JEPARA (SUARABARU.ID) – Suara ketukan kayu dan aroma serbuk ukiran menyambut langkah puluhan anggota LPM Fokus KPI UNISNU saat memasuki Gallery Wood Carving pada Sabtu (16/5/2026). Sementara puluhan siswa dari SDN 1 Mulyoharjo, SDN 1 Panggang, SDN 3 Kawak, SDN 1 Senenan, SDN 2 Mantingan dan SDN 1 Sukodono sedang mengikuti program Pelajar Mengukir yang diselenggarakan oleh Yayasan Pelestari Ukir Jepara.
Di tengah detail pahatan anak-anak yang seolah hidup, para mahasiswa itu tak sekadar datang untuk wawancara, tetapi juga membawa satu niat sederhana menjaga cerita tentang ukir Jepara agar tetap bernapas di tengah zaman yang terus berlari menjauh.

Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka penggarapan konten majalah untuk acara Comfest. Sejak awal, tim LPM Fokus KPI UNISNU telah melakukan survei lokasi, menyusun daftar pertanyaan, hingga memproduksi video dokumentasi mengenai pelestarian seni ukir bersama Yayasan Pelestari Ukir Jepara.
Digaleri yang menjadi pusat pembelajaran ukir bagi para pelajar ini ada dua wawancara, yaitu dengan Ketua Yayasan Pelestari Ukir Jepara, Hadi Priyanto dan Ketua Paguyuban Ukir Perempuan R.A. Kartini Jepara, Rumini.

Di sela wawancara, pegiat pelestarian ukir Jepara sekaligus Ketua Yayasan Pelestari Ukir Jepara, Hadi Priyanto, menyampaikan apresiasinya terhadap semangat mahasiswa yang turut mengangkat budaya lokal melalui karya jurnalistik.

“Sebagai pegiat pelestarian ukir, saya sangat mengapresiasi teman-teman LPM Fokus KPI yang telah ikut mengangkat seni ukir ini. Mulai dari survei, penyusunan materi, out line sampai pembuatan video dokumenter dilakukan dengan baik,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan generasi muda seperti ini dalam mengenalkan seni ukir menjadi hal yang krusial di tengah derasnya arus modernisasi. Sebab, ukiran Jepara bukan hanya soal kerajinan tangan semata, melainkan warisan budaya yang menyimpan identitas dan perjalanan panjang masyarakat Jepara.

Proses wawancara berlangsung hangat dan penuh rasa ingin tahu. Para anggota LPM Fokus tampak aktif menggali cerita mengenai upaya Yayasan Ukir Jepara dalam menjaga eksistensi seni ukir agar tetap dikenal generasi muda. Mulai dari edukasi kepada masyarakat, pelatihan pengrajin muda, hingga tantangan mempertahankan minat anak muda terhadap dunia ukir menjadi bagian dari pembahasan.
Ketua Redaksi LPM Fokus KPI UNISNU, Ida Ayu Wulandari, mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk kontribusi mahasiswa dalam mengenalkan budaya daerah melalui media kampus.

“Kami ingin menghadirkan karya yang bukan hanya informatif, tetapi juga punya nilai pelestarian budaya. Seni ukir Jepara punya cerita besar yang layak terus dikenalkan,” katanya.
Di tengah riuh perkembangan digital dan tren yang datang silih berganti, ruang-ruang seperti Gallery Wood Carving seakan menjadi pengingat bahwa budaya tidak selalu harus berdiri megah di museum. Kadang, ia hidup dari tangan-tangan yang masih mau menulis, merekam, dan bercerita.
Fikri – Ika – Syafiq













