
“Lalu pelan-pelan kami ajak untuk berubah dengan menanam tanaman pohonan yang bermanfaat. Pada mulanya banyak juga yang menolak, tetapi kemudian berjalan. Dan sekarang hasilnya sudah kami rasakan,” kata Saman.
Pada awalnya mendapat bantuan 100.000 batang bibit pohon dari BPDAS Pemali Jratun. Saman mengaku pada awalnya memang berat, karena daerah pegunungan ini sulit air untuk kebutuhan tanaman.
“Di beberapa tempat kami tanami dulu dengan tanaman pisang, tujuannya agar di tempat tersebut ada air, karena tanaman pisang mengandung banyak air. Lalu kami tanami tanaman buah-buahan seperti petai, alpukat, jambu, nangka, mangga dan tumbuh baik,” kata Saman.
Hasilnya memang menggembirakan. Bahkan Petai hasil tanaman Kebun Bibit Rakyat (KBR) tahun 2019 sudah berhasil menembus pasar Jepang.
Saman menuturkan, KTH Sukobubuk Rejo telah melakukan pengiriman perdana petai ke Jepang pada tanggal 6 Maret 2024 melalui Bandara Juanda Surabaya.
Memang hasil ini tidak serta-merta. Ketika ada tawaran untuk mengekspor petai ke Jepang, pihaknya pun kemudian melakukan Upaya agar petai ini bisa tetap awet sampai ke tujuan.
“Kami vakum lalu dimasukkan ke freezer, ternyata mlembung. Lalu kami menghadirkan ahli packing, kemudian akhirnya kami harus menyediakan alat untuk blasting yang bentuknya persis freezer. Setelah di-blasting beberapa jam baru kita masukkan ke freezer. Dan pengirimannya juga pakai mobil khusus berpendingin,” tuturnya.
Petai produksi warganya memang sangat besar. Setelah petani dipetik, kemudian dikupas untuk diambil bijinya. “Untuk pengupasan petai ini kami serahkan pada ibu-ibu, dan mereka mendapatkan penghasilan dari pengupasan petai ini,” kata Saman.
Setelah dikupas, lalu disortir, kemudian ditiriskan. “Kemudian kami kemas dan ditimbang, proses berikutnya blaster lalu disimpan di freezer dan siap dikirim. Kami menghasilkan 100 kilogram biji petai siap proses per hari, dan bisa memenuhi kuota ekspor 500 kilogram per minggu,” kata Saman.
Untuk mengupas petai, ibu-ibu mendapatkan Rp 10 ribu per kilogram. “Sehari mereka bisa mengupas 6 sampai 7 kilogram, bisa menjadi tambahan penghasilan mereka,” kata Saman.
Selain petai, kata Saman, saat ini pihaknya menapat tawaran untuk mengekspor alpukat ke Timur Tengah. Dia mengaku produksi di wilayahnya masih belum mencukupi, dan akan diupayakan pemenuhannya dari luar daerah.

Mengikuti Perkembangan TI
Meski berada di desa pegunungan, tetapi warga tetap mengikuti perkembangan teknologi. Produk buah yang melimpah, tidak hanya dijual secara tradisional dibawa ke pasar atau diambil oleh tengkulak.
“Warga kami anak-anak muda sudah menjual produk buah ini secara online. Mereka mengirim pesanan aneka buah sehari sekurangnya satu pikap aneka buah dari desa kami terjual,” tutur Saman.













