blank
Ilustrasi, massa demo memvakar bangunan pemerintah. Mereka termasuk orang "mbuh ra weruh", mungkin juga ada yang menggerakkan secara :mbuh ra weruh" pula. Foto: Reka SB.ID

blank

UNGKAPAN embuh ora weruh ini, menggambarkan kondisi orang, entah perseorangan atau pun kelompok, yang sedang  tidak mau tahu, tidak mau peduli terhadap apa dan siapa pun. Orang seperti itu sedang mata gelap, marah, nekat, membabi-buta, tidak berfikir panjang apalagi berpikir tentang risikonya.

Merefleksi situasi yang terjadi  beberapa hari terakhir ini, ungkapan embuh ora weruh sangatlah tepat karena pernah (masih?) melanda banyak pihak lewat amuk massa, bahkan ada yang melakukan penjarahan.

Dalam kondisi seperti ini, embuh ora weruh juga menggambarkan ada akumulasi banyak  masalah, ada yang jelas penyebabnya, ada yang tidak serba jelas. Embuh ora weruh, pokoke meluuuuu.

Senandung

Entah pada tahun berapa dan sampai tahun berapa, ada lagu singkat mudah dan jenaka terngiang merdu karena syairnya pun singkat padat gampang: “Piye…. piye…. piye… embuh ora weruh. Piye…. piye… piye…. embuh ora weruh.”

Baca juga Ora Tanja, Ora Tumanja

Begitu syair itu diulang-ulang, bisa empat lima atau enam kali terus diulang-ulang; dan bagi yang hafal bait lanjutannya, seolah-olah sebagai penyanyi solis,  seseorang akan segera akan menyahut keras: “Kaya ngene rasane, dadi wong ora duwe. Mrana-mrene diece, karo kancane dhewe.”

Bagaikan paduan suara, empat lima orang yang sedang nongkrong itu lalu menjawab: “Piye…..piye….. mbuh ra weruuuuhhhh….. dst.” Gayeng pokoke.

Lalu, orang lain, seolah-olah juga solis, menyahut bait lain yang dikarang sendiri secara spontan. Bisa jadi kata-katanya lucu, tetapi bisa juga bernada kritik sosial… ”Kaya ngene rasane, wong ora nyambut gawe. Cangkeme pengin udud, … ngumpul kanca sing mblubut.”

Beginilah nasib pengangguran, jika pengin merokok, yah……. nimbrung saja teman-teman yang sedang kumpul.  Jika kelompok semacam itu sudah sering nyanyi-nyanyi bersenandung, biasanya lagunya bersambung: Begini nasib……. orang bujangan ,,,,,,,,,,,, dan seterusnya…..dan seterusnya. Kata bujangan biasanya lalu diganti-ganti semau mereka.

Mengapa?

Mengapa orang atau kelompok orang mudah bersikap dan bertindak embuh ora weruh? Untuk menjawab secara tepat, perlu kita dalami dulu arti kata weruh, karena ternyata memiliki beberapa makna.

Baca juga Ora Pepoyan

Kata lain weruh ialah sumerep, lan pirsa dan maknanya (1) bisa migunakake pandelenge; dapat menggunakan indra mata untuk melihat. (2) sumurup ora kanthi njarag, tidak sengaja melihat sesuatu; (3) nyipati, menangi, ngalami, tahu dan melihat dengan mata kepalanya sendiri, dan (4) mangreti, tahu persis.

Tegasnya, weruh itu menyangkut sinergi antara indra mata dan hati serta pikiran, menyatu. Apa yang dilihat masuk ke dalam alam pikir dan alam Nurani; dan bila indra lainnya terlibat di dalamnya, komplitlah makna weruh itu.

Maka ketika yang sebaliknya yang terjadi, artinya sinergi itu hilang; itulah ora weruh. Mungkin mata tidak melihat, tetapi hatinya kemropok, marah, atau tersinggung; nah……. terjadilah tindakan atau sikap mata gelap. Jika yang terjadi semakin brutal, ungkapannya lalu wis, embuh ora weruh.

Satu orang saja bertindak embuh ora weruh, apalagi tindakannya itu dipertontonkan di hadapan orang banyak, pastilah tindakan embuh ora weruh satu orang itu akan  dengan cepat memengaruhi lainnya dan ikut. Di situlah bibit amuk massa.

Bagaimana menghadapi orang atau kelompok embuh ora weruh? Jika berjangkitnya embuh ora weruh itu tiba-tiba karena dipicu oleh sesuatu atau seseorang; dalam waktu dekat besar kemungkinannya segera akan hilang. Apalagi dilakukan pendekatan dan fasilitasi kepada mereka.

Namun, jika embuh ora weruh itu dijadikan sebagai senjata atau strategi untuk mencapai suatu tujuan, nah……… alam pikir yang permanen semacam ini harus dihadapi dengan penuh doa dan kebijakan khusus.

Siapa harus melakukan kegiatan penuh doa dan kebijakan khusus itu? Siapa lagi kalau bukan pemerintah beserta seluruh aparatusnya: Datanglah untuk melayani dan memberikan fasilitasi, bukan untuk dilayani.

Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan  budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng