blank
Lestari Moerdijat saat menyampaikan orasi ilmiah, dalam rangka Dies Natalis ke-60 Fakultas Ekonomi Bisnis, Unsoed, di Purwokerto, Rabu (11/10/2023). Foto: lmc

SEMARANG (SUARABARU.ID)– Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat mengatakan, peran perguruan tinggi sangat krusial untuk mencetak sumber daya manusia yang memiliki kemampuan adaptif dan kolaboratif, untuk melahirkan kepemimpinan masa depan yang memiliki passion, dan memimpin dengan hati.

”Dalam satu dekade terakhir, para pakar manajemen kerap merekomendasikan para eksekutif, untuk memulai pekerjaannya dengan passion,” kata Lestari saat menyampaikan orasi ilmiah bertema ‘Perform with Passion’, dalam rangka Dies Natalis ke-60 Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Jenderal Soedirman, di Purwokerto, Rabu (11/10/2023).

Sejatinya, ujar Lestari, di dunia ekonomi dan bisnis, passion dipercaya menghasilkan daya dorong untuk menciptakan engagement, dan memampukan seseorang membuat performa kerja secara maksimal.

BACA JUGA: Deklarasikan Prabowo-Gibran, Partai Gerindra Kudus Optimistis Pilpres Satu Putaran

Bila mengikuti perkembangan hari ini, bagaimana organisasi itu dikelola, baik itu organisasi pendidikan, korporasi maupun lembaga-lembaga di pemerintahan, menurut Rerie, sapaan akrab Lestari, diperlukan sebuah kesinambungan. Tidak hanya kemampuan kepemimpinan, tetapi bagaimana melahirkan pemimpin yang mampu memimpin dengan hati.

”Kesuksesan seorang pemimpin, ditandai lahirnya pemimpin baru yang mampu mengemban tugas dan tantangan di masa berikutnya,” imbuhnya.

Selain itu, ungkap Rerie yang juga doktor bidang Ilmu Manajemen Universitas Pelita Harapan itu, juga diperlukan optimalisasi sumber daya, agar organisasi memliki daya ungkit dan daya dorong, yang menciptakan hubungan baik antara atasan dan bawahan, dengan hasil akhir capaian yang merepresentasikan keinginan bersama.

BACA JUGA: Rumanis dan Simapres, Antarkan ke Penilaian IGA Tingkat Nasional

Apalagi, jelas Rerie yang juga legislator dari Dapil II Jawa Tengah itu, saat ini dunia berhadapan dengan ketidakpastian yang disebabkan oleh perang, perubahan teknologi, harga komoditas dan energi.

Rerie berpendapat, untuk menghadapi kondisi itu dunia bisnis, perlu mengadopsi manajemen yang mampu melahirkan kepemimpin yang bekerja dengan hati. Selain itu, seorang pemimpin harus qualified.

”Tahu yang dia tahu, tahu yang dia tidak tahu, dan tidak sok tahu bila tidak tahu,” ujarnya.

BACA JUGA: Mahasiswa FBS UKSW Sabet Juara Lomba Piano di A Piano Concerto Series Classical Festival 2023

Pemimpin, tegas dia, perlu menghimpun para ahli yang bekerja dalam satu tim, untuk menutup ketidaktahuan sang pemimpin. Diperlukan kemampuan adaptif dan kolaboratif dalam kerja sama tim itu.

Dalam organisasi yang dinamis, tegas dia, passion menjadi kunci agar organisasi mampu berjalan menghadapi tantangan dan beradaptasi, sehingga memiliki kemampuan untuk bertahan.

Kemampuan bertahan suatu organisasi, ujar Rerie, bisa diwujudkan melalui model pembelajaran dengan lima disiplin yang diperkenalkan Peter Senge, yaitu sistem berpikir (system thinking), penguasaan diri (personal mastery), model mental (mental model), pembelajaran berbasis kelompok (team learning), dan visi bersama (shared vision).

Menurut Rerie, civitas academica sebagai agen pengetahuan, dihadapkan pada tantangan dan tuntutan pilihan rasional atas optimalisasi waktu, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia, untuk melahirkan para calon pemimpin masa depan yang dapat menjalankan kepemimipinan dengan hati.

Riyan