
Pasangan suami-istri Jino dan Anik Sadremi awalnya pembatik kain biasa. Tetapi karena melihat potensi kayu yang banyak di daerahnya, kemudian mereka berpikir untuk membuat batik kayu. Sebuah inovasi yang melompat dari kotak.
Dia mengawali dengan membuat topeng, baki, gantungan kunci, kotak pensil, dan lain-lain yang dibatik. Selanjutnya, dia mengembangkannya menjadi batik wayang.
Banyak wayang berukuran besar seperti tokoh Jagal Abilawa, nama lain Bima Werkudara saat Pandawa dalam pengasingan. Juga tokoh Baladewa dan Kresna, kemudian punakawan Semar, Gareng, Petruk, Bagong terpasang di beberapa Lokasi out door.
Selain wayang juga ada patung-patung Lara Blonyo yaitu sepasang patung pengantin Jawa yang melambangkan kesuburan, kemakmuran, dan keharmonisan rumah tangga. Lara bermakna Perempuan dan blonyo laki-laki.
Ketika berada di workshop juga kita temukan sandal. Semula saya berpikir, sandal itu terbuat dari bahan imitasi yang dibalut kain batik. Ternyata salah. Itu Adalah sandal kayu yang dibatik. Hebat, memang.
Untuk pembuatan batik kayu ini, memang harus dipilih kayu yang khusus, yaitu gamaline dan kayu jati.
Desa Jarum yang terbentuk dari kata maja dan arum, yaitu bermula dari persembahan Bekel Ekomoyo kepada Raja Mataram, berupa buah maja yang beraroma harum dan rasanya manis.

Baca juga Festival Kota Lama Semarang 2025 Hadir Kembali, Kagama Kolaborasi Tampil Lagi
Selain menjadi sentra industri batik, daya tarik yang dimiliki Desa Jarum Adalah budaya. Ada even rutin yang digelar tiap tahun, yaitu jamasan atau pencucian wayang kulit, secara khusus wayang Pandawa seperti Bima, Abimanyu, Gatutkaca, Punakawan, dan yang lain.
Kades Jarum Iswanta menuturkan, jamasan dilakukan di dua mata air, yaitu Sendang Kleting Kuning dan Sendang Jolosutro. “Kami mengawali dengan kirab berjalan kaki membawa tokoh wayang menuju sendang atau mata air. Setelah selesai jamasan kirab dilanjutkan keliling kampung dengan membawa tumpeng dan gunungan hasil bumi,” tutur kades yang akrab disapa Bendot ini.













