blank
Ilustrasi. Foto: Reka SB.ID

blankOleh: Nourma Yasinta Wahdania

ANTIBIOTIK merupakan obat untuk mengatasi atau mencegah infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Amoxicillin, mungkin itu merupakan nama yang tidak asing terdengar ketika membeli obat di apotek.

Tetapi, tahukan anda bahwa amoxicillin merupakan salah satu jenis antibiotik, yang penggunaannya perlu pengawasan dari tenaga medis, khususnya dokter. Namun sayangnya yang banyak terjadi di sekitar kita adalah pembelian antibiotik secara bebas. Bahkan ada  masyarakat menganggap bahwa antibiotik adalah obat “ampuh” yang mampu mengobati segala macam penyakit dalam waktu singkat. Padahal sakit yang diderita belum tentu membutuhkan antibiotik.

Kurangnya edukasi dan pemahaman adalah salah satu sebab adanya kebiasaan masyarakat membeli antibiotik tanpa resep dokter. Dari kebiasaan tersebut, lahirlah pemahaman bahwa jika terserang demam, flu, batuk, sakit gigi, termasuk luka ringan, obatnya adalah antibiotik, bahkan beberapa masyarakat meyakini bahwa jika hanya minum obat yang disarankan dari petugas apotek seperti antinyeri atau antidemam saja, sakitnya tidak kunjung sembuh tanpa dibarengi dengan meminum antibiotik.

Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter inilah, tanpa kita sadari akan menimbulkan bahaya yang mengancam di masa depan, yaitu resistensi antibiotik.

Perlu diketahui bahwa resistensi antibiotik adalah suatu kondisi ketika bakteri penginfeksi berubah menjadi kebal terhadap antibiotik yang seharusnya dapat membunuh atau menghambat pertumbuhannya. Sehingga penyakit infeksi bakteri yang sebelumnya dapat diobati menjadi lebih sulit disembuhkan, bahkan bisa menyebabkan kamatian.

Menurut data terkini dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Antimicrobial Resistance: Global Report on Surveillance melaporkan bahwa Asia Tenggara menduduki angka tertinggi dalam kasus resistensi antibotik di dunia. Pendapat ahli mengenai hal ini, yakni dr. Resna Hermawati Sp.PK (K) sorang dokter di RSUD Dr. R. Soedjono Selong dalam siaran Ngopi Pintar Tentang Kesehatan menyebutkan bahwa penyebab kematian tertinggi adalah karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat.

Jika hal ini tidak segera digaungkan ke seluruh masyarakat, maka disinyalir di tahun 2050 mendatang akan terjadi kematian sebanyak 10 juta orang akibat resistensi antibiotik, yang mana hal itu menjadi peringkat 1 penyebab kematian setelah kanker.

Mengapa resistensi antibiotik dapat terjadi?

Antibiotik yang berperan membunuh bakteri penginfeksi di dalam tubuh dapat menurun fungsinya jika penggunaannya kurang tepat, yang menyebabkan antibiotik menjadi resisten, di antaranya adalah: penggunaan antibiotik untuk penyakit yang tidak disebabkan oleh infeksi bakteri, kemudian dosis dan lama penggunaaan yang tidak tepat seperti tidak menghabiskan antibiotik sesuai anjuran dokter atau berbagi antibiotik, serta penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan jenis bakteri penginfeksi. Oleh karena itu perlu pemeriksaan terlebih dahulu dari dokter sebelum menggunakan antibiotik.

Dampak dari resistensi antibiotik akibat penggunaan antibiotik yang berlebihan cukup merugikan, baik bagi diri sendiri, orang lain, masa kini, dan masa depan. Diantara dampak resistensi antibiotik, salah satunya adalah penyakit akibat infeksi bakteri menjadi lebih sulit diobati, sehingga menambah biaya perawatan di rumah sakit, bahkan dapat meningkatkan resiko kematian.

Kabar baiknya, resistensi antibiotik dapat dicegah. Dalam hal ini diperlukan kerjasama yang baik antara masyarakat, tenaga medis, dan pemerintah. Edukasi dan penyuluhan dari tenaga medis kepada masyarakat tentang bahaya pembelian antibiotik secara bebas merupakan salah satu cara pencegahan resistensi antibiotik. Karena pencegahan resistensi antibiotik adalah tanggungjawab bersama, untuk menjaga agar penyakit akibat infeksi bakteri pada masa kini dan masa depan tetap dapat diobati dengan baik dengan antibiotik.

Mari Peduli, Mari Bijak. Cegah Resistensi Antibiotik, Selamatkan Generasi Mendatang.

Nourma Yasinta Wahdania, Mahasiswa Program Studi Magister Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (Stifar) Yayasan Pharmasi Semarang