JEPARA (SUARABARU.ID) -Pramuka dan bahkan generasi muda harus mau belajar dari sejarah dan budaya lokal kotanya. Sebab dengan belajar sejarah dan budaya dapat menumbuhkan rasa nasionalisme, kebanggaan terhadap daerah, dan juga dapat menjadi inspirasi, motivasi untuk belajar dan berkarya di tengah-tengah masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Hadi Priyanto yang dikenal sebagai pegiat budaya dan sejarah Jepara saat sedang memberikan motivasi kepada 52 peserta Perkemahan Alih Tingkat Penggalang SMP Islam Terpadu Nusantara Kembang, Jepara yang diselenggarakan di Bumi Perkemahan Jati Cinde Kembang, Sabtu 15 November 2025. Kegiatan yang dipandu oleh AS Wildan ini dikemas dalam acara Perkemahan Sabtu Minggu juga menghadirkan narasumber Kapolsek Kembang AKP Heru Setyawan, Wakil Rektor Unisnu Dr Abdul Wahab, M.Si dan Dr Achmad Saefudin Dosen Unisnu Jepara.

Lebih jauh Hadi mengungkapkan, anak-anak muda Jepara seharusnya bangga sebab kota yang terletak diujung utara pulau Jawa ini memiliki banyak tokoh dalam sejarah Indonesia yang dapat menjadi teladan. “Jepara memiliki tiga pahlawan nasional yaitu R.A. Kartini, Ratu Kalinyamat dan dr. Cipto Mangunkusumo. Juga ada nama dr Gunawan Mangunkusumo dan Drs. Sosrokartono yang memiliki peran besar dalam perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaannya,” ujar Hadi
Namun Hadi mengingatkan, selama ini banyak yang mengenal tokoh-tokoh besar Jepara tersdebut hanya sebatas kulit ari. “Sebab selama ini kita terjebak pada peringatan-peringatan serimonial dan kemeriahan yang miskin substansi pewarisan nilai. Harusnya setiap kali kita mengenang dan memperingati tokoh-tokoh sejarah tersebut yang harus kita lakukan adalah menghidupkan gagasan dan spiritnya,” urai Hadi yang dikenal juga sebagai pegiat literasi Jepara.

Ia lantas mengambil contoh pengenalan generasi muda tentang R.A. Kartini. “Beliau hanya dikenal sebagai pahlawan emansipasi, lahir di Jepara dan kemudian dipingit. Padahal jika kita belajar secara lebih dalam, Kartini memiliki peran besar dalam perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaannya. Beliau adalah inspirator para pemuda pergerakan waktu itu. Sikapnya yang pantang menyerah juga dapat menjadi teladan kita semua. Juga kreatifitas dan inovasinya, kecintaan pada budaya, dan sikapnya yang peka terhadap kondisi yang ada disekitarnya,” pungkas Hadi.
Sementara Kapolsek Kembang AKP Heru Setyawan dalam acara tersebut mengajak pelajar untuk taat hukum dan disiplin. “Gunakan kendaraan dengan hati- hati dan jangan ikut balap liar atau ngebut. Apalagi kalian belum memiliki SIM,” ujar Heru. Kecelakaan di Jepara didominasi oleh pelajar atau usia remaja.
Ada empat faktor terjadinya kecelakaan lalu lintas yaitu faktor jalan yang rusak atau terlalu mulus hingga digunakan untuk balap liar, faktor kendaraan yang tidak standar, faktor alam karena hujan atau licin, dan terakhir faktor manusia,” ungkap Heru. Jika naik kendaraan gunakana helm, tambahnya.
Kepala SMP Islam Terpadu Nusantara, Wiwit Noor Indah B., S.Pd. menjelaskan, Perkemahan Alih Tingkat Penggalang ini tujuannya adalah untuk mencetak eenerasi Pramuka yang berdaya juang tinggi. “Kegiatan yang dilakukan meliputi Uji SKU, LBB, Api Unggun dan Jelajah. “Juga ada isian materi yang disampaikan beberapa tokoh dari berbagai latar belakang,” ujar Wiwit Noor Indah.
Hadepe













