
Ketika ada anak ditampar oleh guru karena ketahuan merokok, tetiba sang wakil gubernur langsung memberikan hukuman kepada guru tersebut. Nah, ini dipastikan wakil gubernur yang tidak menikmati keindahan dilempar penghapus atau dipukul penggaris. Ini pasti wakil gubernur produk zaman murid sudah dimanjakan dan guru tak lagi dimuliakan. Guru tak lagi terhormat.
Welas Tanpa Lalis
Dalam ungkapan Jawa ada tertulis welas tanpa lalis, yang maknanya mengasihi secara berlebihan tetapi sebenarnya justru malah menjerumuskan. Misalnya ada anak melakukan kesalahan, kemudian ada yang mengingatkan (sekadar mengingatkan, tidak memukul), orang tua keberatan lalu marah kepada orang yang mengingatkan.
Dan, itu banyak terjadi sekarang ini. Orang tua yang sibuk, suami-istri bekerja, tidak banyak berinteraksi dengan anak-anaknya. Ketika terjadi sesuatu dengan anaknya, apalagi melibatkan guru di sekolah, mereka langsung menumpahkan amarahnya lalu melukan tindakan-tindakan tanpa klarifikasi.
Padahal sebenarnya mereka sedang dibantu untuk mendidik anak-anaknya, karena mereka tidak punya kesempatan, berkaitan dengan kesibukannya sebagai “pencari nafkah”. Mereka berusaha memenuhi kebutuhan bahkan mungkin keinginan anak-anaknya, yang umumnya mereka penuhi adalah kebutuhan fisik dalam bentuk materi.
Mereka tidak sempat memberikan kesegaran dan penguatan jiwa bagi anak-anaknya. Dan, mereka jadi sensitif ketika anaknya merasa “terluka” hanya sekadar “dibentak guru”. Lebih sial lagi kalau si anak pandai berimajinasi, dengan mengubah laporan kata “dibentak” menjadi “ditampar”. Si anak menjadi bahagia ketika orang tuanya melabrak ke sekolah atau melapor ke polisi. Apakah kita semua juga turut bahagia dengan hal semacam ini?
Saya bukan rang yang setuju dan mendorong untuk kita menyiksa anak-anak, berlaku kejam pada murid. Tetapi jargon tut wuri handayani harus dimaknai, bahwa di belakang guru memberikan dorongan. Ketika yang didorong tetap mogok, perlu juga cambuk. Bukan cambuk yang melukai, tetapi cambuk yang mengingatkan agar dia tetap maju.
Orang tua jangan tergesa dengan sensitivitasnya menerima laporan anaknya kemudian melakukan tindakan yang berlebihan. Lakukan klarifikasi dulu, dan tidak perlu sok kuasa, merasa punya dekengan orang kuat.
Para orang tua harus menyadari bahwa dia TIDAK MAMPU sepenuhnya mendidik anak-anaknya, maka kemudian menitipkan di sekolah. Tetapi jangan kemudian karena merasa sudah meniyipkan dengan memenuhi kewajiban, lalu menyerahkan sepenuhnya pada sekolah, dan dengan gampang menyalahkan seklah atau guru Ketika terjadi sesuatu pada anaknya.
Begitu pula dengan para guru, yang harus menyadari perkembangan yang terjadi saat ini. Tidak perlu kembali menjadi “guru kuno” yang suka melempar penghapus atau memukul murid dengan penggaris. Guru harus tetap punya wibawa, tanpa harus melakukan kekerasan.
Pemerintah juga harus memikirkan betul, bahwa guru harus dilindungi. Bukan berarti guru kebal hukum, karena mereka juga warga negara biasa.
Tetapi tugas sebagai orang yang menyiapkan anak-anak bangsa di masa depan, memang harus diperhatikan. Jangan terjadi lagi seperti yang dilakukan seorang wali kota yang langsung menghukum kepala sekolah, ketika anaknya ditegur karena membawa mobil ke sekolah. Atau wakil gubernur yang langsung menghukum guru yang membentak anak yang ketahuan merokok di sekolah.
Tidak perlu juga anak-anak menyambut guru dan membawakan tasnya sampai ke ruang guru seperti zaman dulu. Tetapi, bahwa murid menghormati guru itu memang sudah merupakan kewajiban, karena guru adalah orang tua mereka di sekolah. Ketika ada guru yang dinilai melakukan kesalahan, juga tidak perlu melakukan drama melapor pada orang tua secara berlebihan.
Selamat Hari Guru, semoga pendidikan di Indonesia makin baik, makin maju, dan guru tetap punya wibawa dan terhormat.
R. Widiyartono, wartawan SuaraBaru.id, generasi produk pendidikan tahun 70-80-an.













