blank
Narimo, pria cacat dengan tinggi 90 Cm di rumahnya yang tidak layak huni (Foto: Supadi)

JEPARA (SUARABARU.ID) –  Walaupun pemerintah memiliki program perbaikan rumah tidak layak huni bagi keluarga tidak mampu, namun bagi Narimo (45), penduduk RT 06 RW  04 Desa Mindahan, Kecamatan  Batealit program itu jauh panggang dari api.

Anehnya Narimo selama ada bantuan BLT maupun PKH juga tidak pernah mendapatkan bantuan.  Beras Raskin juga tidak pernah. “Padahal fisiknya cacat, tidak bekerja, tidak punya rumah yang layak huni. Tapi yang kaya dan  punya mobil,  rumah nya mewah malah mendapatkan PKH,” ujar Supadi.

blank
Narimo berharap pemerintah bersedia membantu (Foto: Supadi)

Pria yang cacat dangan  tinggi badan hanya 90 Cm  yang memiliki dua orang anak ini seakan tak tersentuh program ini. Akibatnya, setiap musim penghujan tiba, ia harus mengungsi kerumah tetangganya agar tidak kehujanan saat tidur. Pasalmnya, genting rumah Naruimo tidak mampu lagi membendung air hujan.

Narimo semula pernah bekerja sebagai tukang sapu disebuah pabrik yang tidak jaug dari rumahnya. Namun karena ada pengurangan karyawan, ia kini tidak lagi bekerja.Semetara istrinya menjadi buruh ngampelas dengan gaji Rp. 30 ribu per hari.

Ia mengaku, sudah mencoba mengajukan bantuan ke berbagai instansi yang membidangi masalah tersebut termasuk ke Diserkrim tahun 2019. Namun tidak juga direalisir. Kini rumah Narimo yang berukuran 5×6 m benar-benar memprihatinkan.

Beruntung Narimo, walaupun dari pemerintah bantuan rumah tidak layak huni tidak juga didapat, ada sejumlah donatur yang membantu memperbaiki rumahnya. Ada tukang ojeg, buruh panggul,  anggota DPRD Helmy Thurmudy, paguyuban pedagang pasar Mindahan, petinggi Mindahan yang membantunya. Kini Narimo berharap, pemerintah mendengar  nestapa yang dialaminya.

Hadepe