SEMARANG SUARABARU.ID : Belakangan ini, lini masa media sosial dipenuhi unggahan foto hasil edit berbasis kecerdasan buatan. Mulai dari foto bergaya sinematik, versi miniatur, potret profesional, hingga visual estetik ala majalah, semuanya dibuat hanya dengan satu kunci utama: prompt. Tren penggunaan prompt Gemini AI untuk mengedit foto dengan cepat menyebar luas di platform seperti TikTok dan Instagram. Banyak pengguna membagikan template prompt yang sama, lengkap dengan contoh hasilnya, lalu mendorong pengguna lain untuk mencoba dan membagikan versi mereka sendiri. Dalam waktu singkat, media sosial berubah menjadi ruang pamer kolektif yang dipenuhi karya visual berbasis AI. Fenomena ini ramai diberitakan di media daring yang menyoroti prompt Gemini AI viral untuk mengedit foto estetik, dan ada juga yang menampilkan prompt viral untuk foto pantai di Instagram. Hal ini menunjukkan bagaimana tren prompt AI tidak hanya viral, tetapi juga mendorong partisipasi masif warganet untuk bereksperimen dengan kreativitas digital mereka.
Tren ini menarik karena memperlihatkan bagaimana teknologi tidak lagi diposisikan sebagai sesuatu yang rumit dan eksklusif. Gemini AI hadir sebagai alat yang “ramah” bagi siapa saja, bahkan bagi mereka yang tidak memiliki latar belakang desain atau fotografi. Dengan menyalin prompt yang sudah beredar, pengguna bisa menghasilkan visual yang terlihat profesional dan estetik. Pola ini membuat proses kreatif menjadi lebih terbuka dan mudah diakses, sekaligus mendorong partisipasi masif dari warganet. Media sosial tidak hanya menjadi tempat konsumsi konten, tetapi juga ruang produksi visual yang dilakukan secara bersama-sama, yang membuktikan bahwa audiens kini bisa berperan aktif dalam memproduksi dan membentuk tren kreatif digital.

Jika dilihat lebih jauh, tren ini tidak sekadar soal teknologi baru atau gaya edit foto yang sedang populer. Ia mencerminkan perubahan cara audiens berinteraksi dengan media. Dalam kajian komunikasi, kondisi ini dapat dijelaskan melalui konsep Participatory Culture atau budaya partisipatif yang diperkenalkan oleh Henry Jenkins. Teori ini menekankan bahwa audiens modern tidak lagi pasif, tetapi aktif terlibat dalam produksi, distribusi, dan pengembangan makna sebuah konten. Hambatan untuk berkreasi semakin rendah, sementara kesempatan untuk berpartisipasi semakin luas. Jenkins menekankan empat ciri penting budaya partisipatif: afiliasi, ekspresi, kolaborasi, dan sirkulasi konten, yang semua terlihat jelas dalam praktik warganet menggunakan prompt Gemini AI (Jenkins, 2006).
Penjelasan ini diperkuat oleh penelitian lokal yang relevan dalam jurnal Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial, yang menyatakan bahwa media digital mendorong masyarakat untuk tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga produsen dan penyebar konten. Partisipasi aktif ini terlihat melalui aktivitas berbagi, meniru, memodifikasi, dan mendistribusikan ulang konten sesuai kreativitas masing-masing individu. Jurnal tersebut menegaskan bahwa media sosial telah membentuk ruang kolaboratif, di mana pengguna saling terhubung dan memengaruhi satu sama lain dalam proses produksi pesan (Muthmainah, Sjafirah, & Saputra, 2024). Dalam konteks tren prompt Gemini AI, pengguna bukan sekadar menyalin prompt, tetapi menyesuaikan hasilnya dengan preferensi, identitas, dan gaya mereka masing-masing, sehingga setiap karya tetap unik meski lahir dari formula yang sama.
Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana budaya partisipatif bekerja dalam praktik nyata. Satu unggahan prompt dapat memicu ribuan unggahan lain dengan versi visual yang berbeda-beda. Pengguna tidak hanya menonton atau menyukai konten, tetapi ikut mempraktikkan, mengadaptasi, dan membagikan kembali hasilnya. Proses ini menciptakan sirkulasi konten yang aktif dan berulang, sekaligus menimbulkan perasaan “ikut bagian dari tren”. Kreativitas di sini tidak hanya soal orisinalitas prompt, tetapi juga kemampuan individu untuk menafsirkan dan mengekspresikan kembali hasil AI dengan cara yang sesuai dengan karakter mereka.
Meski begitu, penulis melihat sisi yang perlu diperhatikan. Ketergantungan pada prompt yang sama bisa membuat produksi visual menjadi seragam, sementara aspek refleksi kritis terhadap penggunaan teknologi menjadi minim. Budaya partisipatif seharusnya tidak hanya mendorong partisipasi masal, tetapi juga kesadaran kreatif dan etis pengguna. AI adalah alat, bukan pengganti kreativitas manusia, sehingga pengguna tetap perlu mengontrol dan memaknai hasil karyanya. Tren ini mengingatkan bahwa kolaborasi teknologi dan manusia harus tetap berpijak pada tujuan ekspresif yang sehat.
Menurut penulis, tren prompt Gemini AI harus dibaca sebagai peluang, bukan sekadar hiburan atau viral sesaat. Media sosial bisa menjadi ruang belajar kreatif, di mana siapa pun bisa mengekspresikan diri, mencoba ide baru, dan berinteraksi dengan karya orang lain. AI hanya memperluas kemungkinan tersebut, tetapi keputusan kreatif tetap berada di tangan pengguna. Dengan kesadaran ini, budaya partisipatif dapat berkembang menjadi praktik kreatif yang sehat, edukatif, dan inklusif, bukan sekadar tren digital yang cepat berlalu.
Pada akhirnya, pengalaman warganet dengan prompt Gemini AI menunjukkan bagaimana media sosial dan teknologi AI membentuk komunikasi digital yang partisipatif dan kolaboratif. Bagaimana pengguna memanfaatkan, menafsirkan, dan membagikan karya mereka menunjukkan potensi manusia untuk tetap kreatif di era digital, sekaligus menekankan pentingnya kesadaran kritis dalam penggunaan teknologi. Penulis percaya bahwa tren seperti ini, jika dimaknai dengan tepat, dapat menjadi ruang ekspresi yang memperkaya budaya digital Indonesia dan memotivasi generasi muda untuk terus berinovasi secara kreatif, etis, dan bermakna.
Penulis : Binfilio Andri, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro













