blank
Prof Dr Hartuti Purnaweni, salah satu tim juri usulan penerima Kalpataru memetika tarong di lahan yang dulu gundul di Sukbubuk. Foto: R. Widiyartono

Pengurus KTH Sukobubuk Rejo bersama tim BPDAS Pemali-Juwana, perwakilan ari dinas terkait dan pihak-pihak yang punya kepedulian mengenai konservasi lingkungan menyambut kedatangan tim verifikasi lapangan dari DLHK Provinsi Jateng, Senin 21 April 2025 lalu.

Tim penilai dari DLHK Provinsi Jateng adalah Prof Dr Hartuti Purnaweni, MPA (guru besar tata lingkungan UNDIP), Wahyuni Anindya (DLHK Provinsi Jateng), dan R. Widiyartono (pengurus PWI Jateng/wartawan SuaraBaru.Id).

Untuk menuju Desa Sukobubuk ini tidak terlalu sulit. Dari arah Semarang, menjelang masuk kota Pati kita akan melihat patung ikan dari besi. Nah, dari sini maju sedikit lalu belok kiri.

Memang ada ruang jalan menuju desa ini yang kurang baik. Tetapi mobil masih bisa terus melaju. Kebun tebu di kiri-kanan, kemudian kebun warga kita lewati. Yang menarik, banyak sekali tanaman petai di lahan ini.

Sampai di Sukobubuk, tim diterima di kantor sekretariat KTH Sukobubuk Rejo yang sangat representatif. Tampak Ketua KTH Sukobubuk Rejo, Saman SH, MH yang juga Kades setempat bersama pengurus KTH, tim dari BP DAS Pemali Juana, dan dinas terkait dari Kabupaten Pati.

Muhammad Fatahillah dari BPDAS Pemali Jratun mengungkapkan, alasan pengusulan KTH Sukobubuk Rejo sebagai penyelamat lingkungan. Dituturkan, sejak 2018 kelompok ini mulai melakukan rehabilitasi hutan dan lahan pada lahan perhutanan sosial.

“Saat itu tutupan lahan Pegunungan Patiayam gundul dan hanya berisi tanaman semusimjagung, ketela, kacang, pisang dan sejenisnya. Kelompok ini mulai menanam dengan pola agroforestry,” ujar  Fattahillah.

blank
Ketua KTH Sukobubuk menunjukkan alat “blaster” petani yang mirip dengan freezer, yang tersedia di lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Foto: R. Widiyartono

KTH Sukobubuk Rejo secara swadaya dan bantuan BPDAS Pemali Jratun mulai menanam tanaman kayu-kayuan seperti sengon dan balsa. Kemudian tanaman yang tergolong MPTS (Multipurpose Trees Species) atau jenis tanaman pohon yang memiliki berbagai kegunaan dan manfaat bagi manusia dan lingkungan seperti petai, jambu, mangga, durian, nangka, kedondong.

Menurut Fattah, Upaya ini berhasil memperbaiki tutupan lahan dari pertanian semusim menjadi agroforestry seluas 700 hektar dari 2018 sampai 2024. “Dampaknya adalah mengurangi longsor dan berkurangnya aliran permukaan. Kemudian amsyarakat setempat juga mendapatkan manfaat darihasil kayu sengon, balsa, dan buah-buahan,” ujar Fattah.

Ekspor Petai

Hal itu dibenarkan oleh Kepala Desa Sukobubuk, Saman, yang juga Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Sukobubuk Rejo. Warganya yang 99 persen petani dan pekebun sebelumnya memang terbiasa menanam tanaman semusim.