blank
Miftahurrohman, saat mengerjakan karyanya dalam Lomba Cipta Karya Cinderamata Ukir Jepara, 30 Agustus 2025 . Foto: Hadepe

JEPARA (SUARABARU.ID) –  Walaupun telah memilih jalan hidup sebagai  pengrajin ukir lebih 32 tahun, Miftahurrohman penduduk  RT 01 RW  04 Desa  Krapyak, Kecamatan  Tahunan,  Jepara ini  tak menyangka karyanya yang diberi judul Tempat Pena berhasil meraih juara I Lomba Cipta Karya Cinderamata Ukir Kayu Tingkat Kabupaten Jepara Tahun 2025.Bahkan atas prestasi itu ia mendapatkan hadiah dari Bapak Mugiyanto, Wakil Menteri HAM RI sebesar Rp. 1.750.000,-

“Jujur saya tidak mengira. Sebab saya tahu para peserta lomba,  ukirannya bagus-bagus,”  ujar Miftah yang dihubungi SUARABARU.ID Sabtu  (6/9-2025) malam. Senang dan bahagia karena karya saya diakui oleh dewan juri sebagai karya terbaik, tambahnya

blank
Miftah saat menerima hadiah uang pembinaan dari Mugiyono, Wakil Menteri HAM RI yang diserahkan oleh Ketua Yayasan Pelestari Ukir dan Ketua Tim Juri Dr Muh Fakhriun Na’am. Foto: Amaliyatul HR

“Disamping itu saya juga senang karena  dapat bersilaturahmi dengan banyak teman perajin ukir dan berkenalan dengan tokoh-tokoh  pelestari ukir Jepara yang ada di Yayasan Peluk Jepara,” tutur Miftah

Pria kelahiran Jepara 14 November 1977 mengaku tertarik ukir sejak kecil. Awalnya ia  belajar dari ayahnya yang juga seorang perajin ukir. “Sejak masa kanak-kanak saya suka suka dolanan tatah. Bahkan saat kelas dua SMP, ketika liburan  saya mulai belajar natah dengan sungguh,” kenang suami Jumiati ini

blank
Karya Miftah yang di pesan untuk hiasan makam Presiden RI, Suharto.Foto: Dok Pribadi

Kemudian setelah lulus SMP Al – Maarif   tahun 1993,  Miftah  meneruskan belajar ngukir kepada Pak Nardi, tetangganya  dan kemudian bekerja sebagai tukang ukir sampai sekarang. Saat itu kerjaan mengukir masih bisa di andalkan sebagai penopang ekonomi keluarga.

“Makanya saya memilih jadi pengukir,  walaupun semasa SD bila ditanya  tentang cita-cita, saya selalu menjawab ingin  menjadi pelukis,” tutur ayah Muhammad Ataa Misbahussudur dan Al Khalifi Zdikri Hakam. sambil tertawa.

blank
Tempat pena, karya Miftah yang mengantarkan ia meraih juara. Foto: Faradhila HR

Prestasi Pertama, Namun Banyak Karya

Saat ditanya tentang prestasi di bidang seni ukir  Miftah mengaku tidak punya. “Lomba kemarin itu kali pertama saya ikut kompetisi mengukir.,” terangnya. Namun kalau dari karya ia mengaku telah banyak yang dihasilkan dan itu membuatnya bahagia.

“Lima belas  tahun terakhir sebelum saya memutuskan untuk bekerja freelance di rumah ,  saya mengukir kaligrafi. Hasil buah tangan saya banyak menghiasi ornamen kaligrafi di banyak masjid, walaupun posisi saya saat itu masih bekerja pada  juragan,” ungkapnya

blank

“Sekarang status saya  juga masih sebagai “buruh”. Tapi bekerja sendiri secara  freelance  dan mengerjakan ukiran  di rumah. Sudah berjalan sekitar 10 tahun,” ujarnya.  Terkadang juga dapat pesanan kaligrafi secara online, tambahnya

Ada juga karya Miftah  dan tim di masjid Pantai Kartini, khusus ukiran kaligrafi dan ornamen Arabic nya dan juga mihrab di masjid Pancasila Perumnas Tahunan Jepara

Ia juga mengaku, pernah mengerjakan kaligrafi yang dipesan oleh seorang  pengusaha dari Yogyakarta yang minta dibuatkan kaligrafi penggalan surah Albaqarah dengan ukuran sekitar 2 meter. “Menurut beliau itu  pesanan dari keluarga Cendana untuk hiasan di makam Pak Harto, mantan Presiden RI,” kenangnya.  Pernah juga ada pesanan  kaligrafi dan di kirim ke Dubai ukuran 80 cm sebanyak 20 pcs, tambahnya.

blank
Miftahurrohman sesaat sebelum lomba dimulai. Foto: Dok Pribadi

Harapan Miftah

Ia juga menyinggung kondisi perajin  ukir Jepara. “ Ada  banyak faktor yang menyebabkan banyak perajin ukir  yang kemudian  meninggalkan ukir sebagai budaya leluhurnya. Utamanya karena faktor ekonomi,” ungkapnya.

Harapannya  karena seni ukir adalah icon  Kota Jepara, pemerintah dan para pemangku kepentingan lain  bersedia  memperhatikan dengan serius pelestarian seni ukir dan juga kesejahteraan pengukirnya.”Dengan  demikian seni ukir dapat terus lestari di Bumi Kartini karena kita terus bersedia dengan setia menjaganya,” pungkasnya

Hadepe