Oleh R. Widiyartono
PERUBAHAN adalah keniscayaan, karena dengan adanya perubahan berarti terjadi pergerakan. Hanya saja apakah perubahan itu menuju ke arah yang lebih baik atau sebaliknya. Hal yang pada masa lalu dianggap sebagai sesuatu yang baik atau mulia, tetapi dalam perkembangan zaman yang masif sekarang ini, bisa jadi itu dianggap kuno, tidak manusiawi, melanggar hak asasi, dan seterusnya.
Ya, setidaknya itulah yang kini kita rasakan bersama, dan kita baca di media atau kita tonton cerita viralnya lewat video di media sosial. Satu di antaranya adalah tentang guru. Bagi orang yang sekarang usianya sudah di atas 60 tahun, merasakan benar bagaimana ketika mereka belajar di sekolah dibimbing para guru mereka, yang mungkin sebagian besar sudah tiada. Kalaupun masih ada, usia mereka sudah di atas 75 tahun.
Nostalgia romantik itu sering muncul, mengingat saat pagi hari di sekolah. Ketika ada Pak Guru datang menuntun sepedanya memasuki halaman sekolah, anak-anak berebut menyalami, lalu membawakan tas Pak Guru. Bahkan, ada juga anak-anak yang menyambut gembira ibu gurunya yang memasuki halaman sekolah. Anak-anak pun berseru: “Bu Guru rawuh….. Bu Guru rawuh…. ” (Bu Guru datang… Bu Guru datang), dan mereka berebut menyalami.
Hal yang sudah tidak mungkin terjadi saat ini. Ya, karena tak ada lagi guru yang datang ke sekolah naik sepeda “unta”. Juga kebahagiaan murid ketika guru datang, karena mungkin yang mereka harap justru gurunya berhalangan sehingga kelas kosong.
Nostalgia ‘Kekejaman’ Guru
Guru-guru tahun 70-80-an umumnya pendidikannya tidak tinggi. Masih jarang yang bergelar sarjana. Guru SMA kebanyakan hanya sarjana muda (B.A, B.Sc.) atau lulusan Diploma 3. Tetapi murid-murid sangat menghormati dan tetap merasa para guru ini memberikan pengetahuan yang memadai buat mereka. Kalau pun ada siswa yang ndableg, nakal, atau bahkan melawan ya ada tentu saja. Maklum saja, puluhan atau bahkan ratusan anak pasti ada di antara mereka yang seperti itu.
Yang tentu menjadi kenangan bagi mereka yang sekarang sudah usia embah-embah, adalah keindahan kenangan saat dilempar kapur tulis atau bahkan penghapus papan tulis oleh guru mereka. Mungkin saat SD banyak yang mendapatkan pukulan penggaris kayu yang ukurannya satu meteran, ketika murid melakukan pelanggaran. Apa pelanggarannya? Ya, menurut tafsir sang guru. Misalnya ramai di kelas, tidak mengerjakan PR, dan sebagainya.
Dan, itu menjadi kenangan indah, dan menguatkan mereka. Mereka tidak cemen dengan pendidikan yang diwarnai dengan romantika semacam itu. Dan, kini mereka merasakan benar, bahwa anak-anak sekarang menjadi sangat dimanjakan. Maka kemudian muncul apa yang disebut “generasi stroberi”, yang segera mlonyot saat menghadapi masalah.
Dan, meskipun para guru itu “kejam”, para murid tetap segan akan kewibawaan guru mereka. Mereka terbiasa dibentak oleh guru, bahkan dilempar penghapus, dipukul menggunakan penggaris kayu, atau bahkan ada yang dipukul. Dan, anehnya, anak-anak tidak berani melaporkan “kekejaman” gurunya kepada orang tua mereka. Sebab, bila melapor pada orang tua, justru malahan mendapatkan bonus tambahan, berupa pukulan atau setidaknya dimarahi habis-habisan.
Para orang tua (zaman dulu) menyadari benar, guru melakukan hal terbaik buat siswanya. Seperti disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara: Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Kemudian Tut wuri handayani menjadi semboyan Kementerian Pendidikan di Indonesia.
Ing ngarsa sung tuladha, guru memandu agar murid menjadi paham dan mengerti, tak hanya soal akademik tetapi juga etika, sopan santun, budi pekerti. Ing madya mangun karsa, di tengah guru memberikan inspirasi untuk membangkitkan kreativitas murid, dan tut wuri handayani dari belakang guru memberikan dorongan agar murid terus maju.
Dorongan dan Lecutan
Yang menarik, mengapa tut wuri handayani yang dipilih untuk dijadikan semboyan dunia pendidikan di Indonesia. Mungkin ini sebuah unconsciousness atau pesan bawah sadar penggagasnya. Tut wuri handayani bisa ditafsirkan, pendidik berada di belakang dan memberi dorongan kepada para siswa agar mereka bisa terus maju.
Lalu bagaimana bila ada yang sulit atau tidak mau didorong untuk maju? Diberi contoh juga mental, diberi inspirasi tidak paham, didorong juga tidak mau maju. Maka kemudian saya mengingat guru zaman dulu itu. Murid memang bukan kerbau atau kuda, tetapi ada kemiripannya. Murid ada yang suka ngambeg atau beka (baca: beko seperti membaca bengkok).
Beka adalah kata yang digunakan untuk menyebut kuda yang marah, tideak mau jalan atau bahkan malahan berlari lepas kendali. Bagaimana menghadapi yang seperti ini. Kerbau yang mogok saat membajak sawah atau kuda yang ngambeg tidak mau menarik pedati, bisanya kemudian dicambuk. Dan, kita semua paham, petani atau sais mencambuk bukan untuk menyakiti tetapi untuk mendorong agar kerbau atau kuda itu berjalan kembali, maju, tidak mogok!
Namun zaman memang sudah berubah. Anak-anak harus sangat dikasihi, jangan sampai tersentuh kekerasan, karena dialah pemilik masa depan bangsa. Mereka harus berlimpah kasih sayang, jangan sampai ada luka apalagi lebam.
Negara pun membuat undang-undang yang (sangat) melindungi anak. Jangankan sampai melukai secara fisik, membentak pun bisa dianggap “penganiayaan” bagi anak. Dan, ini makin masif, dan dihayati oleh para orang tua sekarang.
Mereka tidak rela anak-anaknya disenggol, apalagi sampai disakiti, dilukai. Ya, orang tua sekarang ada produk zaman ketika guru sudah tidak lagi dinilai sebagai orang yang berwibawa.
Maka, orang tua sekarang langsung tersengat, ketika menerima laporan bahwa anak yang dikasihinya (tetapi jarang diajak bicara) itu dibentak oleh gurunya, atau bahkan dijewer sampai dipukul. Orang tua pun marah, kemudian melaporkan kejadian ini pada polisi. Bahkan pernah terjadi juga, ada orang tua kalap yang langsung menghajar guru anaknya.













