blank
Siswa SMP negeri 40 Semarang sedang membuat ecobrik. Foto: Dok Ekopram

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Sebanyak 14,176 kilogram sisa-sisa plastik/plastik bekas diamankan oleh siswa-siswi SMPN 40 Kota Semarang agar tidak mencemari bumi. Hal tersebut dilakukan dalam kegiatan “Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)” bertema “ecobrick” (bata ramah lingkungan).

Kegiatan yang diikuti sekitar 240 siswa kelas VIII, dipandu Trainer Global Ecobrick Alliance (GEA), Dra. Eko Gustini Wardani Pramukawati, bersama Tim “Proklim Purwokeling BPI” RW.10 Purwoyoso Ngaliyan Kota Semarang, masing-masing Adhi Pradana Sakti, Hadi Susilo, Sulistyowati, Yathy Noorhayati, Rini Sukadarwati dan Roosmalia Fatmawati, .

Menurut Eko Pramukawati, panggilan akrab perempuan yang dalam keseharian sebagai Kasubag TU Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, bahwa ecobrick merupakan salah satu solusi yang mudah untuk mengelola sisa-sisa plastik.

Faktanya, hampir setiap orang “menghasilkan” plastik, karena merupakan bahan yang awet dan ulet, sehingga digunakan dalam berbagai hal.

Dari mulai kemasan makanan, bungkus pakaian, perkakas rumah tangga/kantor dan lain-lain, hampir semua mengandung bahan plastik. Yang memperihatinkan banyak orang kurang memahami, bahwa ketika plastik berserakan, dibuang, bahkan dibakar, maka tidak sebatas menjadi polusi, namun juga dapat meracuni tanah, air dan udara.

Bener dan Pener

Terkait hal tersebut Eko Pramukawati bersama Tim “Proklim Purwokeling BPI” antusias menyampaikan cara membuat ecobrick yang bener dan pener. Hal demikian diawali dengan memberikan pemahaman kepada siswa-siswi terkait kondisi plastik baik plastik keras maupun plastik lembut sebagai bahan ecobrick, harus dalam keadaan kering dan bersih.

Setelah itu plastik keras baru digunting kecil-kecil dan plastik lembut, cukup disobek-sobek. Dalam hal pemadatanpun cukup dengan menggunakan stik dari kayu bersih dan tumpul, sehingga tidak menyakiti plastik termasuk botol.

Dalam pengerjaannya, pembuatan ecobrick dilakukan secara berkelompok. Setiap tiga siswa/siswi membuat satu ecobrick. Hal tersebut dimaksudkan supaya semua siswa merasakan sensasi. Setidaknya mulai dari pembersihan botol dan plastiknya, serta cara menekan plastik supaya padat dan mampat.

blank
Botol=btol plastik bekas ini sudah diubah menjadi ekobrik. Foto: Dok Ekopram

Kemudian ditimbang untuk mendapatkan kepadatan minimal 0,33 volume botol. Dengan berkelompok kecil, masing-masing siswa bisa mengeksplorasi kemauan dan kemampuan serta merasakan sensasi membuat ecobrick sesuai standar GEA.

“Pemahaman dari diri pribadi itulah dan kemudian ditambah dengan bekerja secara kelompok/gotong royong, selaras prinsip utama P5, yaitu bersifat holistik kontekstual, berpusat pada peserta didik, serta eksploratif,” ujar Eko Gustini, aktivis Pramuk aini.

Selanjutnya masing-masing perwakilan dari masing-masing kelas dibagi dalam 3 (tiga) kelompok untuk merangkai ecobricik menjadi module/bentuk.

“Alhamdulillah ecobrick yang ada dapat dirangkai menjadi 3 bentuk/modules, masing-masing hexagon, triangle dan lego. Masih ada sekitar 25 ecobrick yang belum dirangkai, direncanakan akan dibagi masing-masing kelas untuk melengkapinya,” ujar Eko Gustini.

Melalui P5, tambahnya, maka pelatihan ecobrick yang bener dan pener sesuai standar GEA, Insya Allah terwujud nyata. Setidaknya tampak dari kegotongroyongan siswa dalam membentuk ecobrick, menjadi bangunan  yang bermanfaat.

wied