
Oleh: Septiana Wibowo
Setiap Minggu pagi di Galeri Wood Carving Jepara, di Pantai Kartini Jepara, depan Pelabuhan Penyeberangan sekarang tak hanya dipenuhi aroma kayu dan suara palu. Sejak sebulan terakhir, galeri berbentuk pendopo bambu ini juga menjadi tempat belajar Bahasa Inggris bagi para pengukir yang sehari-hari menggantungkan hidup dari seni ukir khas Jepara.
Tujuannya adalah mempersiapkan “para tukang ukir” menyambut liburan musim panas (summer) dimana banyak Turis Asing yang berlibur ke Karimunjawa. Diharapkan wisatawan ini akan mampir ke Galeri. Sebab ada sejumlah program yang disiapkan untuk wisatawan mulai kelas mengukir, promosi dan juga penjualan produk berupa souvenir. Yang tak kalah penting, program belajar Bahasa Inggris ini juga untuk membangun kepercayaan diri sebagai pewaris budaya.

Program bertajuk “Belajar Bahasa Inggris untuk Pengukir” ini diikuti sekitar 25-30 pengukir profesional dengan latar belakang yang berbeda dan rentang usia 30 hingga 55 tahun. Mereka datang dari berbagai desa tempat mereka mengukir di Jepara membawa semangat belajar yang tak luntur, meski usia mereka terhitung tidak muda lagi.
Pelatihan ini diinisiasi oleh Yayasan Pelestari Ukir Jepara bekerja sama dengan Relawan Pengajar Bahasa Inggris, Septiana Wibowo Guru Bahasa dan Amalia Hidayah Rofik Duta Bahasa Jawa Tengah. Para pengajar adalah yang berpengalaman dalam pengajaran percakapan Bahasa Inggris untuk pemula.

Materi yang diberikan disusun khusus sesuai dengan kebutuhan pengukir, seperti kemampuan memperkenalkan produk, menawarkan kelas mengukir pada turis, menjelaskan motif ukiran, jenis kayu, hingga simulasi melayani pembeli asing.
“Kalau belajar bahasa Inggris sendirian dari buku saja memang susah. Tapi di sini belajar bersama dan difasilitasi sehingga lebih menyenangkan dan mudah diterima, misalnya cara menjelaskan metode carving atau menjelaskan asal bahan,” ujar Rumini, ketua Paguyuban Pengukir Perempuan R.A. Kartini yang aktif mengikuti kelas.

Dalam setiap sesi, selain pemahaman kosakata, peserta juga diajak mempraktikkan dialog sederhana yang berkaitan dengan mengukir. Dimulai dari pengenalan diri sebagai Carving Artist (Seniman Ukir) sampai simulasi mengobrol dan menjual produk ke para turis asing.
Kesalahan pengucapan menjadi hal biasa. Tawa kerap pecah, namun suasana tetap serius dan saling mendukung. Tak jarang mereka saling bercanda satu sama lain dengan Bahasa Inggris. Para ibu-ibu juga sering membawa camilan dan kopi untuk selingan kegiatan belajar mengajar. Bahkan semangat dan keceriaan tak luntur walau di beberapa sesi mengajar, diguyur hujan deras.
Menurut salah satu pengajar Septiana, fokus utama bukan pada tata bahasa yang sempurna, melainkan keberanian dalam mulai mengajak berinteraksi dengan turis asing. “Pengukir Jepara punya kualitas produk kelas dunia. Kendalanya sering kali hanya komunikasi. Kami ingin mereka percaya diri saat berhadapan langsung dengan buyer asing,” jelasnya.

“Melalui ketrampilan bahasa ini kami mencoba membangun optimisme dan kepercayaan diri pengukir Jepara untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik,” tutur Amaliyatul Hidayah Rofiq yang akrab disapa Lia.
Hasilnya mulai terlihat. Beberapa peserta mengaku kini lebih sering mempraktekan bahasa Inggris bahkan ada yang sudah mempraktekkannya di platform online dan marketplace internasional guna memasarkan produk yang mereka miliki. Bahkan ada pengukir yang telah menjalin komunikasi langsung dengan pembeli dari Australia tanpa perantara.
Ketua Yayasan Pelestari Ukir Jepara Hadi Priyanto menyebut program ini sebagai investasi jangka panjang. “Ukir Jepara adalah identitas kota kami. Dengan bahasa Inggris, para pengukir tidak hanya akan menjaga tradisi, tapi juga memperluas pasar sehingga juga bisa meningkatkan kesejahteraan,” ungkapnya.
Bagi para pengukir, kelas ini bukan sekadar belajar bahasa asing. Ini adalah langkah kecil untuk bertahan di tengah persaingan global. Di antara suara pahat dan serpihan kayu, mereka kini juga belajar merangkai kata dan masa depan pelestarian ukir yang jauh lebih baik.
Tujuan jangka panjangnya adalah menghubungkan karya tangan lokal Jepara dengan dunia internasional tanpa perantara sehingga lebih mudah dalam akses maupun transaksi jual beli. Galery Wood Carving juga memfasilitasi Kelas Mengukir untuk Turis yang berbayar dengan isntruktur para pengukir profesional berpengalaman.
Kelas Bahasa Inggris dibuka untuk seluruh pengukir di Jepara dan gratis. Bagi yang ingin mencoba bisa datang ke Galery Wood Carving Jepara setiap hari Minggu pukul 09.00 pagi. Sejauh ini masih dua paguyuban ukir yang aktif dalam mengikuti kelas yaitu Paguyuban Ukir Sungging Prabangkara dan Paguyuban Pengukir Perempuan R.A. Kartini.
Penulis adalah Pengajar Bahasa Inggris Profesional, Jurnalis dan Penulis Buku “Bukan Kartini”













