blank
Petugas Dinas Kesehatan Grobogan melakukan fogging di sekitar lingkungan rumah warga di Dusun Sendangsari, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan. Foto : dok Dinkes Grobogan.

GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Belasan warga dilaporkan terserang penyakit chikungunya di Desa Sugihmanik, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan.

Dinas Kesehatan Grobogan langsung menindaklanjuti laporan tersebut dengan langkah cepat di lapangan, Selasa (20/1/2026).

Kasus penyakit chikungunya ini menyerang puluhan warga yang mayoritas tinggal di wilayah Desa Sugihmanik, Kecamatan Tanggungharjo, Grobogan. Warga mengeluhkan kondisi yang tidak biasa pada tubuh mereka.

BACA JUGA : Dekan Baru FTIK USM Siap Penuhi Target Prodi Terakreditasi Unggul

Belasan warga merasakan gejala khas berupa demam tinggi, nyeri pada sendi dan otot, serta munculnya ruam kemerahan di sejumlah bagian tubuh. Sebagian besar kasus ditemukan di Dusun Sendangsari.

Salah satu warga, Siti (49), mengaku tubuhnya terasa sangat lemah dan sulit beraktivitas. Kondisi itu ia rasakan sejak beberapa hari sebelum memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Ia mengatakan rasa nyeri menjalar hampir di seluruh tubuhnya, disertai demam yang tak kunjung turun meski sudah beristirahat di rumah.

BACA JUGA : WNA Asal Korea Selatan dan Yaman Jalani Pemeriksaan Substantif Pewarganegaraan

“Rasanya lemas, kayak senut-senut, linu-linu begitu. Langsung periksa ke Puskesmas, kata dokter digigit nyamuk. Saya baru tahu itu namanya chikungunya,” jelas Siti.

Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, dr Djatmiko MAP, menyatakan pihaknya segera melakukan verifikasi setelah menerima laporan dari masyarakat setempat. Dari hasil PE ditemukan ada 19 orang yang terverifikasi terkena chikungunya.

“Langsung kami konfirmasi dan ternyata benar ada warga di Desa Sugihmanik yang mengalami penyakit chikungunya,” jelas dr Djatmiko.

Setelah memastikan kebenaran laporan, Dinas Kesehatan Grobogan langsung berkoordinasi dengan Puskesmas Tanggungharjo untuk melakukan penanganan medis.

Tenaga kesehatan memberikan pengobatan sesuai keluhan pasien guna meredakan gejala dan mempercepat proses pemulihan.

“Pasien sudah ditangani, sudah diberi obat sesuai dengan keluhan pasien dan tentunya kita juga lakukan sosialisasi Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),” jelas dr Djatmiko.

Selain pengobatan, petugas kesehatan juga melakukan edukasi langsung kepada warga agar lebih waspada terhadap lingkungan sekitar.

BACA JUGA : Gathering Satu Hati UKSW 2026, Teguhkan Visi Menuju Kampus Berkelas Dunia

Upaya pencegahan turut diperkuat dengan tindakan pengendalian vektor melalui penyemprotan atau fogging di area permukiman warga.

“Hari ini tadi kita juga adakan fogging untuk mencegah berkembangnya nyamuk penyebab penyakit chikungunya di lingkungan tempat tinggal pasien,” tambahnya.

Dinas Kesehatan Grobogan menilai fogging menjadi langkah penting untuk memutus rantai penyebaran virus, terutama di wilayah dengan kasus terbanyak.

Pihaknya juga mengingatkan bahwa virus chikungunya ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang aktif di lingkungan rumah.

Nyamuk jenis tersebut tidak hanya membawa chikungunya, tetapi juga berpotensi menularkan Demam Berdarah Dengue (DBD) yang sama-sama berbahaya.

Menghadapi musim hujan, dr Djatmiko mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan secara rutin.

“Saat ini musim hujan, waktu yang terbaik untuk kita semua mencegah terjadinya penyakit chikungunya maupun DBD dengan melakukan 3M atau menguras bak mandi, menutup penampungan air dan mendaur ulang barang bekas. Selain itu, kami juga imbau masyarakat menerapkan PHBS dan juga tidak lupa menggunakan lotion antinyamuk,” pungkasnya.

TYA WIDYA