Dulu saya pernah mensugesti diri dan teman-teman dengan cara demikian. Ketika sedang galau, sedih, gelisah, pergilah ke tempat yang sepi dan dikenal angker. Maka rasa sedih dan takut itu secara bertahan bisa hilang. Terapi ini pada tahap awal bisa menghilangkan rasa takut. Terapi kuburan ini juga baik bagi anak-anak  penakut.

Waktu usia 13 tahun, sesekali saya diajak teman yang lebih besar untuk blusukan di kuburan pada malam hari. Pada usia 18 tahun saya sudah akrab dengan “dunia malam” bahkan saat libur sekolah dimanfaatkan untuk melakukan berbagai aktivitas pada malam hari dan seringnya mendatangi tempat-tempat yang dianggap wingit.

Termasuk yang sering kami lakukan membakar ketela, jagung pada malah hari, dan jika lokasinya di kuburan, kami memanfaatkan sisa-sisa patok kayu dari kuburan yang posisinya sudah rebah dan berceceran. Namun tidak tidak semua remaja berani melakukan itu karena ada keyakinan, sesuatu yang berasal dari kuburan itu kurang baik, mengundang sial, katanya!

Tentunya, semua itu tergantung hati masing-masing, jika waswas, dan saat itu bersamaan dengan sesuatu, misalnya ada keluarga yang sakit, orang kita itu senangnya mengaitkan dengan hal-hal yang mistis.

Merinding

Yang agak merinding itu ketika malam hari di kuburan nemu tikar pembungkus mayat yang tidak diikutkan mengubur. Padahal itu bisa diambil dan dimanfatkan untuk lesehan dengan teman-teman.