blank
Narasumber Wikan Sakarinto, ST.,M.Sc., Ph.D (kiri) dalam workshop pengembangan TEFA SMKN 1 Bangsri

JEPARA (SUARABARU.ID) – SMKN 1 Bangsri  sebagai sekolah unggulan ingin mengembangkan benar-benar mengembangkan  TEFA (Teaching Factory). Karena itu Kamis (19/10-2023) diselenggarakan Workshop Pemanfaatan Sarana dan Prasarana untuk pengelolaan TEFA dengan menghadirkan narasumber Wikan Sakarinto, ST.,M.Sc., Ph.D., mantan Dirjen Vokasi Kemendikbud dan  Ristek.

Kegiatan yang diselenggarakan di aula SMKN 1 Bangsri ini diikuti oleh seluruh Guru, Staff TU, dan  Ketua MKKS SMK Kabupaten Jepara. “Tujuan agar warga SMK N 1 Bangsri dapat wawasan tentang bagaimana membangun sebuah industri di lingkungan sekolah, dengan memaksimalkan potensi yang ada, baik dari SDM maupun sarana,”ujar Kepala SMKN 1 Bangsri Riyanto Dwi Utomo S.Kom.

Disamping itu menurut Riyanto Dwi Utomo workshop juga  bertujuan memberikan brainstorming untuk warga sekolah dan menyamakan persepsi agar TEFA di SMK N 1 Bangsri bisa berjalan dengan baik.

blank
Workshop Pemanfaatan Sarana dan Prasarana untuk pengelolaan TEFA SMKN 1 Bangsri dengan menghadirkan Narasumber Wikan Sakarinto, ST.,M.Sc., Ph.D

Sementara itu Wikan Sakarinto dalam paparannya menyebut semua warga sekolah perlu bersinergi untuk mewujudkan TEFA dengan rule yang dirancang sebaik dan sejelas mungkin. “Dengan demikian sekolah  bisa benar –  benar mengantarkan lulusannya siap kerja dan memiliki keterampilan yang memadai sesuai kompetensi keahlian masing masing,” ujar Wikan Sakarinto.

Tefa harus bisa memproduksi produk/jasa yang mendorong peserta didik berwirausaha. “Bukan sekadar mengembangkan bahan, tapi dapat disalurkan ke masyarakat hingga mendapat pengakuan,” ujarnya.

blank
Peserta Workshop Pemanfaatan Sarana dan Prasarana untuk pengelolaan TEFA dengan menghadirkan Narasumber Wikan Sakarinto, ST.,M.Sc., Ph.D

Karenanya, konsep pembelajaran berbasis produksi/jasa yang mengacu pada standar serta prosedur yang berlaku di industri ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan SMK yang kompeten dan memiliki skill wirausaha. Sehingga, hal tersebut menjadi jawaban dari tantangan zaman untuk membuka peluang kerja dan menjadi problem solver permasalahan pengangguran di Indonesia.

Tefa  harus bisa menarik dunia kerja untuk menghasilkan proyek bagi para peserta didik hingga mereka bisa mengaplikasikan sesuai kebutuhan industri. Selain itu, mereka juga bisa berupaya berkreasi dan berkolaborasi hingga menghasilkan usaha mandiri.

Menurut Wikan, dalam pengembangan Tefa bukan sekadar membeli alat dan membangun gedung, tapi juga terkait dengan upaya project base learning (PBL). Jadi, harus terus dilakukan diskusi dan ide-ide baru yang bisa dipecahkan bersama

Wikan Sakarinto berharap agar hasil tefa dapat ditunjukkan ke industri maupun masyarakat. “Tidak hanya menghasilkan produk, tapi juga dampaknya. Karenanya perlu target dan sasaran yang jelasdan terukur,” tegasnya.

Hadepe – Indria Mustika