blank

Oleh : Indria Mustika, S,Pd, M.Pd

“Engkau bisa menjadi seperti mereka, tetapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu, karena hidup tidak berjalan mundur, dan tidak pula berada dimasa lalu”

Penggalan puisi Anak Anakmu karya Kahlil Gibran, penyair dari Lebanon ini menurut penulis bukan saja tepat menjadi renungan orang tua, tetapi juga tepat menjadi renungan saat para guru  menerapkan strategi  pembelajaran yang menyenangkan.

Strategi yang menjadi bagian penting dari Kurikulum Merdeka ini guru tidak lagi memaksakan pikirannya untuk diterapkan pada siswa-siswinya, tetapi membimbing mereka untuk menemukan  potensi diri dan mengembangkan susuai keistimewaan, keunikan, bakat dan minat yang dimiliki siswa hingga kelak mereka akan mandiri.

Karena itu dikembangkan pembelajaran berdiferensiasi untuk merespon kebutuhan murid dalam belajar yang bisa saja berbeda-beda meliputi kesiapan belajar, minat, bakat dan bahkan gaya belajar. Dengan demikian guru dapat memenuhi kebutuhan belajar siswa di kelasnya  yang sangat beragam.

Menurut penulis,  Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas sesuai karakteristik siswa untuk memenuhi kebutuhan belajar individu.

Keunikan dan Program Guru Penggerak

Sebagai guru produktif di  Program Studi Tata Busana SMKN 2 Jepara penulis  melihat kemampuan, kesiapan belajar, minat, bakat dan bahkan gaya belajar siswa yang berbeda. Bahkan minat dan bakat mereka terhadap dunia fashion. Ada yang ingin menjadi desainer busana namun tidak bisa menjahit, ingin membuka butik namun tidak dapat membuat desain busana dengan figuring manual, ingin menjadi pengusaha busana namun tidak senang belajar menggambar pola.

Keberagaman ini tentu harus disikapi dengan metode pengajaran yang dapat mencakup semua keberagaman tersebut. Pada modul yang saya pelajari di program guru penggerak ternyata memiliki keterkaitan dan urutan pemahaman yang berkesinambungan.

Materi pada modul pertama saat awal yaitu pemahaman tentang pengertian pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. Dengan pemahaman dasar tersebut akan dapat tertanam dalam hati. Kemudian pembelajaran pada modul berikutnya yaitu peran kita sebagai guru penggerak di kelas dan lingkungan sekolah dapat membimbing kita menguatkan keyakinan kita bahwa sebagai guru dan pemimpin pembelajaran akan dapat tergerak, mengarahkan, menggerakkan dan mengimplementasikan nilai-nilai dalam kehidupn pribadi dan komunitas kita yang lebih luas.

Pemahaman tentang peran kita sebagai guru diwujudkan dengan penyusunan visi yang implementatif di kelas dan lingkungan sekolah kita menunjukkan bahwa proses pengajaran dibutuhkan visi yang jelas sehingga langkah kita juga akan terarah dan terencana dengan baik.

Pemahaman konsep yang diwujudkan dalam visi pribadi diwujudkan dalam budaya positif yang disepakati bersama di kelas khususnya dan seluruh warga sekolah pada umumnya. Dengan budaya positif tentu akan dapat terbentuk pola proses pebelajaran yang dipahami bersama murid dan teman sejawat.

Keberagaman keinginan dan kemampuan murid akan dapat tertampung dalam budaya positif yang dimusyawarahkan bersama. Dengan demikian akan terbentuk suasana sekolah yang menyenangkan dan murid akan senang belajar di sekolah dengan suasana yang mereka ciptakan sendiri sesuai bakat dan minatnya.

Implementasi

Adapun cara penulis  mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi adalah membuat kelompok dengan tugas yang beragam sesuai dengan bakat dan minat siswa terhadap materi yang penulis  sampaikan.

Sebagi contoh saat mengerjakan proyek membuat blus wanita. Karena dalam satu kelas terdapat 36 siswa, kemudian penulis  bagi menjadi enam kelompok dengan anggota yang berdasarkan kemampuan bakat dan minat mereka.

Bagi siswa yang kemampuan menggambarnya lebih mendapatkan tugas menggambar desain blus. Sedangkan yang senang menggambar pola penulis  tugasi menggambar pola blus dan  yang senang menjahit saya  mendapatkan tugas menjahit blus sesuai desain yang dikerjakan oleh temannya pada bagian desain blus.

Sementara  bagi yang tidak suka menggambar ataupun menjahit mendapatkan  tugas sebagai pemasaran dan bidang promosi yaitu memperagakan blus yang mereka kerjakan bersama. Dengan demikian semua bakat dan minat anak terhadap kompetensi blus wanita dapat diterapkan.

Dengan cara seperti itu menurut penulis pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal.

Penulis adalah Guru SMKN 2 Jepara dan Peserta Calon Guru Penggerak Angkatan IX