blank

Oleh : Fakrudin

Jaman bergerak cepat. Revolusi informasi  dalam  bentuk yang paling canggih dan datang bagai air bah telah mengubah pandangan hidup manusia. Informasi yang membanjiri pikiran dan emosi manusia seperti tsunami besar mengguncang dan menghanyutkan nalar budi.

Fungsi sosial kebudayaan mengalami pergeseran yang luar biasa cepatnya. Kebenaran bukan lagi didasarkan atas nilai-nilai hakiki seperti nilai sosial,   moralitas, keindahan, etika dan nilai-nilai agama. Nilai-nilai itu telah digantikan dengan kebenaran baru yang dibangun melalui media sosial, framing baru bazer

Kita berada pada dunia yang dilipat dan dimasukkan ke kantong baju seperti digambarkan oleh Yasraf Amir Piliang. Smartphone,  jelmaan dari Ibu untuk anak anak kita, guru untuk kita semua, juga hiburan instan untuk dahaga jiwa kita semua.

Inilah hal ihwal  keresahan para penggagas  Suluk Peradaban Jepara # 1 dengan tema “Noto Jiwo, Mbangun Budoyo”  dan peserta yang  berkumpul di Asthana Parasima, balairung milik Pak Udin di Desa Blingoh Jepara.

Suluk Peradaban Jepara dengan tema “Noto Jiwo, Mbangun Budoyo” mencoba untuk mengumpulkan remah remah sejarah budaya Jepara yang mungkin bisa dijadikan pilihan strategis membangun peradaban Jepara yang diyakini menjadi salah satu pusat peradaban Nusantara, bagi generasi baru ini.

Romo Hadi Priyanto, demikian orang banyak memanggil,  seorang jurnalis, mantan birokrat, pemerhati sejarah, penulis buku, dan pegiat budaya nampak antusias menjelaskan sejarah kebudayaan Jepara.

Ia tidak mulai dari era Ratu Shima, tetapi justru membuka kisah Jepara dari  mitos kerajaan Jawa saat Jepara dan Juana dikuasai oleh Sandang Garba, Rajanya Kaum Pedagang, salah satu putra raja Medang Kamulan yang disebut sebagai tanah segala asal. Juga ada kisah Hikayat Hasanudin yang bercerita tentang era kewalian di Jepara, Aryo Timur, Ratu Kalinyamat, Sosrokartono, Kartini, Gunawan Mangunkusumo, dr Cipto Mangun Kusumo dan banyak lagi tokoh tokoh besar yang sempat mengharumkan nama Jepara,  juga Nusantara sepanjang Sejarah.

Namun jika tokoh tokoh besar tadi hanya kita jadikan pajangan di ruang tamu tanpa  penghayatan nilai nilai luhurnya dan memanifestasikannya dalam tindakan nyata yang konstruktif, maka sejarah tinggallah sebuah catatan tanpa makna.

Sementara Gus Farid Abbad seorang intelektual muda dari Kajen dengan rekam Jejak sebagai pegiat kebudayaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat  yang sadar bahwa strategi kebudayaan tidak harus top down, menunggu perintah dari otoritas yang kita anggap di atas kita, melainkan harus dimulai dari diri kita sendiri dan sekarang juga.

Santri yang juga mengambil studi Magister Antropologi di Universitas Indonesia ini menganggap sangat perlu menghayati dan mengamalkan capaian capaian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang menjadi nafas dari satu peradaban dalam praktek kehidupan kita sehari hari. Suluk atau laku bijaksana itu harus bisa kita pakai untuk memecahkan berbagai permasalahan hidup kita hari ini.

Ketekunannya sebagai akademisi untuk mencari sumber sumber penting ilmu dibuktikannya dengan penelitiannya tentang Kiai Soleh Darat yang menjadi guru dari dua tokoh ormas Islam di Indonesia (Hasyim Ashari dan KH Ahmad Dahlan). Ternyata tokoh Islam dunia ini lahir di Mayong Jepara. Saat ini Gus Farid bergerilya ke mana mana “ngaji” kitab –  kitab penting dari Kiai Soleh Darat.

Menyikapi generasi sekarang yang tidak suka dengan membaca buku, Ia bekerja sama dengan teman teman yang lulusan Desain Komunikasi Visual untuk mengembangkan karya karya Infografis sebagai pengganti buku bagi anak anak muda. Awalnya ini dikembangkan  di Kajen. Dan tidak menutup kemungkinan akan juga di lakukan di banyak tempat di Indonesia.

Diskusi yang dipandu Kang Pete seorang pembelajar yang sangat bersemangat mencari “jalan yang benar” Itu juga dihadiri tokoh tokoh lintas agama. Pendeta Joko Setyo dari Agama Kristen yang mengaku harmoni dan kehangatan di tengah-tengah masyarakat yang majemuk.  Juga ada  Mas Totok Harmanto  tokoh muda Agama  Hindu dari Desa Plajan yang dengan kerendahan hati ingin belajar dan mencintai  budaya bangsanya

Keresahan anak muda diwakili oleh Wawan,  anak muda dari desa Tulakan. Ia merindukan pelajaran sejarah lokal bisa disampaikan ke peserta didik dari tingkat yang paling dasar. Karena sejarah adalah pegangan penting untuk menggenggam wisdom lokal yang semakin hari semakin tergerus budaya masa, budaya instan, juga budaya pasca kebenaran (Post Truth).

Acara ini juga dihadiri oleh Putra Alm. Gus Umar Fayumi dan Istri. Di tempat yang sama ini pulalah saya pernah ngaji dengan beliau tentang Mbah Sosrokartono dan laku spuritualnya. Alfatehah buat Jenengan Gus!

Harapan para sahabat yang hadir,  Suluk Peradaban Jepara #1 yang mulai digelar di joglo H.Udin di Desa Blingoh Kecamatan Donorojo ini tidak  menjadi pertemuan pertama dan terakhir. Namun menjadi awal gerakan bersama untuk  menyatukan titik-titik api kecil yang telah mulai menyala menjadi kobaran api, membangun Peradaban Jepara dari desa dari kearifan sejarah dan budayanya.

Penulis adalah budayawan Jepara