blank
Salah satu siswi SLB Negeri Semarang menampilkan kreasi dan talenta-telanta lainnya dalam kegiatan industri ramah inklusi yang digelar Universitas Stekom dengan menghadirkan puluhan perusahaan di aula SLB Negeri Semarang, Selasa, 9 Juni 2026. (Foto: Diaz A Abidin)

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Sebanyak 30 perusahaan dari berbagai bidang dipertemukan dengan ratusan siswa di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang, Selasa, 9 Juni 2026.

Rektor Universitas Stekom sekaligus CEO TopLoker.com, Dr. Joseph Teguh Santoso, mengatakan, kegiatan bertajuk ‘Industri Ramah Inkusi’ bertujuan untuk mewujudkan dunia kerja yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.

“Untuk membuka peluang kerja, mengenali potensi talenta disabilitas, serta membangun ekosistem industri yang lebih ramah dan setara,” katanya.

Dia bilang, pertemuan langsung antara dunia industri dan penyandang disabilitas menjadi langkah penting menghilangkan penghalang dalam penyerapan tenaga kerja dari kalangan disabilitas.

“Kita ingin menciptakan Jawa Tengah dengan ekosistem industri ramah inklusi. Karena itu kami mengundang perusahaan-perusahaan yang peduli terhadap inklusi dan mempertemukannya dengan anak-anak penyandang disabilitas dalam jumlah besar,” ucap Joseph.

Adapun jumlah perusahaan yang terlibat dalam kegiatan tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Dari sekitar 20 perusahaan, tahun ini jumlahnya bertambah menjadi 30 yang berpartisipasi.

Lebih lanjut, Joseph mengatakan, tantangan terbesar dalam penyerapan tenaga kerja disabilitas bukan karena perusahaan tidak mau merekrut. Melainkan, karena banyak perusahaan belum memahami potensi dan kemampuan yang dimiliki penyandang disabilitas.

“Karena itu kami mempertemukan mereka secara langsung. Perusahaan melihat dulu potensinya, baru kemudian menentukan pekerjaan yang sesuai,” ucapnya.

Menurutnya, pendekatan tersebut lebih efektif dibandingkan membuka lowongan terlebih dahulu tanpa mengetahui karakteristik calon pekerja.

Kepala SLB Negeri Semarang, Sri Sugiarti, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Industri Ramah Inklusi menjadi wadah penting untuk mempertemukan dunia pendidikan dengan dunia usaha dan industri.

Dia mengatakan kegiatan tersebut juga melibatkan kepala sekolah SLB dari berbagai daerah di Jawa Tengah agar dapat memperluas jejaring dan peluang kerja bagi lulusan sekolah luar biasa.

“Harapannya kegiatan ini bisa memberikan inspirasi bagi sekolah-sekolah luar biasa di Jawa Tengah untuk terus membangun kolaborasi dengan dunia industri,” katanya.

Saat ini SLB Negeri Semarang memiliki 512 peserta didik mulai jenjang TK hingga SMA yang tersebar di dua kampus. Sekolah tersebut juga telah menjalin kerja sama dengan Universitas Stekom untuk membuka akses pendidikan tinggi bagi lulusan disabilitas melalui program beasiswa.

Beberapa lulusan juga mendapat beasiswa penuh untuk melanjutkan kuliah sembari bekerja.

Sri mengungkapkan salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi  yakni penyerapan lulusan dengan hambatan intelektual ke dunia kerja.

Pasalnya, sekitar 60 persen peserta didik di SLB Negeri Semarang merupakan siswa dengan hambatan intelektual. Di mana membutuhkan pendampingan lebih intensif dalam membangun kemandirian.

“Anak-anak ini harus benar-benar dipersiapkan untuk mandiri. Tidak hanya dari sekolah, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga agar siap menghadapi kehidupan setelah lulus,” ujarnya.

Berdasarkan data sekolah, setiap tahun terdapat sekitar 55 hingga 60 siswa yang lulus. Dari lulusan tahun ini, sekitar 40 persen melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, sedangkan sekitar 20 persen telah terserap ke dunia kerja.

Sementara itu, perwakilan Human Resource Management PT Pan Brothers Tbk Boyolali, Tina, mengatakan perusahaannya telah menjalankan program pelatihan dan pemberdayaan tenaga kerja disabilitas secara rutin selama enam tahun terakhir.

Program tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Forum Komunikasi Disabilitas Boyolali, Dinas Sosial, dan berbagai mitra lainnya.

Menurut Tina, peserta pelatihan terlebih dahulu mendapatkan pembekalan keterampilan sebelum menjalani asesmen dan rekrutmen sebagai karyawan perusahaan.

“Mayoritas tenaga kerja disabilitas yang direkrut ditempatkan sebagai operator sewing atau operator jahit sesuai kebutuhan industri garmen,” katanya. (*)

Diaz A Abidin