blank
Tari Kethek Ogleng telah berkembang di Wonogiri sejak zaman pra-Kemerdekaan RI. Mengambil latar belakang episode Kisah Panji yang hidup pada Kerajaan Kediri.(SB/Bambang Pur)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Kethek Ogleng, merupakan kesenian tradisional khas yang sama-sama diklaim milik Kabupaten Wonogiri (Jateng) dan Kabupaten Pacitan (Jatim). Dua kabupaten bertetangga tapi beda provinsi, masing-masing memiliki argumentasi dengan alasan yang sama-sama kuat.

Kabupaten Pacitan, menyatakan, Kethek Ogleng berasal dari Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan. Seni tari yang gerakannya menirukan ulah kera ini, diciptakan oleh (Alm) Sutiman pada Tahun 1962 (tutup usia pada umur 76 tahun).

Sejarah dan perkembangan Kethek Ogleng dituliskan dalam Repository (penyimpanan data digital) Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Pacitan, dengan judul Gerakan Pokok Seni Kethek Ogleng (ditulis Agoes Hendriyanto dkk).

Kethek Ogleng, digabungkan dengan tim karawitan Desa Tokawi. Sutiman, tampil menari diiringi dendang tembang (lagu) yang dinyanyikan Pesinden Nyi Rinem. Hingga akhirnya. pertunjukan Kethek Ogleng tampil di sejumlah acara formal maupun non formal. Pada Tahun 1972, Kethek Ogleng dijadikan tarian resmi penyambutan tamu di Pendapa Kabupaten Pacitan.

Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Wonogiri Drs Sriyanto MM, menyatakan, sejak Tanggal 10 Oktober 2018, Kethek Ogleng Wonogiri, Jawa Tengah, telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Legalitas ini, diberikan oleh Menteri Dikbud RI Prof Dr Muhadjir Effendy.

Budayawan Jawa peraih Anugerah Bintang Budaya, Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM, menegaskan, Kethek Ogleng merupakan tari tradisional khas Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. ”Itu merupakan kesenian rakyat khas Wonogiri, peninggalan nenek moyang, yang eksis sejak sebelum Kemerdekaan Indonesia. Mewaris lestari secara turun menurun, sebagaimana kesenian Wayang Kulit, Ketoprak, Srandul, Ludruk dan Lerok,” jelasnya.

Monako

Pranoto yang Abdi Dalem Keraton Kasunan Surakarta dan mantan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Wonogiri, menegaskan, Wonogiri harus kukuh dalam menyatakan bahwa Kethek Ogleng merupakan kesenian Khas Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. Sikap kukuh ini, harus ditunjukkan layaknya Bangsa Indonesia dalam menyikapi klaim Negara Monako tentang Bendera Negara yang sama-sama memiliki warna Merah Putih.

blank
Tanggal 10 Oktober 2018, Mendikbud Prof Dr Muhadjir Effendy, telah mengeluarkan sertifikat yang menyatakan Kethek Ogleng Wonogiri Provinsi Jawa Tengah, sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.(Dok.Dikbud Wonogiri)

Dasar Bangsa Indonesia bersikukuh, karena Merah Putih memiliki akar sejarah yang panjang. Itu telah ada sejak dari era Kerajaan Majapahit, yang mempunyai Bendera Gula Klapa. Yakni warna gula (merah) dan Klapa atau Kelapa (putih).

Demikian halnya dengan Kethek Ogleng, yang baru sejak Tahun 1972 diangkat menjadi tarian resmi penyambutan tamu di Pendapa Pacitan Jatim. Wonogiri, telah lebih dulu melakukan, yakni sejak kepemimpinan Bupati Wonogiri R Samino (1967-1974), Kethek Ogleng telah diangkat menjadi tarian resmi penyambutan tamu yang datang ke Pendapa Kabupaten Wonogiri.

Adalah Samidjo (Alm) yang sejak Kepemimpinan Bupati Wonogiri R Samino, dipercaya menjadi penari Kethek Ogleng untuk penyambutan resmi tamu yang datang ke Kabupaten Wonogiri. Sebagai penari Kethek Ogleng legendaris, Samidjo, senantiasa aktif menari pada era kepemimpinan 7 bupati. Yakni sejak Bupati R Samino, KRMH Soemoharmoyo, Drs Agoes Soemadi, R Soediarto, Drs Oemarsono, Drs Tjuk Susilo dan Begug Poernomosidi. Yakni dari Tahun 1967 sampai Tahun 2010.

Samidjo yang suka laku tirakat, pamornya sebagai penari Kethek Ogleng tidak tertandingi. Bila menari, sifat kemanusiaannya bagai sirna, berubah lincah menyajikan beragam gerak atraktif dan akrobatik, layaknya ulah satwa liar kera.

Itu dia lakukan, saat menari posisi menjungkir bergelantungan dengan cukup hanya mencantolkan satu kakinya. Juga hanya dengan mencantolkan dagu lehernya di tali yang dipancangkan pada ketinggian. Juga piawi dalam berjoget sambil memainkan pisau belati. Mahir menari dalam posisi bertengger di atas sandaran kursi, dengan membopong anak sambil memperagakan Induk Kera mencari kutu. Yang sesekali diselingi gerak gecul (jenaka) yang mendebarkan. Yakni saat memperagakan induk kera mencari kutu di atas sandaran kursi, posisinya dibuat akan roboh, yang itu membuat jerit teriak spontan para penonton, karena dibuat berdebar kaget.

Atau saat spontan mencomot seorang anak dari kerumunan penonton, untuk diajak menirukan gerak tariannya, yaitu melakukan koprol dan berguling-guling. Jejak tarian Kethek Ogleng Samidjo yang legendaris ini, kini diteruskan oleh Sukijo (Pegawai Dinas Pariwisata Wonogiri).(Bambang Pur)