blank
Kylian Mbappe. Foto: psg

blankOleh: Amir Machmud NS

// tak semudah itu memilih/ tak semudah pula memastikan/ saat mempertimbangkan harapan/ saat terusik kesetiaan/ tak salah pula bukan ketika ia punya impian dan ambisi?//
(Sajak “Nurani Transfer”, 2023)

HARAPAN, kesetiaan, dan ambisi.

Tiga kata ini menjadi nilai-nilai yang mengapung di tengah lalu lintas kepindahan pemain dari satu klub ke klub lainnya.

Tetap ada nurani di balik profesionalitas industri sepak bola yang sekapitalis apa pun.

Bermain di entitas klub yang memiliki “status” lebih baik — dalam tradisi juara dan kesejahteraan — , bukankah itu impian setiap pemain manapun?

Masa depan, kesejahteraan, “harga”, dan kemonceran adalah struktur mindset dalam impian perjalanan karier pemain profesional.

Kesetiaan, bukankah itu pancaran nilai nurani? Mobilitas kepindahan, peluang hijrah, dan keniscayaan berganti jersey punya pernak-pernik warna di tengah keriuhan industri kompetisi.

Memastikan masa depan tak jarang menimbulkan kegamangan. Akankah bertahan di klub lama, dengan risiko stagnasi mimpi? Memilih klub baru untuk harapan meraih trofi? Mengejar gaji yang lebih menjanjikan, atau apa lagi?

Terkadang, pemain yang telah menjadi bendera klub dianggap tidak punya loyalitas ketika memutuskan pindah klub. Ada contoh ikon langka yang hingga pensiun tak pernah berpaling, seperti Franco Baresi, Paolo Maldini, Carles Puyol, Francesco Totti, atau Xavi Hernandez.

Sepak bola juga mencatat sejumlah “kutu loncat”. Roberto Baggio, Juergen Klinsmann, Ronaldo Luiz Nazario, Luis Figo, Zlatan Ibrahimovic, hingga Cristiano Ronaldo, Romelu Lukaku, dan banyak lagi lainnya.

Di balik itu, tak sedikit yang menjadi sasaran bully, karena menimpakan kegagalan beradaptasi akibat ketidakcocokan ekosistem; lalu merasa menemukan “rumah yang nyaman” di klub barunya. Antonio Cassano, Mario Balotelli, dan Romelu Lukaku adalah contoh pemain jenis ini. Kini munucul Joao Felix, pemain Atletico Madrid yang tiba-tiba menyatakan impian bermain untuk Barcelona.

Sulit untuk memastikan, apakah ketidakmaksimalan performa di sebuah klub benar-benar karena “tidak cocok” dengan atmosfer ekosistem — terkait taktik bermain atau relasi personal –, atau lantaran mereka memang tipikal “pemain yang sulit beradaptasi”?

Ada pula kategori yang “layak dikasihani”. Dia ingin bertahan, namun pihak klub sudah tidak menghendaki, seperti kasus aktual dua pemain Manchester United, David de Gea dan Harry Maguire.

Konsiderans Manusiawi
Musim 2023-2024 ini, lalu lintas transfer pemain mengetengahkan kompleksitas elemen-elemen rasa dan hati di balik industri kompetisi.

Keputusan Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Karim Benzema, N’Golo Kante, Harry Kane, Riyad Mahrez, Declan Rice, Kai Havertz, Ilkay Guendogan, atau Andre Onana adalah sebagian dari contoh para bintang yang punya konsiderans pindah “rumah”.

Ingin hijrah ke klub yang berstatus lebih baik dengan berharap trofi? Harry Kane, dari Tottenham Hotspur ke Bayern Muenchen contohnya.

Untuk menjadi kunci perubahan performa klub, seperti kepindahan Declan Rice dari West Ham atau Kai Havertz dari Chelsea ke Arsenal. Lalu, atas nama kenyamanan di pengujung karier, simaklah lika-liku hijrah Lionel Messi dari Paris St Germain ke Inter Miami.

Berbeda dari transfer Ronaldo ke Al Nassr di Liga Arab Saudi. CR7 memilih liga yang tidak terlalu kompetitif, dengan bayaran selangit. Elemen lompatan gaji, yang jauh lebih tinggi ditawarkan kepada Messi dari Al Hilal, tidak menggoyahkan La Pulga, yang lebih memilih berlabuh di Liga Amerika Utara.

Sedangkan Benzema, Riyad Mahrez, atau N’Golo Kante, juga kemungkinan Sadio Mane, menerima pinangan klub-klub Saudi antara lain atas pertimbangan gaji sekaligus kenyamanan hidup.

Kasus Mbappe
“Pangeran” PSG, Kylian Mbappe, menjadi sorotan khusus. Santer diisukan pindah ke Real Madrid, dia dinilai kurang menghargai manajemen PSG, sehingga menimbulkan kontraksi relasi.

Dia memang “raja” di Parc des Princes, tetapi ketika PSG belum mentas meraih trofi Eropa, “lokalitas” Mbappe akan sulit menyejajarkannya dengan para bintang utama. Padahal, kelas Mbappe masuk dalam skema peluang menjadi peraih Ballon d’Or.

Dari musim ke musim, isu kepindahan selalu memosisikan Mbappe dalam pusaran pergulatan nilai: harapan, kesetiaan, dan ambisi.

Padahal masa depan pemain adalah hak, dalam visi apa pun. Boleh atas nama gaji, kenyamanan, boleh pula ambisi. Semoncer apa pun penampilan seorang bintang, ketika klub tak memberi harapan meraih trofi, seimbangkah ambisi profesional dengan realitas kemampuannya?

Pada sisi lain, rasa dan hati menjadi elemen yang tak bisa disepelekan dalam menautkan chemistry pemain dengan lingkungannya.

Amir Machmud NS; wartawan suarabaru.id dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah