blank
Perempuan nelayan di Desa Timbulsloko, Purworejo, dan Morosari Kabupaten Demak, diajak membuat kebun pangan di wilayah pesisir terdampak langsung abrasi, belum lama ini. (Dok)

DEMAK (SUARABARU.ID) — Perempuan nelayan di Desa Timbulsloko, Purworejo, dan Morosari Kabupaten Demak, diajak membuat kebun pangan di wilayah pesisir terdampak langsung abrasi, belum lama ini.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Komunitas Perempuan Nelayan Puspita Bahari Kabupaten Demak bekerja sama dengan GENERATE Project, University of Leeds. Penghijauan  mengusung tema ‘Penghijauan untuk Ketahanan Pangan Pesisir yang Berkelanjutan’.

Ketua Perempuan Nelayan Puspita Bahari, Masnuah, mengatakan, program ini bertujuan memperkuat resiliensi komunitas perempuan nelayan di akar rumput.

“Di mana saat ini menghadapi dampak berlapis dari krisis iklim, kerusakan ekologi pesisir, serta tekanan ekonomi akibat banjir rob yang semakin intens dan meluas di wilayah pesisir Demak,” katanya.

Melalui pendekatan berbasis komunitas, Masnuah bilanh, kegiatan memfasilitasi perempuan nelayan untuk memperkuat kapasitas, kepemimpinan, dan kemandirian dalam mengelola ketahanan pangan pesisir secara kolektif dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari proses kegiatan, lanjutnya, komunitas perempuan nelayan di masing-masing desa telah melakukan persiapan selama kurang lebih dua minggu sebelumnya.

“Persiapan tersebut meliputi pengolahan dan penataan lahan kebun pangan yang dirancang secara adaptif terhadap kondisi banjir rob,” ucap Masnuah.

Bahan penghijauan dibuat dalam bentuk rak atau papan panggung dari bambu dengan ketinggian lebih dari satu meter di atas permukaan tanah, guna mengantisipasi terendamnya tanaman saat terjadi air pasang.

Komunitas perempuan nelayan menanam beragam jenis tanaman pangan, seperti sayur-sayuran, tanaman obat keluarga, tanaman buah, serta tanaman pendukung kebutuhan rumah tangga lainnya.

Media tanam yang digunakan beragam dan ramah lingkungan, antara lain pot, polybag, serta pemanfaatan limbah rumah tangga seperti botol plastik dan kaleng bekas sebagai wadah tanam. Praktik ini sekaligus menjadi upaya pengelolaan sampah berbasis komunitas di wilayah pesisir.

Kegiatan ‘Penghijauan untuk Ketahanan Pangan Pesisir yang Berkelanjutan” ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga. Akan tetapi juga menjadi ruang penguatan peran dan kepemimpinan perempuan nelayan dalam menghadapi persoalan lingkungan pesisir yang semakin kompleks.

Melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kepemimpinan kolektif, perempuan nelayan didorong untuk menjadi aktor kunci dalam pengelolaan lingkungan pesisir yang berkeadilan gender dan berkelanjutan.

Inisiatif ini menjadi bagian dari strategi adaptasi komunitas pesisir terhadap krisis iklim, degradasi ekosistem pesisir, serta ketidakpastian ekonomi yang dihadapi perempuan nelayan dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Diaz A Abidin