blank
Rais 'Aam PBNU, KH. Miftachul Akhyar. (Foto:NUonline).

JEPARA (SUARABARU.ID)- Malam puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Masalikil Huda yang ke-92 akan digelar pada 15 Mei 2023 mendatang. Bertempat di halaman Masalikil Huda, puncak peringatan yayasan yang berusia hampir 1 Abad ini rencananya akan dihadiri oleh Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Miftachul Achyar dan Habib Muhammad bin Salim.

Acara yang bertajuk “Masalikil Huda Bersholawat” ini adalah salah satu rangkaian kegiatan harlah dan haul yang dimulai pada 4 Mei 2023 lalu. Yang sebelumnya diisi beberapa kegiatan lomba antar sekolahan se-Kabupaten Jepara.

Ketua Panitia Harlah, H. Muhlisin, S. Ag, melalui pesan singkat mengatakan, bahwa Harlah ini berbeda dengan harlah-harlah sebelumnya. “Momen harlah ini sangat spesial, karena selain masih di bulan Syawal, Insyaallah Rais ‘Aam Kiai Miftachul Akhyar bisa menghadiri puncak harlah untuk memberikan tausiyah”, terang Muhlisin.

blank
Rangkaian Acara Harlah dan Haul Masalikil Huda ke 92.

“Salah satu tema besar Masalikil Huda, yaitu merajut asa meraih tujuan bersama menuju Madrasah Masalikil Huda yg hebat dan bermartabat”, lanjut Muhlisin yang juga menjabat sebagai Kepala Aliyah Masalikil Huda.

“Semoga Masalikil Huda menjadi lembaga pendidikan terbaik di Jepara, baik prestasinya maupun sarana prasaranya. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada semua pihak, yg telah membantu mensukseskan acara harlah ini, terutama Bapak H. Adri Abdurrahman selaku Ketua Umum YPI Masalikil Huda”, imbuh Muhlisin.

Sejarah singkat Masalikil Huda

Sejarah panjang berdirinya Madarasah Masalikil Huda yang hampir berusia satu abad (15 Mei 1931), tidak bisa dilepaskan dari peran besar Kiai Abu Syuja’. Dari Madrasah Masalikil Huda inilah lahir para kiai, ulama, dan masyayikh. Kiai Abu Syuja’ merintis lembaga pendidikan di tahun 1928 (dua tahun setelah berdirinya Nahdlatul Ulama’ 1926). Namun, sejarah mencatat ditetapkannya nama menjadi Madrasah Masalikil Huda terjadi pada tahun 15 Mei 1931.

Rentang waktu 92 tahun (1931-2023) merupakan waktu yang cukup panjang bagi Madrasah Masalikil Huda dapat bertahan, dan tetap berdiri hingga sekarang. Berdiri sejak zaman kolonial Pemerintah Hindia Belanda, Penjajahan Jepang, Madrasah Masalikil Huda mampu melewati dinamika perubahan zaman hingga menjadi salah satu lembaga pendidikan tertua di Jepara.

Selama 25 tahun (1898-1923) Abu Syuja’ muda telah menjelajah, mengembara serta menimba ilmu kepada para kiai-kiai sepuh di tanah Jawa. 25 tahun merupakan waktu yang cukup panjang bagi seorang santri muda asal Desa Tahunan, Kabupaten Jepara ini, sebelum memutuskan untuk mendirikan Madrasah Masalikil Huda. Tercatat, tiga pondok pesantren yang mempunyai tradisi keilmuan agama Islam yang sangat tinggi pernah disinggahi Abu Syuja’ muda.

Pada tahun 1898, Saat usia remaja, tepatnya usia 15 tahun, Abu Syuja’ dikirim oleh ayahnya, Mbah Sarjono ke Pondok Pesantren Bulu Manis, Tayu Wetan. Salah satu pondok yang diasuh oleh kiai sepuh, KH. Sholeh Amin. Sholeh Amin bin KHR Asnawi adalah ayah dari KH. Mujib Sholeh dan KH. M. Amin Sholeh pendiri Madrasah Aliyah Hasyim Asy’ari Bangsri, Jepara.

Tidak cukup dengan satu pondok pesantren, Setelah menyelesaikan pendidikan sebagai santri di Bulu Manis Tayu Wetan, Abu Syuja’  muda melanjutkan pengembaraannya dalam menuntut  ilmu agama. Pilihan selanjutnya adalah Pondok Pesantren Darul Ulum, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur yang saat itu diasuh oleh Kiai Romly Tamim dan Kiai Dahlan Kholil

Sekembalinya dari Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang, Abu Syuja’ melanjutkan ke pondok pesantren di wilayah Jepara. Salah satu pondok pesantren tertua, yakni Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadi’in Balekambang, Nalumsari, Mayong, yang diasuh oleh Kiai Hasbullah Hazdiq. (Sumber: Sejarah Singkat Madrasah Masalikil Huda 2001).

ua