
Orang atau siapa pun disebut mung melu-melu ditandai dengan beberapa ciri, antara lain bingung, mbingungi, atau bahkan bingungan. Jika kita melihat ada pejabat kok setiap kali konsultasi, atau minta petunjuk; nah….. dialah contoh orang yang bisa jadi sedang bingung melaksanakan kegiatan.
Kok bingung? Lha ora ngerti karena ketika menyanggupi ikut program itu jan-jane durung siap lan durung mudheng. Bagaikan ratu tawon, begitu mengajak teman-teannya byunggggggg….. pergi, saat itu pula semua siap. Program-program sekarang ini tidak mustahil juga modelnya seperti itu: Hari ini dirapatkan dan diputuskan, besok pagi semua harus segera byungggggg……laksanakan.
Baca juga Taktik Pansos: Legawa
Di tengah byungggg…..seperti itu, pasti ada saja pihak yang banjur mung melu-melu. Meskipun begitu, nasehat berikut sebaiknya tetap perlu dijadikan acuan bagi para tawon. Sekali tawon, tetaplah sebagai tawon, dan jangan berubah menjadi lalat.
Tawon itu, meski cenderung byung-byung, selalu hinggap dan menghisap hal-hal atau benda yang bersih, wangi. Tawon bukan tipe “hinggap sana, hinggap sini” karena selalu berusaha menghisap yang serba wangi dan bersih agar menjadi bahan baku madu yang bagus.
Lain halnya dengan lalat, menclok sana, menclok sini, bersih oke, kotor pun tidak masalah. Apa yang dihasilkan lalat seraya menclok sana menclok sini? Sangat mungkin bibit penyakit.
Hai para tawon ………..berproduksilah madu ya, jangan penyakit.
JC Tukiman Tarunasayoga, Pengajar Pengembangan Masyarakat di Pascasarjana UNS Surakarta dan SCU Semarang.













