blank
Yura Wisqa Firmansyah befoto bersama kedua orang tuanya usai meraih gelar doktor termuda UNS. Foto: Ist

BLORA (SUARABARU.ID) – Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) menggelar Wisuda Periode I Tahun 2026, Sabtu (31/1) lalu. Di antara para wisudawan, satu nama mencuri perhatian: Yura Witsqa Firmansyah. Usianya baru 27 tahun 6 bulan, namun gelar doktor sudah resmi disematkan di belakang namanya.

Bagi UNS, Yura tercatat sebagai lulusan Program Doktor (S3) tercepat dan termuda pada Wisuda Periode I Tahun 2026. Namun bagi keluarganya di Cepu, Blora, momen itu adalah puncak dari perjalanan panjang yang penuh doa, keterbatasan, dan kerja keras.

Anak Sopir dan Pedagang Pasar

Yura lahir pada 14 Mei 1998, bukan dari keluarga akademisi. Ayahnya, Darminto, merupakan pensiunan PNS Kementerian ESDM yang semasa aktif bertugas sebagai sopir dan staf biasa. Ibunya, Masniah, sehari-hari berjualan pakaian di Pasar Cepu.

Tak ada perpustakaan besar di rumah mereka. Tak pula diskusi ilmiah di meja makan. Namun ada satu hal yang tak pernah absen: dukungan orang tua agar anak-anaknya terus sekolah setinggi mungkin.

“Kami bukan keluarga yang berlebihan. Tapi dari kecil Yura memang punya kemauan belajar yang kuat,” ujar Masniah lirih, mengenang perjuangan putranya.

Lulus S3 Kurang dari Tiga Tahun

Di UNS, Yura menempuh Program Doktor Ilmu Lingkungan. Ia menyelesaikan studi hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dengan IPK nyaris sempurna 3,99—sebuah capaian langka untuk jenjang doktoral.

Yang membuat prestasinya semakin istimewa, Yura lulus tanpa ujian terbuka disertasi. Ia memilih jalur publikasi ilmiah internasional, dengan riset yang berhasil menembus jurnal bereputasi terindeks Scopus Q2.

Sejak itu, namanya resmi tercatat sebagai Dr. Yura Witsqa Firmansyah, S.K.M., M.Kes.

Meneliti Sampah, Menjaga Kesehatan Warga

Disertasi Yura mengangkat persoalan pelik di TPA Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat—tempat pembuangan akhir yang kerap dilanda penumpukan sampah, longsor, hingga kebakaran.

Lewat judul “Model Mitigasi Risiko Kesehatan Lingkungan terkait Polusi Udara di TPA Sarimukti”, Yura meneliti dampak polusi udara terhadap kesehatan masyarakat sekitar.

“Penelitian ini menggunakan analisis risiko kesehatan lingkungan, lalu dikembangkan menjadi prototipe sistem deteksi dini polutan berbahaya seperti metana, nitrogen dioksida, dan sulfur dioksida,” jelasnya, dikutip dari laman resmi UNS.

Penelitian tersebut tak hanya berhenti di ruang akademik. Yura bahkan sempat menerima Beasiswa Riset Program Doktor dari BAZNAS, sebagai bentuk dukungan atas riset yang dinilai bermanfaat langsung bagi masyarakat.

blank
Yura saat menjalani prosesi wisuda doktoralnya. Foto: ist

Disiplin di Tengah Kesibukan Mengajar

Di balik prestasi itu, Yura bukan hanya mahasiswa. Selama menempuh S3, ia juga aktif mengajar sebagai dosen di STIKES Adi Husada Surabaya.

Waktu menjadi barang mahal. Namun Yura punya satu prinsip: disiplin tanpa kompromi.

“Saya menargetkan lulus cepat sejak awal. Kuncinya disiplin dan rutin berdiskusi dengan promotor,” tuturnya.

Ia dibimbing oleh para akademisi senior, yakni Prof. Dr. Prabang Setyono, M.Si. sebagai promotor, serta Prof. Ari Natalia Probandari dan Prof. Bhisma Murti sebagai ko-promotor.

Kesuksesan Yura ternyata bukan cerita tunggal. Di keluarga kecil itu, semangat pendidikan juga membudaya di keluarhanya.. Kakak Yura kini telah bergelar S2 dan menjadi dosen di perguruan tinggi negeri di Kendal. Sementara adiknya masih menempuh pendidikan S1 di UIN Semarang.

Bagi Darminto dan Masniah, pencapaian anak-anak mereka adalah kebahagiaan yang tak ternilai.

“Kami hanya bisa mendoakan. Semoga ilmunya bermanfaat dan membawa berkah,” ujar Masniah.

Lebih dari Sekadar Gelar

Kisah Yura Witsqa Firmansyah bukan hanya tentang gelar doktor termuda UNS. Ini adalah cerita tentang anak sopir dan pedagang pasar yang membuktikan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari rumah sederhana.

Dari lorong pasar Cepu hingga podium wisuda UNS, Yura mengajarkan satu hal penting: asal-usul boleh sederhana, tapi cita-cita tak boleh dibatasi.

Ali Bustomi