blank
Pasien mengikuti cek gula darah secara gratis di Poliklinik USM Jl Soekarno-Hatta, Tlogosari, (Foto:News Pool USM)

SEMARANG (SUARABARU.ID)– Sebanyak 100 orang mengikuti pengecekan Gula Darah Sewaktu (GDS) secara gratis di Poliklinik Universitas Semarang (USM) Jl Soekarno-Hatta, Tlogosari pada 16-20 November 2022.

Kegiatan ini hasil kerja sama USM dan Kimia Farma dengan seluruh klinik di Indonesia yang berada di bawah naungan mereka untuk memperingati Hari Diabetes Sedunia (World Diabetes Day) setiap 14 November.

Dokter Poliklinik USM, Firman Firdaus mengatakan, gula darah bisa dari faktor keturunan dan gaya hidup. Pengecekan gula darah harus dilakukan sedari dini untuk mencegah penyakit lebih parah.

”Gula darah merupakan penyakit yang arahnya kemana-mana, dapat mengakibatkan stroke, kelumpuhan bahkan kematian,” katanya.

Dia mengatakan, dari kegiatan ini diketahui masyarakat cukup banyak yang memiliki penyakit gula darah. Rata-rata dari mereka berasal dari penyakit gula darah keturunan.

”Kalau sudah divonis dokter memiliki gula darah yang tinggi, pasien harus rutin medical check up dan wajib meminum obat setiap hari untuk mengontrol dibarengi makan yang sehat. Obat jalan, gaya hidup juga diubah,” tandasnya.

Menurutnya, aktivitas fisik dan konsumsi yang masuk ketubuh adalah hal yang paling berpengaruh dalam menyebabkan penyakit ini.

”Tak hanya gula pasir dan gula jawa yang menyebabkan gula darah, karbohidrat yang tak diolah juga bisa menjadi penyebabnya. Contoh, setelah sarapan kita kerja dibelakang meja, makan makanan yang manis, jarang berolahraga. Tenaga yang dimakan akan mengendap mengakibatkan kadar gula yang tinggi,” jelasnya.

Dia menghimbau masyarakat untuk selalu berolahraga, mengatur pola makan dan memakan makanan yang sehat.

”Aktivitas fisik yang cukup. Kalau kita hanya mencari waktu tidak akan ketemu. Ciptakan waktu olahraga sendiri. Bisa disiasati dengan parkir yang lebih jauh, naik tangga bukan lift,” imbuhnya.
Menurutnya, masyarakat tidak takut mengecek gula darah secara rutin.

”Banyak masyarakat yang masih takut, dengan alasan takut ketahuan. Kenapa takut? Justru kalau ketahuan mengidap gula darah, kita bisa antisipasi dari awal. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Tapi kalau ternyata hasilnya bagus maka tinggal melanjutkan gaya hidup yang sehat. Jangan makan sembarangan, kalori yang masuk sama dengan kalori yang keluar,” kata Firman.

Dia berharap, ke depan kegiatan serupa diadakan lagi untuk mengontrol dan menaikkan kesadaran masyarakat.

”Semoga ke depan tak hanya pengecekan gula darah, mungkin bisa diadakan lomba atau kegiatan semacam itu sehingga masyarakat tidak takut. Penyebab paling besar adalah rasa ketidaktahuan dan ketakutan masyarakat itu sendiri,” tandasnya.

Muhaimin