blank
Makam Ki Senu yang diyakini masyarakat Troso sebagai tokoh yang harus di pundi. Foto: Fiktri Haikal

Oleh : Muhammad Fikri Haikal

Di balik ramainya aktivitas tenun yang kini menjadi identitas Desa Troso, tersimpan kisah panjang tentang seorang tokoh yang dipercaya masyarakat sebagai pelopor berdirinya desa tersebut. Sosok itu adalah Ki Senu, seorang bangsawan dari Mataram yang memilih menetap di wilayah yang kini menjadi Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara.

Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Ki Senu datang ke Jepara pada masa setelah kekuasaan Ratu Kalinyamat berakhir dan wilayah tersebut berada di bawah pengaruh Kerajaan Mataram. Berbeda dengan sebagian bangsawan lainnya yang kembali ke pusat kerajaan, Ki Senu justru tertarik dengan kondisi alam di wilayah yang saat itu masih berupa kawasan hutan.

Tanah yang subur, sumber air yang melimpah, serta kehidupan masyarakat yang rukun menjadi alasan Ki Senu memilih menetap. Bersama istrinya, ia mulai membuka lahan dan membangun sebuah permukiman sederhana yang kelak berkembang menjadi Desa Troso.

blank
Pintu gerbang makam Ki Senu yang dibangun megah oleh warga. Foto : Fikri Haikal

Masyarakat yang telah lebih dahulu tinggal di kawasan tersebut menyambut baik kehadiran Ki Senu dan keluarganya. Selain berasal dari kalangan bangsawan, Ki Senu dikenal sebagai sosok yang memiliki pengetahuan luas, bijaksana, dan senang membantu sesama. Tidak sedikit warga yang datang meminta petunjuk dan nasihat ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Sementara itu, Nyi Senu juga dikenal dekat dengan masyarakat, khususnya para perempuan. Ia sering memberikan bimbingan dan teladan dalam kehidupan rumah tangga maupun kehidupan bermasyarakat. Kehadiran pasangan tersebut perlahan memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan permukiman yang mereka tinggali.

Kabar tentang kehidupan masyarakat yang damai dan tanah yang subur lambat laun terdengar hingga ke wilayah lain. Banyak pendatang yang kemudian datang untuk menetap dan membangun kehidupan baru di tempat tersebut. Melihat semakin banyaknya warga yang berdatangan, Ki Senu mengajak masyarakat bermusyawarah untuk mengatur pembukaan lahan baru.

Melalui kesepakatan bersama, setiap keluarga memperoleh bagian lahan yang relatif sama. Sebagian digunakan untuk mendirikan rumah, sementara sisanya dimanfaatkan untuk bertani dan berkebun. Sistem pembagian yang adil tersebut membuat kehidupan masyarakat berjalan harmonis tanpa banyak perselisihan.

Kesuburan tanah menjadi berkah tersendiri bagi warga. Berbagai hasil pertanian tumbuh dengan baik dan mampu mencukupi kebutuhan masyarakat. Dari tahun ke tahun, jumlah penduduk terus bertambah dan kawasan permukiman semakin luas.

Perkembangan tersebut menjadikan wilayah yang dibuka oleh Ki Senu tumbuh menjadi sebuah komunitas yang maju pada masanya. Kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi gotong royong, musyawarah, dan kebersamaan menjadi fondasi penting yang terus diwariskan hingga generasi-generasi berikutnya.

Meski kisah Ki Senu hidup dalam bentuk cerita tutur masyarakat dan belum banyak ditemukan sumber tertulis yang menguatkannya, nama beliau tetap menempati posisi penting dalam ingatan warga Troso. Bagi sebagian masyarakat, Ki Senu bukan sekadar tokoh pembuka wilayah, melainkan simbol kebijaksanaan, persatuan, dan semangat membangun kehidupan bersama.

Dari tanah subur yang dahulu dipilihnya untuk menetap, kini berdiri Desa Troso yang dikenal luas sebagai salah satu pusat industri tenun terbesar di Kabupaten Jepara. Sebuah perkembangan panjang yang dalam cerita masyarakat selalu dikaitkan dengan jejak langkah Ki Senu sebagai pelopor berdirinya desa tersebut.

Penulis adalah Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Unisnu yang Mengikuti Program Magang di SUARABARU.ID