
Dana CSR
Ketua Karang Taruna Selomerto, Ahmad Gunawan Wibisono menyebut patung biawak tersebut memiliki ukuran 7 meter. Patung tersebut seperti sedang memanjat dan nangkring di atas tiang bangunan sebagai penyangga.
“Pembuatan patung ini merupakan gagasan dari Karang Taruna usai membuat kegiatan berkaitan lingkungan hidup. Di mana hewan biawak banyak dijumpai di Desa Krasak Selomerto sejak dulu hingga saat ini,” katanya.
Disebutkan, patung biawak setinggi 7 meter itu awalnya dibuat pengurus Karang Taruna Selomerto bersama Karang Taruna Desa Krasak membuat acara lingkungan hidup di daerahnya.
“Dari situ muncul gagasan untuk membuat patung yang ikonik. Karena dari dulu di sini itu banyak hewan biawak. Jadi akhirnya kami membuat patung biawak ini,” katanya, Selasa (22/4/2025).
Adapun proses pembuatan patung tersebut, imbuhnya, dilakukan hanya 1,5 bulan oleh seniman asal Wonosobo. Saat ini patung biawak tersebut belum selesai 100 persen. Nantinya akan dibuatkan taman di sekitar lokasi patung biawak tersebut.
“Untuk proses pembuatannya sekitar 1,5 bulan, tapi ini sebenarnya belum selesai, nanti mau dibuatkan taman. Kalau yang membuat itu seniman asli orang Wonosobo,” ungkap dia.
Perihal anggaran pembuatan patung, dia mengaku tidak tahu pasti. Pihaknya hanya penerima manfaat dan anggaran merupakan dari Pemkab Wonosobo. Pengurus Karang Taruna dan seniman yang membuat tinggal mendesain tidak menyediakan anggaran.
“Kalau anggaran tepatnya saya tidak tahu. Setahu saya ini dari CSR lewat Pemkab Wonosobo. Saya tidak tahu setelah diunggah di media sosial kok keberadaan patung Biawak menjadi viral seperti saat ini,” akunya.
Kades Krasak Selomerto Supinah membantah anggaran pembuatan patung biawak menggunakan Dana Desa. Anggaran pembuatan patung merupakan dana CSR dari Pemkab Wonosobo.
“Di media sosial memang disebutkan menggunakan Dana Desa itu tidak benar. Itu dari CSR, jadi pemuda Karang Taruna di sini mengajukan ke Pemkab Wonosobo dan dicarikan dana CSR,” ujarnya.
Namun demikian Kades Krasak mengaku bangga dengan adanya patung biawak di desanya. Pasalnya biawak sudah menjadi identitas desa termasuk asal muasal dinamakan Desa Krasak juga berhubungan dengan biawak.
“Saya bangga sekali ada patung biawak, karena biawak ini menjadi ikon dari desa kami. Di mana nama Desa Krasak adalah karena dulu sering terdengar suara krasak-krasak saat biawak lewat,” katanya.
Muharno Zarka













