blank
Lapas Semarang gelar sosialisasi SIPASTI. Foto: Dok/Humas

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang terus mendorong transformasi tata kelola pembinaan yang lebih modern, akuntabel, dan berbasis digital melalui Sosialisasi Sistem Pengelolaan Sarana Kerja Terintegrasi (SIPASTI) kepada warga binaan dan jajaran staf.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan efisiensi, akuntabilitas, serta manajemen risiko dalam pengelolaan aset sarana kerja pada program pembinaan kemandirian di lingkungan Lapas Kelas I Semarang, Senin (15/6/2026).

SIPASTI hadir sebagai inovasi digital yang dirancang untuk menyederhanakan sekaligus mendigitalisasi proses pengelolaan sarana kerja yang sebelumnya dilakukan secara manual.

Sistem ini mendukung proses pendataan, peminjaman, hingga pengembalian sarana kerja secara lebih tertib dan terdokumentasi dengan baik melalui mekanisme identifikasi berbasis QR Code dan pencatatan terintegrasi.

Melalui sosialisasi ini, peserta diberikan pemahaman mengenai alur penggunaan sistem, mulai dari pengelolaan data aset, mekanisme transaksi peminjaman dan pengembalian, hingga pentingnya menjaga akurasi data sarana kerja dalam mendukung keberhasilan program pembinaan kemandirian.

Sistem tersebut juga dirancang untuk mempercepat proses administrasi sekaligus meminimalkan risiko kesalahan pencatatan dalam pengelolaan aset kerja.

Kepala Seksi Sarana Kerja Lapas Kelas I Semarang sekaligus inisiator aksi perubahan dalam Diklat Pelatihan Kepemimpinan Pengawas (PKP), Andyka Dadang Alriansyah menyampaikan, lahirnya SIPASTI merupakan langkah strategis untuk memperkuat tata kelola sarana kerja yang selama ini menjadi salah satu elemen penting dalam keberlangsungan program pembinaan.

“Melalui SIPASTI, kami ingin menghadirkan sistem yang tidak hanya mempermudah proses administrasi, tetapi juga membangun budaya kerja yang lebih tertib, transparan, dan bertanggung jawab. Sarana kerja yang dikelola dengan baik akan mendukung keberlangsungan pembinaan kemandirian sehingga warga binaan dapat belajar dalam lingkungan yang lebih terukur,” ujar Andyka.

Kepala Lapas Kelas I Semarang, Ahmad Tohari memberikan apresiasi terhadap inovasi tersebut dan menegaskan pentingnya penguatan sistem pendukung pembinaan.

“Pembinaan kemandirian tidak hanya berbicara tentang hasil produksi, tetapi juga bagaimana proses pengelolaannya dilakukan secara efektif, akuntabel, dan mampu meminimalkan risiko,” terangnya.

Menurutnya, inovasi seperti SIPASTI menjadi langkah nyata untuk membangun budaya kerja yang lebih modern, serta memastikan setiap aset sarana kerja dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pembinaan warga binaan.

Disampaikan, pengelolaan sarana kerja yang tertata akan berdampak langsung terhadap kualitas pembelajaran keterampilan bagi warga binaan, sekaligus memperkuat tata kelola organisasi di lingkungan pemasyarakatan.

Peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya pemeliharaan aset, ketertiban administrasi, serta peran masing-masing dalam menjaga keberlangsungan sistem yang telah dibangun.

Ning S