blank
Noor Nailie Azzat, S.T., M.T

Oleh: Noor Nailie Azzat, S.T., M.T

JEPARA (SUARABARU.ID)- Indonesia memiliki mimpi besar untuk menjadi negara emas pada tahun 2045, dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) menjadi salah satu “the golden ticket” menuju prestasi tersebut. Sebagai salah satu bagian mata rantai pasok industri UMKM bukan hanya sekadar bisnis, bahkan UMKM telah menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia dengan kontribusinya sebesar 60,5% terhadap PDB Nasional.

Hingga tahun 2022 jumlah UMKM yang terdaftar pada platform pemerintah yang diluncurkan tahun 2021 One Single Submission (OSS) berjumlah 8,71 juta dan diperkirakan akan bertambah 10 juta pada akhir tahun 2023.  Sementara tenaga kerja pada sektor UMKM ini menyerap 96,9% dari total tenaga kerja nasional dan kontribusi ekspor UMKM tercatat 14,37% tahun 2020, 15,69% tahun 2021 dan tahun 2024 diharapkan bisa meningkat sampai 17%.

Dalam siaran pers KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA SIARAN PERS HM.4.6/553/SET.M.EKON.3/10/2022 menyatakan beberapa tantangan UMKM ke depan antara lain inovasi dan teknologi, literasi digital, produktivitas, legalitas atau perizinan, pembiayaan, branding dan pemasaran, sumber daya manusia, standardisasi dan sertifikasi, pemerataan pembinaan, pelatihan, dan fasilitasi, serta basis data tunggal yang harus diatasi bersama oleh segenap stakeholders.

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memegang peran sentral dalam membawa Indonesia ke arah pembangunan berkelanjutan. Konsep pembangunan berkelanjutan atau sustainable development, dengan fokus pada triple bottom line atau 3 pilar economy/profit, envirotment/lingkungan, dan social/sumber daya manusia, menjadi landasan yang penting bagi UMKM untuk bisa terus bertahan sebagai salah satu penopang perekonomian Indonesia

Dilihat dari pilar pertama, UMKM memiliki kesempatan besar untuk berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dengan mengadopsi model bisnis integrasi lean, UMKM dapat meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi pemborosan, dan merampingkan proses produksi. Sehingga disampingi menguntungkan bisnis dalam hal profitabilitas, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi ekonomi secara keseluruhan.

Sementara itu, aspek lingkungan menjadi sorotan kedua. Green manufacturing dalam model bisnis UMKM berarti menerapkan teknologi dan praktik ramah lingkungan, mengurangi limbah, dan menggunakan sumber daya secara berkelanjutan. Dengan meminimalkan dampak ekologis, UMKM dapat menjadi pelopor dalam menjaga keberlanjutan bumi dan melestarikan lingkungan untuk generasi mendatang.

Tidak kalah pentingnya, pilar sosial atau sumber daya manusia. Sumber daya manusia (SDM) memainkan peran utama dalam kemajuan ekonomi suatu negara dan Indonesia memiliki potensi besar dengan SDM yang kreatif dan inovatif. Para pelaku UMKM perlu didorong untuk terus mengembangkan keterampilan dan pengetahuan mereka agar bisa bersaing di pasar global, UMKM dapat berperan sebagai penggerak utama peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitarnya. Dengan memberdayakan sumber daya manusia melalui pelatihan dan pemberdayaan, UMKM turut serta dalam menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan berdaya saing.

Model bisnis integrasi lean dan green manufacturing tidak hanya berkontribusi pada profitabilitas, tetapi juga mengukuhkan UMKM sebagai agen perubahan positif dalam pembangunan berkelanjutan. UMKM yang mampu menyelaraskan keuntungan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat, tidak hanya menciptakan bisnis yang sukses, tetapi juga berperan dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan secara menyeluruh. Dengan langkah-langkah praktis ini, UMKM menjadi pilar utama dalam mewujudkan visi Indonesia yang berkelanjutan.

Jadi, siapkah kita membangun UMKM yang lebih sustainable dan Indonesia yang lebih emas?

(Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor Rekayasa Industri UII Jogjakarta, sekaligus Dosen Teknik Industri UNISNU Jepara, tinggal di Jepara)