara memperlihatkan peran nyata Amtsilati dalam regenerasi ulama penjaga manuskrip. Santri dan mahasantri tidak hanya diajak membaca karya ulama, tetapi masuk ke jantung produksi ilmu, memverifikasi teks, menelusuri rujukan, dan mempertanggungjawabkan validitas ilmiah sebuah karya. Ini adalah level keilmuan yang jarang disentuh, bahkan di banyak institusi pendidikan tinggi.

Dalam konteks Nahdlatul Ulama, peran ini menjadi sangat signifikan. Amtsilati melalui pesantren dan Ma’had Aly-nya berkontribusi langsung dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan hanya melalui ceramah dan dakwah, tetapi melalui kerja akademik yang terukur dan diakui.

Muqobalah sebagai Mekanisme Akademik Tingkat Tinggi

Al-Muqobalah al-‘Ilmiyyah Asy-Syamilah merupakan forum ujian ilmiah yang menuntut penguasaan multidisipliner. Para mahasantri tidak hanya diuji pada aspek filologi seperti perbandingan manuskrip, validasi redaksi, dan penelusuran sanad teks tetapi juga pada kemampuan memahami konteks historis, metodologi penulisan pengarang, serta relevansi isi kitab terhadap wacana keislaman kontemporer.

Forum ini diuji oleh tim penguji yang terdiri dari akademisi dan ulama lintas institusi. Dari kalangan eksternal, hadir antara lain Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban (Wakil Sekretaris Jenderal PBNU), K.H. Nor Rohman Fauzan, M.A. (putra K.H. Ahmad Fauzan yang merupakan alumni Timur Tengah dan pernah mengabdi sebagai dosen di Brunei Darussalam) serta Prof. Dr. K.H. Zubaidi, penulis sejumlah karya akademik tentang K.H. Ahmad Fauzan. Selain itu, turut hadir penguji dari Surabaya dan beberapa pusat studi Islam lainnya.

Penguji internal Ma’had Aly Amtsilati berjumlah delapan orang, beberapa di antaranya merupakan alumni Yaman. Komposisi ini memperlihatkan standar akademik yang ketat sekaligus keterhubungan Ma’had Aly dengan jaringan keilmuan internasional.

Yaman dan Penjagaan Tradisi Keilmuan Islam

Keterlibatan beberapa alumni Yaman sebagai penguji memiliki makna simbolik dan epistemologis yang kuat. Yaman sejak berabad-abad dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Islam yang konsisten menjaga tradisi keilmuan klasik. Kota-kota seperti Tarim dan Seiyun menjadi rumah bagi sanad keilmuan yang bersambung hingga generasi salaf, dengan penekanan pada adab, ketelitian ilmiah, dan kesinambungan tradisi.

Model pendidikan di Yaman menempatkan teks klasik sebagai fondasi utama, dengan metode pengajaran berbasis talaqqi, musyawarah ilmiah, dan pengujian lisan yang mendalam. Tradisi ini sejalan dengan semangat tahqiq dan muqobalah yang dilaksanakan di Ma’had Aly Amtsilati Jepara, menjadikannya tidak sekadar adaptasi lokal, tetapi bagian dari arus besar tradisi keilmuan Islam global. 

Merawat Warisan, Menyambung Peradaban

Kegiatan muqobalah ini menegaskan bahwa manuskrip bukan benda mati, melainkan living texts yang terus berinteraksi dengan zaman. Dengan ditahqiq secara ilmiah, karya-karya K.H. Ahmad Fauzan tidak hanya diselamatkan dari kepunahan, tetapi juga diposisikan kembali sebagai rujukan intelektual yang sahih dan kontekstual.

Lebih jauh, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Pesantren pada khususnya dan Nahdlatul Ulama’ pada umumnya untuk merawat tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah melalui jalur akademik yang kredibel. Ia memperlihatkan bahwa pesantren dan Ma’had Aly bukan sekadar lembaga transmisi tradisi, tetapi juga pusat produksi pengetahuan.

Dalam konteks tersebut, al-Muqobalah al-‘Ilmiyyah Asy-Syamilah atas karya K.H. Ahmad Fauzan Jepara bukan hanya peristiwa akademik, melainkan penanda bahwa peradaban dibangun melalui kesetiaan pada ilmu, ketekunan dalam menulis, dan keberanian menjaga warisan di tengah arus perubahan zaman.

Tulisan ini disusun oleh Averroes Schuyler Xavier Mohammad Cordovi, putra asli Jepara. Pengurus Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama’ (LNTNU) PCINU Yaman. LNTNU secara konsisten berfokus pada penerbitan, penerjemahan, penulisan, dan penyebaran gagasan keislaman Ahlussunnah wal Jama’ah, sebagai bagian dari ikhtiar menjaga warisan ulama dan menjawab tantangan zaman dengan ilmu.