NAMA Patiayam sudah sangat dikenal, terutama di bidang arkeologi. Di kawasan ini ditemukan fosil-fosil binatang purba seperti gading gajah purba (stegodon), tengkorak dan gigi manusia purban, banteng, dan sebagainya.
Tetapi kita tidak akan bicara soal fosil dan benda arkeologi lainnya. Kita akan bicara tentang kawasan Pegunungan Patiayam di Kecamatan Margorejo, Pati, tepatnya di Desa Sukobubuk.
Kawasan ini sekitar 10 tahun lalu masih merupakan pegunungan dengan kawasan hutan yang gundul.
“Kerusakan hutan terjadi sejak terjadinya reformasi pada tahun 1988. Saat itu warga dengan bebasnya menebangi pohon hutan seperti jati dan tanam hutan lainnya,” tutur Kades Sukobubuk Saman, S.H., M.H.
Kini kawasan tersebut sudah menghijau dengan aneka tanaman seperti mangga, sengon, balsa, nangka, alpukat, ambu, durian, dan petai.
Dan, tanaman tersebut mampu mengubah kawasan gundul kita menjadi hijau. Kerusakan lingkungan yang berlangsung sak masa reformasi pelan-pelan pulih kembali.

Bukan hanya lingkungan di kawasan itu yang pulih tetapi tanaman yang tumbuh tersebut juga memberikan dampak perekonomian yang membaik dari warganya.
Diusulkan Penghargaan Kalpataru
Hal inilah yang menjadikan Balai Pengelola Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Pemali Jratun, Kementerian Kehutanan mengusulkan Kelompok Tani Hutan (KTH) Sukobubuk Rejo untuk penghargaan Kalpataru kategori Penyelamat Lingkungan ke Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jateng.













