JEPARA (SUARABARU.ID) – Walaupun telah memilih jalan hidup sebagai pengrajin ukir lebih 32 tahun, Miftahurrohman penduduk RT 01 RW 04 Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan, Jepara ini tak menyangka karyanya yang diberi judul Tempat Pena berhasil meraih juara I Lomba Cipta Karya Cinderamata Ukir Kayu Tingkat Kabupaten Jepara Tahun 2025.Bahkan atas prestasi itu ia mendapatkan hadiah dari Bapak Mugiyanto, Wakil Menteri HAM RI sebesar Rp. 1.750.000,-
“Jujur saya tidak mengira. Sebab saya tahu para peserta lomba, ukirannya bagus-bagus,” ujar Miftah yang dihubungi SUARABARU.ID Sabtu (6/9-2025) malam. Senang dan bahagia karena karya saya diakui oleh dewan juri sebagai karya terbaik, tambahnya

“Disamping itu saya juga senang karena dapat bersilaturahmi dengan banyak teman perajin ukir dan berkenalan dengan tokoh-tokoh pelestari ukir Jepara yang ada di Yayasan Peluk Jepara,” tutur Miftah
Pria kelahiran Jepara 14 November 1977 mengaku tertarik ukir sejak kecil. Awalnya ia belajar dari ayahnya yang juga seorang perajin ukir. “Sejak masa kanak-kanak saya suka suka dolanan tatah. Bahkan saat kelas dua SMP, ketika liburan saya mulai belajar natah dengan sungguh,” kenang suami Jumiati ini

Kemudian setelah lulus SMP Al – Maarif tahun 1993, Miftah meneruskan belajar ngukir kepada Pak Nardi, tetangganya dan kemudian bekerja sebagai tukang ukir sampai sekarang. Saat itu kerjaan mengukir masih bisa di andalkan sebagai penopang ekonomi keluarga.
“Makanya saya memilih jadi pengukir, walaupun semasa SD bila ditanya tentang cita-cita, saya selalu menjawab ingin menjadi pelukis,” tutur ayah Muhammad Ataa Misbahussudur dan Al Khalifi Zdikri Hakam. sambil tertawa.

Prestasi Pertama, Namun Banyak Karya
Saat ditanya tentang prestasi di bidang seni ukir Miftah mengaku tidak punya. “Lomba kemarin itu kali pertama saya ikut kompetisi mengukir.,” terangnya. Namun kalau dari karya ia mengaku telah banyak yang dihasilkan dan itu membuatnya bahagia.
“Lima belas tahun terakhir sebelum saya memutuskan untuk bekerja freelance di rumah , saya mengukir kaligrafi. Hasil buah tangan saya banyak menghiasi ornamen kaligrafi di banyak masjid, walaupun posisi saya saat itu masih bekerja pada juragan,” ungkapnya

“Sekarang status saya juga masih sebagai “buruh”. Tapi bekerja sendiri secara freelance dan mengerjakan ukiran di rumah. Sudah berjalan sekitar 10 tahun,” ujarnya. Terkadang juga dapat pesanan kaligrafi secara online, tambahnya
Ada juga karya Miftah dan tim di masjid Pantai Kartini, khusus ukiran kaligrafi dan ornamen Arabic nya dan juga mihrab di masjid Pancasila Perumnas Tahunan Jepara
Ia juga mengaku, pernah mengerjakan kaligrafi yang dipesan oleh seorang pengusaha dari Yogyakarta yang minta dibuatkan kaligrafi penggalan surah Albaqarah dengan ukuran sekitar 2 meter. “Menurut beliau itu pesanan dari keluarga Cendana untuk hiasan di makam Pak Harto, mantan Presiden RI,” kenangnya. Pernah juga ada pesanan kaligrafi dan di kirim ke Dubai ukuran 80 cm sebanyak 20 pcs, tambahnya.

Harapan Miftah
Ia juga menyinggung kondisi perajin ukir Jepara. “ Ada banyak faktor yang menyebabkan banyak perajin ukir yang kemudian meninggalkan ukir sebagai budaya leluhurnya. Utamanya karena faktor ekonomi,” ungkapnya.
Harapannya karena seni ukir adalah icon Kota Jepara, pemerintah dan para pemangku kepentingan lain bersedia memperhatikan dengan serius pelestarian seni ukir dan juga kesejahteraan pengukirnya.”Dengan demikian seni ukir dapat terus lestari di Bumi Kartini karena kita terus bersedia dengan setia menjaganya,” pungkasnya
Hadepe













